Label Makanan Sehat Picu Lapar Berlebih

7 April 2010 Artikel Kesehatan


JIKA Anda ingin menurunkan berat badan, cobalah tidak fokus pada aspek kesehatan dari makanan rendah lemak dan rendah kalori yang Anda konsumsi.

Pasalnya, orang-orang yang diminta merasakan makanan yang diberi label 'sehat', menurut temuan peneliti, merasa lebih lapar setelahnya dibandingkan orang-orang yang mengonsumsi makanan yang sama tetapi diberi label 'lezat'.

"Saat orang merasa diminta mengonsumsi makanan sehat, mengonsumsi makanan tersebut membuat mereka lebih lapar," terang peneliti Ayelet Fishbach dari University of Chicago."Mereka lebih lapar dibandingkan saat mereka tidak makan apa pun atau jika mereka mengonsumsi makanan tanpa memikirkan aspek kesehatan makanan tersebut," tambah Fishbach, seperti dikutip situs healthday.com, Senin (5/4).

Dalam studi yang dipublikasikan di Journal of Consumer Research edisi April ini, peneliti melakukan beberapa kali percobaan untuk mencaritahu efek persepsi mengenai kandungan kesehatan makanan terhadap perasaan kenyang yang dirasakan seseorang.

Dalam percobaan pertama, peneliti meminta 51 mahasiswa untuk mencoba chocolate-raspberry protein bar. Secara acak mereka diberitahu bahwa mereka diminta merasai bar sehat baru yang kaya protein, vitamin dan serat atau cokelat bar yang lezat dengan tambahan rasa raspberry.

Selanjutnya, mereka diminta menilai rasa lapar mereka. Partisipan yang merasa makan bar 'sehat' melaporkan lebih lapar dibandingkan mereka yang mengonsumsi bar serupa dengan label 'lezat'.

Selanjutnya, kelompok ketiga diminta memeriksa bar (tanpa mengonsumsi) tersebut dan menilai rasa lapar mereka. Tingkat rasa lapar mereka setara dengan mahasiswa yang menerima label 'lezat'. Artinya, terang peneliti, makanan berlabel 'sehat' pada dasarnya membuat partisipan lebih lapar dibandingkan saat mereka tidak makan bar sama sekali.

Untuk para pelaku diet, terang peneliti, proses pengambilan keputusan yang sama kemungkinan terjadi saat mereka memilih salad dibandingkan burger dan kentang goreng. Mengonsumsi makanan sehat membuat Anda percaya bahwa Anda mengalami kemajuan ke arah yang sehat. Tapi, terang peneliti, hal ini juga mengelabui pikiran Anda dan membuat Anda merasa lebih lapar.

"Salah satu tantangan dalam menurunkan berat badan adalah bahwa orang cenderung memberi kompensasi atas kesuksesan mereka dengan makan berlebih. Hal ini selanjutnya akan membuat Anda mengalami penambahan berat badan lebih banyak lagi," tegas Fishbach.

Dalam percobaan kedua, 62 partisipan diberikan sepotong roti yang digambarkan sebagai makanan bernutrisi dan rendah lemak atau roti lezat. Setelah merasai roti tersebut, partisipan ditawarkan kudapan, seperti kue kering, yang dinilai sebagi makanan netral, tidak sehat seperti wortel atau tidak memuaskan keranjingan seperti cokelat.

Peneliti menemukan, partisipan yang merasai roti 'sehat' makan lebih banyak kue kering setelahnya dibandingkan mereka yang merasai roti 'lezat'.

Dalam percobaan ketiga, peneliti menawarkan pilihan chocolate-raspberry protein bar atau honey-peanut protein bar. Kedua makanan ini secara acak diberi label sehat atau lezat. Saat diberikan kesempatan untuk memutuskan pilihan yang diinginkan (pilihan sehat atau pilihan yang kurang sehat), partisipan tidak memiliki perbedaan tingkat rasa lapar setelahnya.

Alasannya? Membuat pilihan untuk diri mereka sendiri, terang Fischbach, membuat mereka lebih berkomitmen terhadap pola makan sehat.

"Saat diwajibkan mengonsumsi makanan sehat, Anda akan semakin lapar dan makan berlebih. Saat mengonsumsi makanan yang sama atas pilihan sendiri, Anda tidak akan makan berlebih."

Persepsi bahwa 'makanan sehat' tidak akan memuaskan selera, terang Connie Diekman dari Washington University, merupakan pesan yang sangat kuat. Makanan sehat juga enak."Sayangnya, orang cenderung berasumsi bahwa makanan sehat tidak enak. Bahkan saat terasa enak, otak akan menyampaikan pesan sebaliknya." (IK/OL-5) Sumber: mediaindonesia.com