Kadar Lemak dan Kalori Paling Ditakuti?

28 Februari 2011 Artikel Kesehatan


Bisnis food service Unilever Food Solutions (UFS) belum lama ini merilis hasil temuan berjudul "World Menu Report". Riset ini melibatkan 3.500 responden (500 responden per negara) di Amerika Serikat, Inggris, Jerman, Cina, Rusia, Brazil, dan Turki. Hasil temuan yang diterbitkan rutin dua kali setahun ini ingin mengukur sikap dan tingkah laku orang saat makan di luar. Hasilnya, 90 persen responden butuh informasi detail dari menu makanan di restoran. Kadar lemak dan kalori adalah informasi tertinggi yang diharapkan muncul di menu atau setidaknya mampu dijelaskan koki.

Selain kadar lemak dan kalori dalam makanan, survei ini juga menunjukkan bahwa kandungan bahan pengawet dan perasa makanan berada dalam urutan informasi teratas yang ingin diketahui konsumen.

Di Inggris dan Amerika Serikat, kadar garam menjadi informasi yang sangat ingin diketahui. Sedangkan di China, orang lebih ingin tahu kadar vitamin dan protein yang terkandung dalam makanan mereka.

Amerika Serikat: Orang Amerika lebih memilih makanan yang mengandung sedikit lemak, garam, dan bahan tambahan pangan. Sebanyak 67 persen dari 500 responden mengharapkan adanya label makanan yang menyertakan infomasi kandungan lemak, garam, dan kalori pada menu.

Inggris: Sekitar 61 persen dari 500 orang di Inggris menginginkan label makanan pada menu agar mereka bisa memilih makanan yang mengandung sedikit kalori, lemak, gula, dan garam.

China: "Saya lebih memilih makanan sehat yang mengandung berbagai nutrisi," inilah komentar kebanyakan orang di China menurut hasil survei. Karenanya 93 persen responden menuntut adanya label makanan di menu.

Jerman: Orang Jerman akan memilih makanan yang mengandung lebih sedikit kalori dan lemak. Mereka pun lebih kritis bertanya mengenai makanan yang dituliskan di menu restoran. Karena kebiasaan bertanya dan detail menanyakan menu, hanya 58 responden dari 500 orang yang membutuhkan adanya label makanan yang menjelaskan kandungan kalori atau lemak di menu.

"Di Jerman informasi mengenai kandungan makanan memang lebih banyak tersedia," jelas Adam Djokovic, Managing Director UFS Indonesia. Meski di Indonesia belum ada riset serupa, hasil temuan ini bisa menjadi rujukan di Indonesia. Artinya, Anda sebagai konsumen layak mendapatkan hak yang sama seperti penduduk dunia lainnya.

Sumber: kompas.com