Keracunan Kehamilan Berujung Koma

7 April 2010 Artikel Kesehatan


Kompas.com - Keracunan kehamilan atau eklamsi, menduduki peringkat kedua sebagai penyebab kematian ibu di Indonesia. Eklamsi adalah kejang dan bisa berujung koma, yang dialami ibu hamil menyusul kondisi preeklamsi yang tidak ditangani dengan baik.

Preeklamsi sendiri merupakan komplikasi serius berupa kumpulan gejala yang meliputi tekanan darah tinggi, proteinuri (adanya kadar protein berlebihan dalam urin), dan edema (bengkak karena berlebihnya cairan dalam jaringan tubuh). Kondisi ini bisa dialami ibu saat hamil, bersalin, maupun masa nifas.

Preeklamsi kebanyakan dialami oleh ibu yang baru pertama kali hamil, juga pada kehamilan usia remaja atau usia di atas 40 tahun. Faktor risiko lainnya riwayat hipertensi terkait kehamilan, riwayat preeklamsi pada ibu atau saudara perempuan, obesitas terkait kehamilan, hamil kembar, riwayat diabetes, penyakit ginjal, lupus, atau rematoid artritis.

Gejala preeklamsi adalah:
Berat badan bertambah lebih dari 1 kg per minggu.
Sakit kepala.
Nyeri perut.
Bengkak pada kaki, tangan, dan wajah.
Masalah penglihatan.

Masih sulit diperkirakan ibu hamil mana dengan preeklamsi yang akan mengalami serangan kejang. Namun, risiko tinggi terjadinya kejang antara lain:
Hasil tes darah abnormal.
Sakit kepala.
Tekanan darah amat tinggi.
Gangguan penglihatan.

Hingga saat ini penyebab pasti eklamsi belum dapat diketahui. Para ahli menduga bahwa kondisi pembuluh darah, faktor sistem saraf dan otak, diet, serta faktor genetik ikut berperan.

Terkait masalah diet, suatu penelitian di Seattle, Amerika Serikat, mendapati bahwa perempuan dengan preeklamsi memiliki tingkat konsumsi asam askorbat (vitamin C) yang rendah. Pada penelitian terhadap 283 perempuan risiko tinggi tersebut, preeklamsi turun pada kelompok yang menggunakan antioksidan, vitamin C dan F. (GHS/rin)

sumber: kompas.com