Konsorsium Biofarma Rintis Pembuatan Vaksin Hepatitis B

1 Februari 2012 Artikel Kesehatan


JAKARTA - Dengan dukungan insentif dari Kementerian Riset dan Teknologi, Konsorsium Riset Vaksin yang dimotori PT Bio Farma akan membuat vaksin hepatitis B mulai tahun ini.

Demikian disampaikan Ahmad Dading Gunadi, Asisten Deputi Relevansi Program Riset Iptek, Kementerian Riset dan Teknologi, akhir pekan lalu. Hal ini disampaikan berkaitan dengan lokakarya tentang sinergi lembaga riset, perguruan tinggi dan industri dalam penguatan Sistem Inovasi Nasional yang diadakan Institut Teknologi Bandung.

Pembuatan vaksin hepatitis B oleh konsorsium bertujuan membangun kemandirian dan mengurangi ketergantungan kepada pihak asing. Konsorsium melibatkan Lembaga Biologi Molekuler Eijkman, Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi, serta lima institusi lain.

Untuk program pembuatan vaksin hepatitis B, demikian Dading, Kementerian Riset dan Teknologi (Kemristek) akan mengalokasikan dana Rp 2 miliar per tahun. Adapun Bio Farma akan mengeluarkan Rp 8 miliar.

Dalam konsorsium itu akan dilakukan riset bersama dengan mengerahkan tenaga ahli dan fasilitas laboratorium serta bahan percobaan dan uji dari tiap lembaga atau institusi yang terlibat. Lembaga Biologi Molekuler Eijkman akan menyediakan sumber daya manusia dan laboratorium.

Program riset ini akan berjangka 12-15 tahun. Akan dilakukan penahapan, mulai dari pembuatan prototipe, uji klinik pada hewan dan manusia, hingga produksi komersial oleh industri. Untuk menjaga konsistensi program ini hingga ke produksi massal oleh industri nantinya, menurut Dading, telah ditetapkan roadmap untuk itu.

Vaksin flu burung

Selain pembuatan vaksin hepatitis B, dilaksanakan pula riset vaksin flu burung dan vaksin demam berdarah dengue.

Riset vaksin flu burung dilaksanakan oleh konsorsium beberapa lembaga riset dan perguruan tinggi yang dipimpin oleh Universitas Indonesia. Vaksin flu burung, kata Dading, telah dihasilkan prototipenya. Selanjutnya akan mulai tahap selanjutnya. Adapun vaksin demam berdarah dengue akan dikoordinasikan oleh Badan Penelitian dan Pengembangan Kesehatan, Kementerian Kesehatan.

Dari 1.281 usulan riset yang diajukan, baik oleh konsorsium maupun periset perseorangan, Kemristek melalui seleksi memilih 285 program riset. Total dana insentif yang dialokasikan tahun 2012 mencapai Rp 90 miliar, demikian Erry Ricardo, Asisten Deputi Produktivitas Riset Iptek Industri.

Sebelumnya, kegiatan riset dilaksanakan oleh lembaga riset pemerintah. Sekarang konsorsium dibentuk dan dikoordinasi oleh industri. Dengan demikian, hasilnya dapat langsung diterapkan di industri yang bersangkutan.

Sumber: kompas.com