Kuman Ganas Unjuk Gigi Lagi

15 Mei 2012 Artikel Kesehatan


Difteri, penyebab kematian bayi di dunia pada awal abad ke-20, unjuk gigi lagi di Indonesia. Penyakit yang seharusnya menjadi kenangan ini mudah menular dan ganas. Selain mengganggu pernapasan, kuman penyebab difteri juga menyebabkan komplikasi pada otot jantung dan kelumpuhan.

Kejadian luar biasa (KLB) difteri dilaporkan di Jawa Timur, awal Oktober 2011, dengan 330 kasus dan 11 orang meninggal. Sebelumnya, Kementerian Kesehatan mencatat, KLB difteri terjadi 34 kali dengan 106 kasus tahun 2004. Tahun 2008 ada 77 KLB dengan 123 kasus, termasuk di Jawa Timur dengan 73 kasus. Penderita difteri umumnya anak-anak.

"Jumlah kasus difteri sempat turun 20 tahun lalu, sekarang marak lagi," kata dokter spesialis anak konsultan penyakit infeksi dan pediatri tropis sekaligus anggota Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI), Hindra Irawan Satari, dalam seminar tentang difteri, April.

Difteri adalah infeksi saluran pernapasan atas (ISPA) yang disebabkan Corynebacterium diphtheriae. Bakteri ini umumnya ditemukan di daerah beriklim sedang dan tropis.

Hindra mengatakan, bakteri tersebut tahan terhadap udara beku dan kering. "Itulah sebabnya (bakteri itu) sulit dihilangkan dari permukaan bumi," ujarnya.

Bakteri tersebut tersebar lewat percikan dari saluran napas ketika penderita batuk atau bersin. Kuman juga dapat tersebar melalui bahan makanan, seperti susu yang tercemar.

Difteri bisa ringan atau berat. Proses penyembuhan penyakit berlangsung lambat dan angka kematian akibat penyakit itu 10 persen. Gejala difteri muncul 2-5 hari setelah bakteri masuk tubuh. Beberapa gejala, demikian Hindra, antara lain kulit membiru, keluarnya cairan berdarah dari hidung, sesak, napas cepat, napas berbunyi, menggigil, batuk kering, jalan napas tersumbat, demam, nyeri menelan, dan terkadang luka pada kulit. Ada pula pengidap yang tidak menunjukkan gejala walau membawa kuman di tubuhnya.

Dalam perjalanan, bakteri menyerang selaput mukosa, seperti di mulut, hidung, tenggorok, dan kerongkongan. Pada penderita terbentuk lapisan abu-abu atau kehitaman di tenggorok ataupun kerongkongan. Membran semu itu terbentuk dari limbah dan protein bakteri. Lapisan itu begitu lekat dan dapat terjadi perdarahan jika lapisan dipaksa lepas.

Serangan pada tenggorok membuat anak sesak napas. "Napas berbunyi grak-grok dan sering batuk kering. Kalau membran itu terlepas, akan menyumbat jalan napas dan bisa mematikan," katanya. Pada kasus parah, tenggorok harus dilubangi dan dipasang alat bantu napas.

Selain itu, terjadi pembesaran kelenjar getah bening leher, pembengkakan leher, dan pembengkakan tenggorok. Untuk menegakkan diagnosis dilakukan pembiakan kuman di laboratorium. Bakteri juga dapat menyerang melalui kulit dan telinga walaupun jarang.

Komplikasi
Infeksi kuman bisa menyebabkan komplikasi. Aksi bakteri dalam tubuh menghasilkan toksin (racun). Sri Murniyati dalam Difteri (I) Praanalitik hingga Pascaanalitik menuliskan, pembentukan toksin oleh bakteri dipengaruhi kadar besi dalam tubuh, tekanan osmotik, kadar asam amino, keasaman tubuh, serta tersedianya sumber karbon dan nitrogen. Toksin difteri yang diserap ke selaput mukosa menyebabkan kematian epitel dan membentuk membran semu. Usaha membuang membran semu akan merusak kapiler dan menyebabkan perdarahan.

Toksin yang terserap mengganggu organ, seperti otot jantung, ginjal, dan hati. Racun rawan menyebabkan kerusakan saraf. Hindra mengatakan, komplikasi yang sering terjadi adalah peradangan otot jantung dan gangguan sistem saraf yang berujung kelumpuhan. "Jika yang terkena otot jantung, jantung bisa berhenti dan terjadi kematian mendadak," ujar Hindra.

Pengobatan difteri dilakukan tanpa menunggu hasil pemeriksaan laboratorium. Racun segera dinonaktifkan dan dinetralisasi dengan suntikan antitoksin.

Infeksi bakteri ditangani menggunakan antibiotik, seperti penisilin dan eritromisin. "Penanganan dini memperkecil risiko dan mencegah penularan. Dosis harus tepat agar tidak terjadi keterkejutan tubuh," kata Hindra.

Penderita difteri harus dirawat di rumah sakit karena membutuhkan cairan melalui infus, pemberian oksigen, pemantauan jantung, pemasangan alat bantu napas, dan pembebasan jalan napas dari sumbatan. Umumnya dibutuhkan istirahat selama 2-3 minggu agar penderita sehat.

Semua orang yang mengalami kontak dengan penderita atau pengidap harus diberi imunisasi ataupun imunisasi ulangan difteri. Adapun pembawa kuman yang tidak menunjukkan gejala diberi obat.

Pencegahan utama difteri dengan vaksin. Vaksin pertama diberikan pada umur 2 bulan karena masih ada kekebalan dari ibu yang tersimpan dalam tubuh bayi selama dua bulan. Di Indonesia, imunisasi difteri dilaksanakan dengan pemberian "paket" vaksin difteri, pertusis, tetanus, dan hepatitis B pada bayi usia 0-11 bulan. Imunisasi lain adalah mencegah difteri dan tetanus pada anak usia 12-13 tahun.

Ketua IDAI Badriul Hegar mengatakan, penyakit infeksi dominan sebagai penyebab kematian anak di bawah usia lima tahun. Penyakit infeksi, seperti difteri, dapat dicegah dengan imunisasi. Selain itu, perbaikan lingkungan, sanitasi, dan gizi anak juga harus diperhatikan agar Indonesia mampu mengatakan selamat tinggal kepada penyakit zaman dulu ini.

Sumber: kompas.com