Lahir di Pekan 39, Bayi Berisiko Austime

14 Juni 2010 Artikel Kesehatan


Bayi yang lahir satu minggu lebih awal dari masa kandungan normal berisiko lebih besar mengalami problem kesehatan seperti autisme dan gangguan pendengaran, demikian hasil riset yang dimuat jurnal Public Library of Science Medicine.

Menurut penelitian, bayi-bayi yang lahir pada kehamilan 39 minggu masa di mana para ibu juga kerap merencanakan untuk bedah cesar cenderung lebih rentan mengalamai kesulitan belajar dibandingkan mereka yang lahir pada usia kandungan 40 minggu.

Kesimpulan ini merupakan analisis para ahli dari Glasgow University Skotlandia terhadap data kelahiran lebih dari 400.000 anak. Mereka menemukan, bayi-bayi yang lahir pada minggu ke-37 hingga 39 berisiko 5,1 persen mengalami gangguan, sedangkan bayi yang lahir di minggu ke-40 hanya berisiko 4 persen.

Dengan semakin maraknya prosedur bedah caesar saat kandungan berusia 39 minggu, temuan ini memunculkan suatu kekhawatiran. Para ibu yang memilih operasi caesar tanpa alasan medis yang kuat berarti menempatkan anak-anak mereka dalam risiko lebih besar mengalami kesulitan belajar.

Jill Pell, profesor dari Glasgow University menyatakan para ibu dan dokter sebaiknya mempertimbangkan lagi risiko ini sebelum menjalani bedah caesar.

Tak seperti risiko bayi yang lahir sebelum usia kandungan 24 minggu yang sudah banyak diketahui, risiko kesehatan bayi yang lahir lebih cepat satu pekan dari yang dijadwalkan memang belum banyak diteliti. Padahal, ada sekitar 30 persen bayi yang dilahirkan antara usia kandungan 37 dan 39 minggu.

Menurut data WHO, jumlah wanita yang memilih bedah caesar terus meningkat di dunia. Bahkan jumlah bedah caesar tanpa alasan medis yang jelas semakin meningkat secara signifikan.

Dari data 400 ribu anak yang dianalisa dalam riset ini, 18.000 ribu di antaranya dikategorikan anak dengan kebutuhan khusus seperti, mengidap autisme disleksia, ADHD, dan buruknya penglihatan.

Penulis: AC/Editor: acandra

Sumber: telegraph.co.uk (kompas.com)