Jangan Mudah Pakai Antibiotik

7 September 2009 Artikel Kesehatan


Fenomena bakteri yang kebal antibiotik telah mencapai taraf yang sangat mengkhawatirkan. Telah banyak jenis bakteri penyebab penyakit yang pada awalnya dapat diobati dengan antibiotik, kemudian mampu mengembangkan kekebalan. Hal ini biasanya dipicu penggunaan obat yang tidak rasional, seperti penggunaan antibiotik yang tidak tuntas ataupun penggunaan tanpa dasar klinis yang jelas. Akibatnya, pasien sendiri yang dirugikan.

Hal ini terungkap dalam sosialisasi Program Pengendalian Resistensi Antimikroba di RSMH Palembang, Kamis (30/7) lalu. Bahkan menurut dokter spesialis penyakit kulit dan kelamin RSMH Palembang, Prof dr Sunarto, SpKK, penggunaan antibiotik yang tidak semestinya selain dapat menimbulkan resistensi juga dapat mengancam nyawa pasien.

Selama ini seringkali sebagian pasien menganggap antibiotik merupakan obat paling mujarab. Antibiotik kerap digunakan untuk pelbagai penyakit ringan yang disebabkan oleh virus tanpa mengindahkan aturan penggunaannya. Padahal cukup dengan istirahat dan meningkatkan kekebalan tubuh dengan mengkonsumsi buah dan makanan yang memadai sebetulnya penyakit tersebut akan sembuh karena penyakit yang disebabkan virus biasanya merupakan self limiting disease yang dapat sembuh sendiri seiring waktu.

Terkadang dengan asumsi sendiri, lanjut Sunarto, pasien tidak mematuhi instruksi pemberian obat, dimana antibiotik yang diresepkan seharusnya diminum sampai habis tetapi ternyata dihentikan sebelum waktunya karena pasien merasa kondisi tubuhnya telah membaik.

Seringkali terjadi, penggunaan antibiotika yang tidak tuntas hanya memunculkan bakteri yang kebal terhadap antibiotik. Sebagai gambaran, bakteri TBC dapat menjadi kebal hanya dalam jangka waktu enam sampai delapan minggu jika obat seperti rifampisin atau pirazinamid digunakan secara sembarangan.

Bahkan yang lebih miris adalah pasien sering kali memaksa untuk diberi antibiotik, dan terkadang oknum tenaga kesehatan pun memberikan antibiotik pada yang kurang memerlukannya. karena bisa dibeli dengan mudah, sebagian masyarakat melakukan pengobatan sendiri dengan antibiotik tanpa berkonsultasi dengan tenaga kesehatan. Kalau penyakitnya disebabkan bakteri, antibiotik memang diperlukan. Tapi kalau karena virus, cukup istirahat dan makan serta minum, disamping obat, insyaallah sembuh, katanya.

Satu hal yang harus dipahami masyarakat, tubuh kita ini dapat membentuk antibiotik sendiri. biarkan dokter yang memutuskan, perlu tidaknya antibiotik diberikan, kata Yuwono. (sin)

Sumber: Sriwijaya Post Cetak (sripoku.com)