Mengenal Alat Penolong Persalinan Normal

29 Januari 2010 Artikel Kesehatan


KOMPAS.com Karena berbagai hal, bisa saja terjadi hambatan dalam proses melahirkan sehingga diperlukan tindakan bantuan. Beberapa kondisi yang membuat proses kelahiran alamiah memerlukan bantuan antara lain lemahnya kontraksi dan ibu hamil tak kuat lagi mengejan.

Menghadapi keadaan seperti itu, penolong persalinan tentu akan melakukan tindakan bantuan. Salah satunya dengan memakai alat bantu persalinan yang dikenal dengan forsep serta vakum.

1. Forsep atau tang
Forsep berbentuk mirip tang. Alat ini menyerupai sepasang sendok dari logam yang saling dikaitkan di bagian tengah (mirip gunting). Bagian depan sendok yang dinamakan daun biasanya berlubang dan mempunyai lengkungan kepala (cephalic curve) yang sesuai dengan bentuk kepala janin serta lengkungan panggul (pelvic curve) yang sesuai dengan bentuk rongga panggul ibu melahirkan.

Alat ini tidak saja berfungsi untuk menarik kepala janin, tetapi juga digunakan untuk memutar kepala janin bila janin belum berada pada posisi yang tepat untuk dilahirkan. Pemakaian forsep, yang ditemukan dr Peter Chamberlain, sudah sangat populer di seluruh dunia.

Sebelum dokter memutuskan menggunakan bantuan forsep, harus ada alasan kuat yang mendukungnya, salah satunya adalah kontraksi yang datang tidak beraturan atau konstraksi yang terjadi sangat lemah. Faktor lain adalah bila calon ibu merasa kelelahan atau posisi kepala bayi tidak berputar dengan tepat.

2. Vakum
Kelebihan alat bantu ini adalah tidak menimbulkan tekanan pada kepala janin serta tidak menyita banyak tempat di dalam rongga panggul. Sama halnya dengan penggunaan forsep, alat vakum hanya digunakan pada waktu posisi janin sudah berada di dalam rongga panggul.

Alat bantu vakum berbentuk seperti corong dari metal yang akan ditempelkan di bagian belakang kepala. Corong ini akan disambung dengan pipa karet yang fungsinya mengisap udara. Secara bertahap, udara akan diisap sehingga corong menempel erat di kulit kepala bayi. Lalu, bayi akan ditarik perlahan-lahan bersamaan dengan datangnya kontraksi.

Indikasi digunakannya vakum sebenarnya sama dengan penggunaan forsep, hanya saja vakum digunakan bila pembukaan minimal 8 cm dan ibu masih kuat mengejan meski tidak dengan kekuatan penuh. Tindakan vakum tidak disarankan untuk persalinan bayi prematur.

Bayi yang lahir dengan tindakan vakum akan mengalami sedikit benjolan atau kelainan bentuk kepala yang disebut kaput atau sefalhematom. Bentuk ini tidak berbahaya dan akan hilang sendiri secara spontan dalam dua minggu.

sumber: kompas.com