Kanker Masih Jadi Momok Menakutkan

4 Februari 2010 Artikel Kesehatan


JAKARTA, KOMPAS.com - Kanker masih menjadi momok menakutkan bagi masyarakat Indonesia. Persepsi yang salah tentang penyakit ini masih menjadi kendala utama dalam menangani penyakit mematikan ini.

"Masyarakat masih mempersepsikan kanker sebagai penyakit mematikan, tidak dapat disembuhkan, dan tidak dapat dicegah serta memerlukan biaya yang tinggi untuk pengobatannya," kata Dirjen Pengendalian Penyakit dan Penyehatan Lingkungan (P2PL) Departemen Kesehatan RI, Prof Tjandra Yoga Aditama, dalam keterangannya menyambut Hari Kanker Sedunia yang jatuh Kamis (4/2/2010) ini.

Menurut Tjandra, persepsi salah tentang kanker juga tidak terlepas dari masih minimnya kesadaran masyarakat serta kurangnya informasi tentang penyakit dan cara pencegahannya.

"Masih banyak persoalan dan hambatan yang dihadapi, seperti kurangnya informasi tentang kanker kepada masyarakat, adanya persepsi masyarakat tentang kanker yang tidak benar seperti kanker tidak dapat disembuhkan, penyakit yang memalukan, dan percaya terhadap klenik dalam pengobatan kanker. Di samping itu, kurangnya kesadaran masyarakat dalam mencegah kanker sedini mungkin. Di sisi program, kanker belum menjadi prioritas terutama di daerah," ungkap Tjandra.

Penyakit kanker dan tumor, lanjut Tjandra, diakui masih merupakan penyakit pembunuh papan atas di Indonesia. Berdasarkan data Riset Kesehatan Dasar (Riskesdas) 2008, tumor/kanker merupakan penyebab kematian no. 7 di Indonesia dengan presentasi 5,7 persen. Data Riskesdas 2008 juga menunjukkan, prevalensi tumor/kanker di Indonesia adalah 4,3 per 1000 penduduk.

Kanker payudara dan serviks tertinggi

Di antara sekian banyak jenis, lanjut Tjandra, kanker yang paling banyak ditemukan kasusnya di Indonesia adalah kanker yang diderita perempuan yakni kanker payudara dan kanker leher rahim. Berdasarkan data Sistem Informasi Rumah Sakit (SIRS) 2007, kanker payudara tercatat sebanyak 8.227 kasus (16.85 persen) dan kanker payudara 5.786 kasus (11.78 persen). Sedangkan kanker tertinggi pada laki-laki adalah kanker paru dengan estimasi insidens 20 per 100.000 laki-laki (Globocan, IARC 2002). Menurut SIRS 2007, kasus kanker bronchus dan paru adalah 2.847 kasus (5,8)

Saat ini, kata Tjandra, upaya mengendalikan jumlah penderita kanker adalah dengan cara edukasi dan pencegahan "Upaya pengendalian kanker yang efektif dilakukan adalah dengan memberikan informasi yang seluas-luasnya kepada masyarakat bahwa kanker dapat dicegah, dengan mengetahui faktor risikonya dan melakukan pencegahan primer, sekunder, dan tersier secara terpadu," ujarnya.

Depkes juga terus berupaya untuk menurunkan angka kesakitan dan kematian akibat kanker di Indonesia melalui program-program yang terukur. Saat ini program pengendalian kanker diutamakan pada kanker tertinggi yaitu kanker leher rahim dan payudara dengan pembentukan pilot proyek deteksi dini di 6 provinsi (6 kabupaten) dan pengembangannya sampai saat ini tengah berjalan di 11 kabupaten/kota, menggunakan metode Inspeksi Visual dengan Asam Asetat (IVA) dan Clinical Breast Examination (CBE).

"Program deteksi dini kanker leher rahim dan payudara mempunyai target 80 persen perempuan usia 30-50 tahun untuk di skrining sehingga diharapkan terhindar dari kedua kanker tersebut. Pada tahun 2014 Depkes menargetkan 25 persen kabupaten/kota di Indonesia akan melaksanakan deteksi dini kanker leher rahim dengan IVA dan kanker payudara dengan CBE," kata Tjandra.

sumber: kompas.com