Kurang Percaya Diri Bikin Obesitas

16 September 2009 Artikel Kesehatan


SEBUAH sebuah studi yang dipublikasikan di BMC Medicine journal mengabarkan bahwa anak - anak yang kurang percaya diri lebih berisiko mengalami kelebihan berat badan atau obesitas di usia dewasa. Karena itu, anak-anak sebaiknya diberi perhatian lebih dan diajarkan cara mencintai diri sendiri sejak dini misalnya dengan diberi semangat untuk persosialisasi, tidak mudah menyerah dan diajarkan menerima kekalahan.

Studi yang dilakukan para penelti dari King's College, London, ini menemukan, anak berusia 10 tahun yang mengalami gangguan emosional cenderung lebih gemuk saat dewasa. "Meskipun kita tidak bisa menyatakan kalau gangguan emosi pada anak menjadi penyebab obesitas di usia dewasa, tetapi kita bisa dengan pasti menyatakan kalau hal ini ikut berperan, bersamaan dengan faktor lain seperti berat badan (IMT) orang tua, diet dan olahraga," tutur pemimpin studi Andrew Ternouth, seperti dikutip situs dailymail.

Dalam studi ini, para peneliti melibatkan 6.500 partisipan. Perawat diminta mengukur berat dan tinggi badan serta mencatat status emosional para partisipan. Selanjutnya, para partisipan sendiri diminta melaporkan detail mengenai ukuran berat dan tinggi badan serta kondisi emosional mereka setelah berusia 30.

Peneliti menemukan, mereka yang merasa kurang mampu mengontrol kehidupan mereka serta mereka yang selalu cemas cenderung lebih berisiko mengalami penambahan berat badan dalam waktu 20 tahun. Selain itu, peneliti juga menemukan kalau partisipan perempuan sedikit lebih terpengaruh dibandingkan partisipan laki-laki.

Hal ini, menurut peneliti, bisa dicegah dengan mendeteksi dini anak-anak yang kurang percaya diri, anak yang selalu cemas atau anak yang mengalami gangguan emosi lainnya."Cara ini bisa memperbaiki kesehatan fisik mereka dalam jangka panjang."

Menurut Ternouth, salah satu strategi yang bisa dilakukan adalah dengan mempromosikan pembelajaran sosial dan emosional, termasuk mempromosikan rasa percaya diri sejak dini."Penelitian kami menemukan kalau pendekatan ini bisa membawa efek positif bagi kesehatan fisik serta aspek lain yang mempengaruhi perkembangan anak." (OL-08)

(Ikarowina Tarigan)

Sumber: mediaindonesia.com/mediahidupsehat