Insulin Mengurangi Peradangan Akibat Obesitas

14 Mei 2010 Artikel Kesehatan


Jumlah penderita diabetes tipe 2 dan penyakit jantung meningkat pesat dalam sepuluh tahun terakhir ini. Ini merupakan akibat makan makanan tinggi lemak, yang menyebabkan obesitas dan, pada gilirannya, bisa mengakibatkan diabetes. Peneliti dari Universitas Gothenburg, Swedia, baru-baru ini telah menemukan sifat insulin yang mengurangi peradangan yang disebabkan oleh obesitas dan karena itu dapat menurunkan risiko diabetes tipe 2.

Pada orang-orang yang obesitas, tumbuh jaringan lemak dan mulai menghasilkan molekul-molekul peradangan. Hal ini memainkan peran penting terjadinya resistensi insulin, tahap awal diabetes tipe 2, ketika tubuh tidak mampu mengatur kadar gula darah dengan menggunakan insulin sendiri.

"Itu masih belum sepenuhnya jelas mengapa obesitas menyebabkan resistensi insulin," kata Emelie dari Universitas Gothenburg. "Peradangan dapat menjadi bagian dari alasan mengapa obesitas menyebabkan diabetes tipe 2."

Penelitian telah menunjukkan bahwa baik obesitas dan resistensi insulin dipengaruhi oleh kondisi peradangan dalam tubuh. Sebelumnya diyakini bahwa jaringan lemak hanya menjadi penyimpanan lemak, tetapi sekarang para ilmuwan tahu bahwa itu juga merupakan organ penting bagi pelepasan berbagai zat yang berbeda, termasuk molekul inflamasi. Dalam tesis ini, para peneliti berhasil mengidentifikasi sifat molekul inflamasi IL-6.

"IL-6 mengganggu sinyal insulin, tetapi sinyal insulin itu sendiri juga dapat menghambat dan "mematikan" sinyal IL-6 dan peradangan," kata Wallerstedt. "Protein PKCdelta juga memainkan peran penting dalam pengaturan sinyal IL-6, dan kami telah menunjukkan bahwa jika kita menonaktifkan fungsi molekul ini, akan terjadi penurunan peradangan."

Sebuah pemahaman yang lebih besar dari mekanisme pensinyalan ini membuka kemungkinan di masa mendatang untuk mengembangkan obat yang dapat "mematikan" peradangan dan mengurangi risiko gangguan resistensi insulin dan lainnya yang berhubungan dengan obesitas. (NF)

Sumber: Medical News Today (tempointeraktif.com)