Menemukan Kebaikan Teh dari Perkebunannya

12 Juli 2010 Artikel Kesehatan


Apakah teh menjadi minuman favorit atau bahkan tradisi di keluarga Anda? Jika iya, Anda menjadi bagian dari budaya dunia yang menerima teh sebagai bagian dari gaya hidupnya. Namun bagaimana Anda sebagai konsumen menilai kualitas dan kebaikan teh?

Teh ternyata bukan sekadar minuman untuk menghangatkan badan, namun juga memberikan kebaikan bagi tubuh dan pikiran. Karenanya peneliti dari dalam dan luar negeri terus mengeksplorasi kebaikan teh ini. Bahkan bagaimana perkebunan teh dikelola juga mulai diperhatikan, terkait produksi maupun kehidupan sosial di sekitarnya, yang secara tidak langsung akan berdampak pada kualitas teh.

Temuan yang sudah ada seringkali mengungkapkan berbagai khasiat kesehatan teh. Tak hanya memberikan kesegaran bagi tubuh, tetapi juga terbukti secara ilmiah memberikan efek menenangkan, sehingga berdampak pada kesehatan mental. Setiap jenis teh yang ada, teh hitam atau teh hijau misalnya, memberikan efek yang berbeda, dilihat dari lamanya reaksi terhadap tubuh dan mental.

Lantas temuan apa lagi yang bisa dieksplorasi oleh para peneliti? Produsen teh yang berpusat di Swiss, Lipton, kembali menggelar simposium teh yang memasuki tahun ke-4. Kali ini, para peneliti dari luar negeri maupun lokal akan berkumpul di Hotel Mulia, Jakarta, pada 13 Juli 2010 untuk mengungkapkan berbagai temuan baru seputar teh.

Semoga saja temuan peneliti melalui simposium ini bisa memberikan informasi baru yang bisa mencerdaskan konsumen. Agar teh tak sekadar menjadi tradisi, namun juga memberikan pengalaman minum teh yang sarat manfaat dengan referensi yang tepat.

"Sama seperti tahun sebelumnya, simposium ini bertema 'Vitality from Tea Goodness'. Kebaikan teh bukan hanya dilihat dari produk akhir teh, tetapi juga bagaimana kualitas teh terjaga dari sumber hingga ke konsumen. Aspek daun teh juga perlu diperhatikan, bagaimana praktek mengelola dauh teh sesuai standar agriculture," papar Wasti Priandjani, Regional Brand Manager Lipton East Asia, saat menerima kunjungan media ke perkebunan teh Dewata, salah satu pemasok Lipton Tea, di Gunung Tilu, Ciwidey, Kabupaten Bandung, Rabu (7/7/2010) lalu.

Faktor lain yang juga mempengaruhi kualitas teh, meski tak langsung, adalah pengelolaan teh dari sumbernya, perkebunan teh. Wasti memastikan, untuk mendapatkan kualitas teh terbaik, sejak 2007 Lipton berkomitmen untuk memenuhi kebutuhan teh dari perkebunan yang telah mendapatkan Rainforest Alliance Certified (sertifikasi RFA).

"Sertifikasi ini penting namun pengaruhnya bukan langsung kepada hasil teh tetapi pada praktek agriculture," tambah Wasti.

RFA dinilai penting bagi produsen atau penghasil teh sebagai standar acuan sekaligus justifikasi dari pihak yang lebih netral, tentang standar tata kelola perkebunan, termasuk teh.

Peter Sprang, Sustainable Agriculture Manager Rainforest Alliance, mengatakan Indonesia menjadi salah satu negara yang mendapatkan sertifikasi RFA untuk perkebunan teh, selain Kenya. RFA merupakan organisasi independen yang fokus kerjanya untuk pelestarian keanekaragaman hayati dan penghidupan berkelanjutan atas lingkungan dan habitat alam sekitar praktek bisnis perkebunan.

Syarat RFA untuk pengelolaan perkebunan di antaranya rendah polusi dan erosi, efisien menggunakan air, reservasi habitat dan lingkungan, serta pengelolaan SDM yang baik. Perkebunan teh Dewata yang dimiliki pengusaha lokal Rachmat Baddruddin, mendapatkan sertifikasi RFA selain dua standar berkelas dunia seperti HACCP (ISO untuk makanan dan minuman) dan Traceability (melacak ke perkebunan jika perusahaan menerima keluhan produk teh).

"Dengan menjalankan standar RFA, dalam jangka panjang, pola hidup masyarakat sekitar perkebunan bisa berubah, menjadi lebih sehat dengan adanya sanitasi dan pola hidup sehat yang baik. Jika manusianya sehat, produktivitas juga lebih tinggi dan tentunya akan berdampak pada kualitas pekerjaan ataupun nantinya pada produk teh yang dihasilkan dari pekerja yang sehat," tandas Rachmat.

Banyak studi mengatakan sehatnya teh, bukan? Akan lebih berdampak sehat jika cerita di balik produksinya juga menyehatkan.

Sumber: female.kompas.com