Artikel Kesehatan
16 September 2009

Mengatasi Anak Sulit Makan

SAAT ada sebagian anak mengalami kegemukan, ada sebagian lagi yang terlalu kurus bahkan cenderung kekurangan gizi. Penyebab kekurusan pada anak beragam. Di antaranya adalah anak sulit makan.

Data menunjukkan sebagian anak-anak di Indonesia masih banyak yang kekurangan nutrisi dengan alasan sulit makan. Penelitian pada anak prasekolah usia 4-6 tahun di Jakarta menunjukkan 33,6 anak mengalami kesulitan makan, 44,5 menderita malnutrisi ringan, dan 79,2 anak menderita malnutrisi sedang.

Anak yang sulit makan perlu ditangani secara tepat. Anak yang sedang dalam masa tumbuh kembang memerlukan asupan nutrisi yang cukup. Ditambah lagi, pemenuhan nutrisi yang optimal akan menghasilkan anak dengan kecerdasan tinggi.

''Karena itu, orang tua harus menanamkan sikap cinta makan sehat kepada anak sejak dini. Jika anak sudah telanjur sulit makan, orang tua juga harus mencari akar masalahnya dan kembali mendidik anak untuk mencintai makanan,'' ujar spesialis anak Nita Ratna Dewanti dari Rumah Sakit Internasional Bintaro dalam seminar bertema Kiat mengatasi sulit makan pada si kecil di Tangerang, beberapa waktu lalu.

Menurut Nita anak dikatakan sulit makan jika tidak mampu mengonsumsi makanan yang diberikan secara alamiah dengan mulut terbuka secara sukarela atau anak yang hanya mampu menghabiskan kurang dari 2/3 dari jumlah makanan sehingga kebutuhan nutrisinya tidak terpenuhi.

''Kesulitan makan ini dipengaruhi oleh berbagai faktor termasuk faktor organik, nutrisi, dan psikologis,'' kata Nita.

Bagaimana cara membuat anak mencintai makanan? Untuk anak yang baru mulai mengenal makanan pendamping, terang Nita, ada baiknya mulai mengenalkan makanan satu per satu dimulai dengan buahan-buahan, biskuit susu, nasi tim, hingga akhirnya siap makan padat sepenuhnya saat menginjak usia satu tahun. Pastikan tidak memberikan makanan beragam sekaligus. "Hal ini juga bermanfaat untuk mendeteksi anak alergi terhadap suatu makanan tertentu."

Selain itu, terang dia, orang tua harus melihat alasan anak sulit makan. Mungkin saja anak menderita sariawan sehingga merasa sakit saat makan. Jika tetap memaksa anak makan dalam kondisi itu, terang dia, hal tersebut akan memicu perilaku sulit makan pada anak.

Hal senada juga diungkapkan psikolog anak dra Niniek A Bawani. Dari segi psikologis, terang dia, anak bisa mengalami trauma, baik karena sariawan, sakit gigi, atau amandel. Rasa perih saat makanan masuk mulut akan membuat anak membuat persepsi sendiri bahwa makanan merupakan penyebab dari rasa sakit tersebut. "Dalam kondisi ini, pastikan jangan memaksa dan menjejali makanan ke mulut anak." Biarkan anak makan 1-2 sendok saja. Jika jumlah makanan sedikit, terang dia, rasa sakitnya juga lebih ringan.

Selain itu, terang Bawani, hindari porsi makan yang terlalu banyak. Jumlah terlalu banyak akan membuat anak merasa mual. "Akibatnya anak akan berpikir makan merupakan penyebab rasa mual." Pastikan pula anak mendapatkan porsi makan sesuai dengan usianya. Kebutuhan kalori anak yang berusia lebih muda berbeda dengan anak yang lebih tua.

Selanjutnya, pastikan anak mendapatkan pujian saat dia menghabiskan makanannya. Jika orang tua hanya ribut saat dia tidak mau makan, anak akan menjadikan itu sebagai cara mendapatkan perhatian. Di samping itu, pastikan anak terbiasa makan dengan frekuensi teratur dan tidak memilih-milih makanan. "Tidak hanya karena menunya yang disukai maka anak bisa makan sampai lima kali sehari."

Karena itu, terang Bawani, adalah tugas orang tua untuk memberikan pendidikan makan yang tepat sejak dini. Orang tua harus memberi contoh dengan menikmati semua variasi makanan dengan semangat. Anak, terang dia, akan cenderung meniru apa yang dilakukan orang tuanya.

Bagaimana dengan makan sambil berkeliling? Bawani menyarankan untuk menghindari hal itu. "Anak harus diajarkan untuk makan di tempat makan sejak kecil." Makan sambil berkeliling ke taman atau sambil menonton, terang dia, akan membuat anak tidak fokus pada makanannya.

Anak, menurut dia, bisa juga dilibatkan dalam proses pembuatan dan penyajian makanan. Dengan begitu, anak akan lebih tertarik untuk mencoba. Jika tetap sulit makan? Ada baiknya orang tua mengambil makanan tersebut dan memakannya dengan ekspresi yang benar-benar menggambarkan makanan itu enak. Dengan begitu, anak juga akan percaya. Dan setiap ada waktu, pastikan meluangkan waktu untuk makan bersama. Anak, menurut Bawani, akan lebih suka jika ditemani.

Yang tidak kalah pentingnya, terang Bawani, ciptakan suasana makan yang nyaman dan tunjukkan kepada anak bahwa makan itu menyenangkan. (S-7)

(Ikarowina Tarigan)

Sumber: mediaindonesia.com/mediahidupsehat

Artikel Kesehatan Lainnya...

Direktori Sekolah Info Beasiswa Solusi Pendidikan Promo Tahukah Kamu? Hiburan Tutorial Karir Iklan Baris