Lho, Kok, Jadi Terasa Lebih Lapar...

12 April 2010 Artikel Kesehatan


TEMPO Interaktif, Memerangi kelebihan berat badan terbukti merupakan peperangan jangka panjang dengan berbagai ranjau yang mungkin dianggap sepele. Dua penelitian terbaru membuktikannya.

Penelitian pertama menyimpulkan, jika ingin menurunkan berat badan, mulailah berhenti begadang dan punya cukup waktu tidur. Peneliti masalah ini menemukan bahwa pria dengan berat badan normal sanggup makan hamburger besar dengan ekstra kalori saat mereka berutang empat jam waktu tidur ketimbang mereka yang cukup tidur delapan jam dalam sehari.

"Berdasarkan temuan ini, pembatasan waktu tidur selama bertahun-tahun bisa jadi adalah salah satu faktor lingkungan yang berkontribusi pada epidemi obesitas," kata Dr Laurent Brondel dari European Center for Taste Sciences di Dijon, Prancis, dan para koleganya dalam laporan mereka di American Journal of Clinical Nutrition. Brondel meneliti pola tidur, makan, dan energi pada kesehatan 12 pria muda selama 48 jam penelitian.

Pada dua hari pertama, partisipan penelitian diteliti pola normal kesehariannya dalam hal makan, tidur, dan aktivitas harian. Lalu pada dua hari kedua, partisipan diminta mulai tidur tengah malam dan dibangunkan pada pukul delapan pagi pada hari pertama. Pada hari kedua, mereka baru boleh tidur pada pukul dua pagi dan dibangunkan pada pukul enam pagi. Pada saat itu, mereka boleh makan apa pun yang mereka inginkan.

Setelah semalaman kurang tidur, para peneliti menemukan bahwa partisipan memerlukan kalori 22 persen lebih banyak dari rata-rata saat mereka bisa tidur normal. Begadang membuat mereka makan lebih banyak saat sarapan dan makan malam, tapi tidak saat makan siang. Rata-rata penambahan kalori sebesar 560.

"Kemungkinan orang menjadi makan lebih banyak saat kurang tidur karena, sebagai mamalia, mereka harus menyimpan kalori ketika musim panas yang malamnya jadi lebih singkat dan sumber makanan melimpah ruah," kata Brondel dan koleganya, Dr Damien Davenne, dari The University de Caen, Prancis.

Menurut Brondel dan Davenne, temuan ini semakin memperjelas bahwa orang harus melakukan yang terbaik untuk mendapatkan tidur yang berkualitas. "Tidur bukan kegiatan membuat waktu. Selain fungsi pemulihan energi, ada banyak fungsi lain dari tidur, seperti melestarikan energi dan memori," kata Brondel.

Nah, ranjau penurunan berat badan kedua setelah soal tidur adalah persepsi orang akan makanan sehat. Para peneliti berkesimpulan, jika ingin menurunkan berat badan, cobalah tidak terpaku pada istilah makanan sehat, seperti makanan rendah lemak atau rendah kalori saja. Sebab, berdasarkan sebuah penelitian, orang yang makan makanan yang disebut sebagai "makanan sehat" cenderung lebih cepat lapar kemudian dibanding orang yang makan makanan yang sama yang diberi cap sebagai "makanan lezat" saja.

"Ketika seseorang merasa dia harus makan makanan sehat, makan makanan tersebut justru membuat mereka merasa lapar lagi," kata Ayelet Fishbach, peneliti senior serta profesor ilmu perilaku dan marketing di University of Chicago. "Mereka justru merasa lebih lapar dibanding saat mereka tak makan apa pun, atau saat mereka makan makanan yang sama tanpa berpikir bahwa itu adalah makanan sehat."

Penelitian ini dipublikasikan di jurnal online Journal of Consumer Research. Peneliti melakukan sejumlah percobaan untuk menggali dampak dari persepsi tentang konten kesehatan dalam makanan dan bagaimana perasaan orang tentang makanan tersebut.
Dalam penelitian pertama, peneliti meminta 51 mahasiswa untuk mencoba kue protein rasa cokelat-rasberi. Mereka diberi tahu bahwa ini adalah contoh produk makanan sehat baru yang mengandung banyak protein, vitamin, dan serat. Kelompok kedua diminta menjajal kue yang sama, tapi dengan deskripsi produk sebagai kue cokelat yang sangat lezat dengan komposisi nikmat cokelat dan rasberi.

Kemudian, ketika mereka ditanya soal kadar rasa lapar yang dirasakan, mereka yang makan kue "sehat" mengatakan lebih lapar dibandingkan dengan kelompok yang makan makanan yang sama tapi dengan cap "makanan lezat".

Kelompok ketiga diminta hanya mengukur kadar rasa lapar mereka dan diminta nilainya akan kue tersebut, tapi tak diminta untuk mencicipinya. Kadar rasa lapar kelompok ketiga ini ternyata sama dengan mereka yang makan kue tersebut dengan cap "kue enak". Menurut peneliti, makan makanan "sehat" malah membuat orang merasa lebih lapar dibanding jika mereka tidak makan kue itu sama sekali.

Bagi mereka yang berdiet menurunkan berat badan, analogi dari penelitian ini adalah proses pengambilan keputusan saat memilih hanya makan salad sayur atau burger di restoran. Tak mengherankan jika sesampainya di rumah, mereka masih merasa lapar lalu makan besar sekali lagi. Makan makanan sehat membuat kita percaya bahwa kita sudah memilih keputusan tepat, tapi mengecoh kita dengan berpikir bahwa kita masih lapar. utami widowati Reuters healthday news Sumber: tempointeraktif.com