Mau Cepat Hamil? Jangan Olahraga Terlalu Berat

12 April 2012 Artikel Kesehatan


Jika Anda sedang berusaha hamil, ada baiknya mencoba berolahraga secara rutin dan tidak berlebihan. Sebuah riset terbaru mengindikasikan, melakukan olahraga ringan memberikan kesempatan lebih sukses untuk hamil.

Namun, riset juga memaparkan, dengan pengecualian, wanita yang berolahraga terlalu keras atau berat justru malah memerlukan waktu lebih lama bisa hamil. Sementara olahraga sendiri telah dikaitkan dengan penurunan risiko beberapa penyakit, seperti diabetes, penyakit jantung, dan depresi, sedangkan dampaknya pada kesuburan masih belum jelas.

"Studi ini adalah yang pertama untuk menemukan bahwa pengaruh aktivitas fisik pada kesuburan bervariasi dengan indeks massa tubuh," kata Lauren Wise, ahli epidemiologi reproduksi dari Boston University dan peneliti utama studi itu.

Dalam kajiannya, Wise dan rekan dari AS dan Denmark mengikuti lebih dari 3.500 wanita Denmark berusia 18-40 tahun yang sedang berusaha untuk hamil selama setahun. Mereka semua dilaporkan berada dalam hubungan stabil dengan pasangan laki-laki dan tidak menjalani perawatan kesuburan.

Para peneliti menemukan bahwa olahraga ringan, seperti berjalan, bersepeda, atau berkebun, dikaitkan dengan kehamilan lebih cepat untuk semua wanita, terlepas dari berat badan. Wanita yang menghabiskan lebih dari 5 jam per minggu untuk berolahraga, 18 persen lebih mungkin untuk hamil selama setiap terjadi siklus menstruasi ketimbang wanita yang melakukan olahraga ringan selama kurang dari 1 jam setiap minggu.

Namun, pada perempuan dengan berat badan normal dan sangat ramping yang melakukan olahraga berat, seperti berlari atau aerobik, membutuhkan waktu lebih lama untuk hamil. Mereka yang berolahraga keras selama lebih dari 5 jam setiap minggu memiliki kesempatan 32 persen lebih rendah untuk hamil selama siklus menstruasi ketimbang wanita yang tidak berolahraga terlalu berat.

Sementara itu, Dr Bonnie Dattel, dokter spesialis kandungan dari Eastern Virginia Medical School di Norfolk, mengatakan, temuan tersebut memiliki beberapa kelemahan. Sebaba, jumlah dan intensitas latihan itu dilaporkan sendiri oleh peserta sehingga bisa berdampak pada keakuratan hasil penelitian. Hasil tersebut juga tidak berarti bahwa olahraga bertanggung jawab penuh terhadap kesempatan seorang wanita untuk hamil.

Dr Richard Grazi, spesialis reproduksi di Genesis Fertility, Brooklyn, New York, yang tidak terlibat dalam penelitian, mengungkapkan, secara umum wanita kelebihan berat badan dan obesitas memiliki risiko lebih tinggi dari masalah ketidaksuburan dan berbagai komplikasi kehamilan.

"Lemak adalah metabolik aktif yang membuat estrogen," kata Grazi.

Menurut dia, hormon estrogen yang berlebihan dapat menekan hormon lain yang bertanggung jawab terhadap ovulasi. Hal ini dapat menyebabkan ketidakteraturan siklus menstruasi dan bahkan amenore, atau kurangnya menstruasi.

Ia menambahkan, masih belum jelas mengapa wanita kurus yang berolahraga lebih keras cenderung memakan waktu lebih lama untuk hamil. Adapun studi sebelumnya terhadap wanita yang menjalanifertilisasi in vitro (program bayi tabung) menemukan bahwa risiko kegagalan implantasi lebih tinggi pada wanita lebih sering berlari atau bersepeda.

"Saya sarankan untuk semua pasien saya melakukan olahraga dengan tingkat yang moderat (tidak berlebihan), selalu menjadi cara terbaik untuk mencapai konsepsi dan kehamilan," kata Dattel.

Sumber: newsmaxhealth