Jaga Lambung Saat Liburan

23 Desember 2009 Artikel Kesehatan


MUSIM liburan yang akrab dengan makan berlebih, pesta dan seringnya bepergian, menurut Roger D. Mitty, M.D., dari Elizabeth's Medical Center di Boston, sangat berpengaruh dengan gangguan lambung. Berikut beberapa gangguan lambung yang paling sering muncul saat liburan dan cara mengatasinya.

Heartburn (naiknya asam lambung ke kerongkongan)
Pemicu: makan berlebih saat liburan

Makan melebihi jumlah yang diperlukan tubuh, khususnya makanan yang sulit dicerna seperti makanan kaya lemak, merupakan penyebab klasik heartburn, gangguan yang ditandai dengan rasa sakit di bagian atas perut dan seringkali diikuti dengan mual, muntah, dan rasa pahit di mulut. Sensasi terbakar yang dirasakan di dada disebabkan oleh naiknya asam lambung ke kerongkongan.

Jika heartburn menyerang, cobalah meredakan gejala dengan mengonsumsi antasid. Atau jika sudah tahu akan makan besar, ada baiknya menggunakan obat penghambat asam lambung sekitar setengah jam sebelum makan. Obat ini bekerja selama 8 jam atau lebih dan bisa mencegah heartburn. Selain itu, cobalah jangan berbaring hingga beberapa jam setelah makan, karena hal ini bisa memicu naiknya asam lambung ke kerongkongan.

Perut kembung dan konstipasi
Pemicu: banyak bepergian

Bepergian membuat Anda mengurangi aktivitas fisik atau kekurangan cairan, sehingga menghambat gerakan sisa makanan di saluran pencernaan. Selain itu, bepergian akan menuntut Anda lebih sering makan di luar dan meninggalkan makanan sehat kaya serat seperti sereal, buah dan sayuran yang berfungsi memperlancar pencernaan.

Untuk meredakan gangguan ini, cobalah menggunakan laksatif yang bisa menarik cairan secara perlahan ke usus. Cara ini memerlukan waktu kerja hingga 3 hari. Tapi, pastikan tidak menggunakannya lebih dari 2 minggu karena bisa menyebabkan ketergantungan.

Iritasi lambung atau maag
Pemicu: menambah penggunaan obat penghilang rasa sakit

Menurut Joanne A.P. Wilson, M.D. dari Duke University Medical Center, pada hari-hari tenang biasa saja, banyak perempuan yang menggunakan terlalu banyak obat penghilang rasa sakit (seperti ibuprofen atau aspirin) untuk mengatasi berbagai rasa sakit pada bagian tubuh, migrain dan kram saat menstruasi. Dan penggunaan ini, terang dia, seringkali meningkat saat perempuan dihadapkan pada kondisi stres di musim liburan, seperti penundaan jadwal penerbangan.

Menggunakan obat penghilang rasa sakit secara teratur, lanjut Wilson, akan melemahkan sistem pertahanan lambung terhadap asam-asam pencernaan, sehingga memicu peradangan lapisan lambung. Sebagai akibatnya, Anda akan merasa sensasi terbakar dan sakit yang muncul dan hilang setiap hari atau rasa sakit kronis di bagian atas perut.

Untuk mencegah iritasi, pilihlah penghilang rasa sakit yang lebih lembut terhadap lambung seperti acetaminophen. Dan untuk membantu pemulihan, cobalah menggunakan obat-obatan yang membantu mengurangi produksi asam lambung.

Kejang dan kram usus besar yang menimbulkan rasa sakit
Pemicu: kelelahan

Banyak perempuan mengalami sindrom iritasi usus (irritable bowel syndrome/IBS) yang umumnya dipicu oleh stres. IBS merupakan kondisi yang memicu kram dan rasa sakit kronis pada perut bagian bawah diikuti dengan konstipasi, diare atau keduanya. Jika mengalami gejala ini, kemungkinan Anda menderita IBS. Studi baru-baru ini menyatakan bahwa 76 persen dari kasus IBS tidak terdiagnosis.

Tidak ada pengobatan tunggal yang bisa menyembuhkan IBS. Makanan tertentu memperparah kondidi IBS pada beberapa orang, jadi buatlah diari makanan selama beberapa minggu untuk menemukan makanan mana yang memicu gejala IBS Anda. Selain itu, cobalah berkonsultasi dengan dokter untuk menemukan obat yang tepat. (OL-08)

sumber: mediaindonesia.com/mediahidupsehat