Jangan Remehkan Vitamin C

12 Mei 2011 Artikel Kesehatan


Vitamin C selama ini baru diingat saat kita sedang flu. Padahal, vitamin C memiliki kemampuan dan daya kerja yang begitu menakjubkan. Makin kita mempelajari vitamin ini, makin besar pemahaman kita akan manfaatnya untuk melindungi kesehatan.

Studi teranyar yang dimuat dalam Seminars in Preventive and Alternative Medicine yang menganalisa 100 penelitian dalam 10 tahun terakhir mengungkap sederet manfaat vitamin C yang selama ini belum diketahui.

Selain meningkatkan kekebalan tubuh, vitamin C juga berguna untuk mempercepat penyembuhan luka, sebagai antioksidan, menyehatkan mata, jantung, hingga mencegah kulit keriput.

Penelitian juga mengungkap manfaat vitamin C untuk mencegah penyakit alzheimer, yang menyebabkan kita menjadi pikun, dan mencegah kanker.

"Vitamin C kaya akan antioksidan yang bisa menghambat radikal bebas yang bisa mencetuskan kanker," kata dr. Fiastuti Witjaksono, Sp.GK, ahli gizi dari Departemen Ilmu Gizi Fakultas Kedokteran Indonesia.

Ia menambahkan, orang yang kekurangan vitamin C biasanya lebih mudah terkena infeksi dan ketika sakit, proses penyembuhan lukanya lebih lama.

Begitu pentingnya manfaat vitamin C dalam menjaga kualitas hidup seseorang, Mark Moyad, MD dari University of Michigan, Amerika Serikat, yang melakukan riset tentang vitamin C mengatakan, kadar vitamin C dalam tubuh bisa menentukan status kesehatan secara keseluruhan. Dengan kata lain, kita bisa dianggap kurang sehat jika kekurangan vitamin C.

Sayangnya, vitamin C tidak bisa dibuat tubuh sehingga harus dipenuhi dari luar. Selain itu, kadar vitamin C dalam jaringan juga sangat cepat menurun karena mudah sekali teroksidasi.

"Vitamin C tidak bisa disimpan dalam jumlah banyak karena sifatnya yang mudah larut dalam air, sehingga kita tidak bisa makan vitamin banyak-banyak untuk cadangan seminggu misalnya," kata Fiastuti.

Alami lebih baik

Dalam kondisi normal, setiap hari kita membutuhkan vitamin C sekitar 45 mg. Bagi wanita, ketika mereka hamil dan menyusui, kebutuhannya naik, yakni menjadi 60 mg saat hamil dan 85 mg ketika menyusui.

Namun, menurut Fiastuti, orang yang sering terkena polusi, sedang stres, perokok, kurang tidur, atau mereka yang baru sembuh dari sakit membutuhkan vitamin C dalam jumlah yang lebih banyak dari kebutuhan normal.

Vitamin C sebenarnya bisa didapatkan dari konsumsi buah dan sayuran sehari-hari. Namun, gaya hidup modern yang makin sibuk dan mobile menjadi pemicu menjamurnya produk-produk suplemen multivitamin.

Untuk konsumsi suplemen vitamin, Fiastuti tak sepenuhnya setuju. "Bila tubuh terasa sehat, sebaiknya kita mencukupi kebutuhan vitamin dari buah. Bila kita mengasup suplemen vitamin, isinya hanya vitamin saja. Sementara di dalam buah terkandung vitamin dan mineral, serat, cairan, serta fitokemikal."

Dia juga menepis anggapan vitamin dari suplemen lebih mudah diserap oleh tubuh. "Penelitian terhadap buah kiwi menunjukkan vitamin C pada buah ini terbukti lima kali lebih efektif diserap tubuh dibanding suplemen," katanya.

Seperti diketahui, buah kiwi memiliki vitamin C lebih tinggi dibanding buah-buahan lain, seperti jeruk, apel, mangga, atau pepaya.

Satu buah kiwi gold berukuran 100 gram mengandung 105 mg vitamin C dan kiwi hijau mengandung 92,7 mg vitamin C. Karena itu, mengonsumsi dua buah kiwi setiap hari sudah mencukupi kebutuhan tubuh akan vitamin C.

Keunggulan lain buah andalan Selandia Baru ini adalah kaya akan asam folat, memiliki indeks glikemik rendah atau tidak cepat menaikkan kadar gula darah sehingga aman untuk penderita diabetes.

Temuan riset

Studi mengenai kemampuan penyerapan (bioavaibilitas) buah kiwi itu dilakukan terhadap tikus-tikus percobaan dan dipublikasikan dalam American Journal of Clinical Nutrition tahun 2010.

Dalam penelitian diketahui, tikus yang diberi asupan vitamin C dari buah kiwi memiliki kadar vitamin C yang konstan dan lebih efektif diserap dibanding sumber vitamin dari suplemen.

Sumber: kompas.com