Kurang Tidur Membuat Terlihat Tua

21 Januari 2010 Artikel Kesehatan


Bangun dan siap memulai aktivitas pada pukul delapan pagi bukan jaminan bahwa Anda telah mendapatkan tidur yang cukup. Tetaplah perhatikan agar jam tidur Anda tidak kurang dari tujuh hingga sembilan jam. Jika Anda menghindari durasi ini, menurut pakar, Anda berisiko lebih besar mengalami berbagai penyakit, mulai dari flu hingga penyakit jantung dan diabetes.

Masih belum menjadikan tidur sebagai prioritas utama? Berikut beberapa alasan lain yang bisa mendorong Anda menambah jam tidur:

Terlihat lebih tua. Peningkatan jumlah hormon stres cortisol, menurut Jyotsna Sahni, MD, dari Canyon Ranch di Tucson, akan memperlambat produksi kolagen. Hal ini akan memicu munculnya kerutan.

Selain itu, tidur nyenyak juga membantu mempercantik kulit."Perubahan hormon akan meningkatkan aliran darah ke kulit, membuat kulit lebih bercahaya sepanjang malam," terang Melvin Elson, MD, seorang profesor di bidang dermatologi dari Vanderbilt School of Nursing. Dan meskipun Anda beristirahat, kulit Anda tetap bekerja keras. Studi-studi menunjukkan bahwa pergantian sel-sel delapan kali lebih cepat di malam hari, sehingga menghaluskan kerutan.

Keranjingan makanan cepat saji (junk food). Kurang tidur akan memicu pengurangan hormon yang mangatur selera makan, meningkatkan keinginan mengonsumsi makanan tinggi lemak dan karbohidrat serta membuat Anda mengonsumsi lebih banyak kalori daripada jumlah yang diperlukan. Sebuah studi menemukan, setelah kurang tidur selama dua hari, partisipan mengalami peningkatan jumlah hormon yang memicu lapar (ghrelin) dan pengurangan hormon yang menekan selera makan (leptin).

Seiring waktu, masalah ini bisa memicu penambahan berat badan. Studi dari University of Washington yang melibatkan partisipan pasangan kembar menemukan, mereka yang tidur selama tujuh hingga sembilan jam semalam memiliki indeks massa tubuh (IMT) 24,8. Jumlah ini sekitar 2 poin lebih rendah dibandingkan IMT partisipan yang tidur kurang dari tujuh jam.

Rentan terserang kuman. JAMA study menemukan, mereka yang tidur kurang dari tujuh jam per malam berisiko tiga kali lebih besar terserang flu. Penelitian lain menemukan bahwa laki-laki yang kurang tidur gagal mencapai respon kekebalan normal setelah menerima suntikan flu. Dibandingkan dengan laki-laki yang cukup istirahat, mereka memiliki kadar antibodi 50 persen lebih rendah. Hal ini karena tidur meningkatkan sistem kekebalan.

Kurang bisa mencerna gula. Gula merupakan bahan bakar yang diperlukan semua sel tubuh untuk tetap berfungsi. Studi dari University of Chicago menemukan, partisipan mengalami resistensi insulin setelah enam hari kurang tidur. Insulin merupakan hormon yang membantu mengangkut gula dari aliran darah ke dalam sel-sel. Studi lain menunjukkan, partisipan yang tidur kurang dari enam jam semalam tidak bisa mencerna gula dengan benar. Hal ini bisa memicu diabetes tipe 2.

Mudah terserang stres. Studi dari University of Chicago menemukan bahwa kurang tidur memicu kenaikan dan penurunan drastis kadar hormon stres (cortisol) di siang dan malam hari. Hal ini akan meningkatkan detak jantung, tekanan darah, dan glukosa darah. Peningkatan ini akan memperbesar risiko hipertensi, penyakit jantung dan diabetes tipe 2. Selain memicu gangguan kesehatan di masa depan, peningkatan kadar cortisol terjadi pada saat yang tidak tepat, di siang hari saat Anda sedang bekerja dan di malam hari saat Anda seharusnya istirahat.

Gangguan mood. Setelah menjalani malam yang melelahkan, kecepatan reaksi Anda akan menurun. Penurunan reaksi ini akan membuat berbagai aktivitas termasuk mengemudi menjadi berbahaya. Selain itu, orang yang kurang tidur cenderung kurang bahagia."Tidur dan mood diatur oleh zat kimia otak yang sama," tutur Joyce Walsleben, PhD, seperti dikutip situs prevention. Masalah ini bisa meningkatkan risiko depresi.

Picu rasa sakit. Rasa sakit kronis (misalnya akibat sakit punggung atau radang sendi) tentunya bukan hal yang asing dan sangat mengganggu aktivitas. Tapi, kurang tidur tidak hanya bisa memicu sakit tetapi juga bisa memperparah rasa sakit dan menciptakan siklus rasa sakit yang parah. Dalam sebuah studi, Michael Smith, PhD dari Johns Hopkins Behavioral Sleep Medicine Program membangunkan partisipan dewasa muda setiap 20 menit sekali selama delapan jam tidur, tiga hari berturut-turut. Hasilnya, para partisipan mengalami penuruann toleransi terhadap rasa sakit dan tiba-tiba mengalami sakit yang lebih parah saat dipapar dengan stimulus dingin di laboratorium.

Tingkatkan risiko kanker. Studi dari Johns Hopkins Bloomberg School of Public Health menyimpulkan bahwa olahraga membantu mencegah kanker. Tapi, kurang tidur bisa menghilangkan efek perlindungan aktivitas fisik tersebut. (IK/OL-08)

sumber: mediaindonesia.com/mediahidupsehat