Konsumsi Minuman Berkalori Tinggi Mengkhawatirkan

19 Juli 2011 Artikel Kesehatan


JAKARTA - Konsumsi minuman berkalori tinggi di Indonesia mengkhawatirkan. Sebagian besar remaja Indonesia banyak mengonsumsi minuman manis berkalori tinggi yang berdampak buruk pada kesehatan.

Hardinsyah, guru besar pada Departemen Gizi Masyarakat, Fakultas Ekologi Manusia, Institut Pertanian Bogor (IPB), Sabtu (16/7/2011), menyatakan, setiap hari orang dewasa dan remaja di Indonesia banyak mengonsumsi minuman manis berupa teh atau kopi yang diberi banyak gula serta berbagai jenis minuman bersoda dan minuman instan.

Asupan energi dari minuman berkalori tinggi pada orang dewasa di Indonesia 450 kalori per hari, sedangkan remaja 420 kalori per hari. Angka ini hampir menyamai Amerika Serikat yang asupan energi dari minuman berkalori mencapai 465 kalori per hari.

Kebutuhan kalori yang diperlukan tubuh untuk beraktivitas sedang pada remaja dan dewasa rata-rata 1.800 2.800 kalori per hari. Bila minuman manis yang dikonsumsi remaja dan dewasa mencapai 420 450 kalori per hari, artinya lebih dari 20 persen kebutuhan kalori berasal dari minuman manis. Belum lagi kalori yang diperoleh dari makanan yang dikonsumsi setiap hari.

Bila mengacu pada anjuran Organisasi Kesehatan Dunia (WHO), pasokan kalori dari makanan dan minuman manis maksimal 10 persen dari kebutuhan kalori tubuh per hari. Kondisi ini mengkhawatirkan. Jika dibiarkan, di masa depan kita akan memiliki generasi yang tidak sehat, kata Hardinsyah. Minuman berkalori tinggi meningkatkan risiko obesitas (kegemukan) dan munculnya berbagai penyakit degeneratif, seperti diabetes, darah tinggi, dan jantung.

Penelitian dengan nama Thirst ini menguji 1.200 orang usia remaja dan dewasa yang tinggal di dataran rendah dan dataran tinggi di enam kota, yaitu Jakarta, Surabaya, Makasar, Lembang, Malino, dan Malang. Selain meneliti jenis dan jumlah asupan makanan dan minuman, Thirst meneliti status hidrasi, pengetahuan hidrasi, aktivitas fisik, dan status nutrisi.

Hasil penelitian disampaikan pada Kongres Nutrisi Asia di Singapura, 12-15 Juli. Tim peneliti berasal dari IPB, Universitas Airlangga Surabaya, dan Universitas Hasanuddin Makassar.

Sumber: kompas.com