Mata Sehat Anak Aktif

30 Maret 2010 Artikel Kesehatan


Kalau sudah memelototi tayangan kartun Tom and Jerry, Bowo, 12 tahun (bukan nama asli), tidak bergeming. Ia seperti terhipnotis, tak peduli sekeliling. Malah, si bungsu ini tahan "nongkrong" berjam-jam di dekat muka layar kaca demi melihat kartun pujaannya itu. Lantas, bila sang kakak menantangnya bermain Guitar Hero, game populer Playstation 2, semakin panjang waktunya berada di depan kotak ajaib itu. Bila ada dua hal itu, tak tebersit dalam pikiran Bowo untuk bermain di luar rumah.

Bowo boleh dibilang contoh karakter anak-anak di kota-kota besar saat ini. Padahal kegemarannya itu akan mengakibatkan gangguan pada mata. Studi anyar nan jauh di Boston, Amerika Serikat, menunjukkan, anak yang lebih sering bermain di luar rumah memiliki risiko lebih kecil terserang miopi (rabun jauh) ketimbang anak yang cuma menghabiskan harinya di depan layar kaca. "Khususnya pada anak-anak yang sedang berkembang dan remaja, bermain di luar itu untuk mengurangi risiko mengalami miopi progresif," kata profesor bidang neurobiologi dan perilaku di Universitas Cornell, Howard C. Howland, seperti dikutip situs berita HealthDay News.

Dalam studinya, Howland mengkaji pengaruh kegiatan anak pada risiko miopi, dengan menyebarkan 191 kuesioner kepada para orang tua yang memiliki anak berusia rata-rata 13,3 tahun. Peneliti menanyakan seberapa lama anak mereka menghabiskan waktu di depan komputer, televisi, dan membaca selama sehari. Ditemukan, miopi dialami anak-anak yang lebih sering menonton televisi sekitar 12,5 jam sepekan, ketimbang anak-anak yang cuma menghabiskan waktu 8,4 jam sepekan di depan layar kaca.

Kemudian, anak yang terkena miopi menghabiskan waktu di luar rumah rata-rata cuma 8,3 jam sepekan, dibandingkan dengan anak-anak yang lebih lama bermain di luar rumah, sekitar 12,6 jam sepekan. Studi mengindikasikan bahwa anak penderita miopi setiap saat selalu melihat obyek dalam jarak dekat. Sedangkan di luar rumah, si anak terbantu obyek yang jauh dan cahaya untuk mengurangi risiko miopi. Walhasil, matanya pun lebih sehat.

"Waktu yang dihabiskan untuk melihat sesuatu dari jarak jauh terjadi saat anak Anda bermain di luar rumah dan itu bisa menghambat terjadinya miopi," ujar Kepala Penelitian The New England College of Optometry Jane Gwiazda. Ia menambahkan, pencahayaan di luar ruangan juga bermanfaat karena ada sinar matahari yang memicu pupil mengerut dan menghasilkan kedalaman fokus yang membuat obyek menjadi jelas dan sedikit gambar yang kabur. Kondisi inilah yang dikaitkan dengan risiko rabun.

Premis Gwiazda konsisten dengan hasil telaah peneliti asal Australia, Professor Ian Morgan. Morgan mengatakan dua hingga tiga jam di luar rumah dan terkena cahaya matahari membuat anak terhindar dari gangguan mata. Menurut dia, seperti dilansir Times of India belum lama ini, miopi menjadi momok sebagian anak-anak di belahan dunia, khususnya di kawasan Asia. Didapati, hampir 90 persen anak di Singapura mengenakan kacamata, baik secara permanen maupun temporer.

"Dibanding Australia, jumlah tersebut sangat besar. Di Australia, hanya terdapat 20 persen," ujar Morgan. Ia menjelaskan hal ini karena anak-anak di negara kecil itu kurang menghabiskan waktu di luar rumah. Kebanyakan mereka cuma menyisihkan 30 menit di luar rumah. Prevalensi di Amerika Serikat juga cukup tinggi. Menurut Gwazda, sekitar sepertiga orang Amerika menderita miopi.

Secara sederhana, miopi adalah gangguan kesehatan mata yang dapat dipengaruhi faktor genetik maupun lingkungan. Misalnya, seperti sering melihat TV atau monitor komputer jarak dekat dan membaca dengan cahaya redup. Kondisi ini lebih sering menimpa anak-anak usia 8 hingga 14 tahun. "Obyek yang terlalu dekat secara berlebihan membuat fokus mata terhadap obyek juga berlebihan," kata spesialis mata Jakarta Eye Center, Dr Donny Istiantoro, saat dihubungi Tempo via telepon pekan lalu.

Menurut Donny, setiap berhadapan dengan layar kaca atau monitor dengan jarak yang menyimpang, organ mata bakal bekerja lebih keras, apalagi dalam waktu yang lama. Lalu jarak pandang yang terlalu dekat, membuat mata melakukan proses akomodasi dengan mencembung. Dalam skala waktu lama, hal ini dapat mengubah struktur mata. Artinya, bayangan benda yang tercerap mata tidak jatuh pada titik normal (bintik kuning).

Lebih jauh, Donny menyarankan, kesehatan mata pada anak di bawah 18 tahun sebaiknya dijaga. Sebab, obyek apa pun yang terlalu dekat akan menstimulasi mata menjadi miopi atau minus. "Berbeda jika sudah di atas 18 atau 21, karena mata sudah konsisten," ujarnya. Patut diingat, jarak baca adalah 33 sentimeter dari buku, 60 sentimeter untuk monitor komputer, dan 2 meter untuk layar kaca. Namun, lebih patut diingat, cobalah dorong anak Anda beraktivitas di luar rumah. Tak hanya tubuh yang sehat, mata pun cemerlang.

Langkah Menjauhi Miopi

1. Banyak beraktivitas di luar rumah.
2. Hindari membaca dengan pencahayaan remang-remang atau redup.
3. Menonton TV usahakan berjarak 2 m, komputer 60 sentimeter, dan membaca 33 sentimeter.
4. Kurangi membaca buku yang ukuran hurufnya kurang dari 13.
5. Konsumsi makanan berisi vitamin A, seperti wortel, apel, dan mangga.

HERU TRIYONO

Sumber: Tempointeraktif.Com