Kadar Lemak Tinggi Tulang Tebal

14 Januari 2010 Artikel Kesehatan


ketat untuk menguruskan badan bisa membahayakan kesehatan tulang remaja. Peneliti dari Bristol University menemukan bahwa kekuatan tulang berkaitan dengan kadar lemak. Artinya, dorongan menjadi kurus akan memperbesar risiko patah tulang.

Studi jangka panjang yang mengikuti perkembangan anak ini juga menemukan bahwa massa lemak lebih penting dalam perkembangan tulang perempuan dibandingkan anak laki-laki.

Dalam studi ini, para peneliti melibatkan 4,000 remaja berusia 15. Partisipan diminta menjalani scanning tulang untuk memperhitungkan bentuk dan kepadatan tulang, serta jumlah lemak yang terkandung di tubuh mereka.

Peneliti menemukan, partisipan dengan kadar lemak lebih tinggi cenderung memiliki tulang yang lebih tebal, khususnya pada perempuan.

Penambahan massa lemak sebanyak 5 kg pada perempuan setara dengan penambahan 8 persen ketebalan tulang pada kaki bagian bawah.

Bangun tulang saat muda

Kepadatan tulang akan terus meningkat secara perlahan hingga usia pertengahan 20-an. Tapi setelah usia 35, kepadatan tulang akan berkurang sebagai bagian dari proses penuaan alami.

Karena itu sangat penting untuk membangun tulang yang kuat di masa muda, khususnya bagi perempuan yang berisiko 3 kali lebih besar mengalami penipisan tulang atau osteoporosis dan patah tulang pinggul, dibandingkan laki-laki.

Pemimpin studi Profesor Jon Tobias menyatakan bahwa keinginan remaja tampil kurus mempunyai sisi positif, tapi remaja juga perlu menyadarari bahwa hal ini bisa membahayakan perkembangan tulang dan membuat mereka lebih berisiko mengalami osteoporosis.

"Banyak yang mengira olahraga merupakan kunci untuk menurunkan berat badan dan membentuk tulang kuat secara bersamaan. Tapi hal ini tidak sepenuhnya benar," terang Tobias, seperti dikutip situs dailymail."Jika Anda melakukan aktivitas yang low impact, seperti jalan, Anda akan menghilangkan lemak tetapi tidak cukup kuat untuk membentuk tulang."

Untuk mencegah efek negatif hilangnya lemak terhap kepadatan tulang, lanjut Tobias, ada baiknya menyertakan olahraga yang high impact seperti berlari atau melompat. (OL-08)

sumber: mediaindonesia.com/mediahidupsehat