Mengenal Kelainan Empedu

8 Februari 2010 Artikel Kesehatan


Bilqis Anindya Passa sudah mulai menjalani persiapan sebelum melakukan operasi pencangkokan hati di Rumah Sakit Umum Pusat (RSUP) dr. Kariadi Semarang. Bayi berusia 17 bulan ini sebelumnya sudah terdiagnosis menderita Atresia bilier, kondisi di mana saluran empedu tidak terbentuk atau tidak berkembang dengan normal.
Putri kelahiran 20 Agustus 2008 dari pasangan Dewi Farida dan Donny Ardianta Passa ini telah menderita kelainan tersebut sejak berusia dua minggu. Untuk mengatasi gangguan ini, Bilqis harus menjalani operasi pencangkokan hati dengan biaya yang diperkirakan mencapai Rp1 miliar.

Apa itu Atresia bilier? Pada penderita gangguan ini, saluran empedu antara hati dan usus halus terhambat atau sama sekali tidak ada. Jika tidak terdeteksi dan tidak ditangani, kondisi ini akan memicu gagal hati. Penyebab pastinya belum diketahui.

Gangguan ini ditandai dengan warna kulit yang kekuningan. Gejala biasanya mulai jelas minggu pertama hingga minggu keenam setelah kelahiran. Selain warna kulit, penyakit ini juga ditandai dengan tinja yang berwarna kuning pucat, air seni berwarna pekat, pembengkakan perut serta pembesaran dan pengerasan hati (tidak terlalu jelas dengan mata telanjang).

Atresia bilier merupakan gangguan yang sangat jarang dijumpai. Sekitar satu dari 10 ribu bayi di Amerika terserang setiap tahunnya. Gangguan ini juga sedikit lebih banyak dijumpai pada perempuan dibandingkan anak laki-laki.

Dalam satu keluarga biasanya hanya satu dari pasangan kembar yang terserang atau hanya satu anak dari satu keluarga yang memilikinya. Orang Asia dan Afrika-Amerika lebih sering terkena dibandingkan orang Kaukasia. Gangguan ini dinyatakan tidak mempunyai hubungan dengan obat-obatan atau imunisasi yang diberikan sebelum atau selama kehamilan.

Jika intrahepatic biliary tree tidak terganggu, pasien biasanya ditangani dengan operasi kasai, operasi pembuatan saluran liver ke empedu. Jika tidak berhasil, pencangkokan atau transplantasi hati merupakan pilihan terakhir. Pengobatan ini dinyatakan 97 persen efektif.

Dalam kasus Bilqis, operasi kasai yang sudah dilakukan sebelumnya menunjukkan hasil yang kurang memuaskan. Karena itu, perlu dilakukan pencangkokan hati. Jadwal operasinya sendiri belum ditetapkan karena Bilqis masih harus memenuhi beberapa persyaratan, seperti menaikkan berat badan dari sekarang 7,8 kg menjadi 9 kg. n MI/M-1

Sumber: Lampungpost.Com