Info Medika: Stop Merokok Cegah ADHD

3 Desember 2009 Artikel Kesehatan


Jika Anda pecandu rokok dan sedang mengandung, ada baiknya Anda segera menghentikan kesukaan tersebut. Sebuah penelitian baru menyebutkan, seorang ibu hamil yang merokok, besar kemungkinan anaknya akan menderita attention-deficit hyperactivity disorder (ADHD). Apalagi jika setelah lahir anak tersebut selalu terpapar asap rokok.

Menurut penelitian tersebut, anak yang ibunya merokok ketika hamil dan darahnya mengandung paparan rokok, memiliki risiko menderita ADHD delapan kali lipat lebih besar dari anak yang sama sekali tidak terpapar rokok.

ADHD adalah gangguan perkembangan dalam peningkatan aktivitas motorik anak-anak hingga aktivitas anak-anak yang tidak lazim dan cenderung berlebihan. Gejalanya antara lain merasa gelisah, tidak bisa diam, tidak bisa duduk dengan tenang, dan selalu meninggalkan keadaan yang tetap seperti duduk atau berdiri. Tak jarang mereka juga temperamental, beraktivitas secara berlebihan, dan suka membuat keributan.

Ketika Anda mengalami kedua paparan itu, maka muncul efek yang sinergis, kata ketua studi Dr. Tanya Froehlich, spesialis pediatrik perilaku dan perkembangan di Cincinnati Childrens Hospital Medical Center. Peneliti menyimpulkan, sekitar 38 persen kasus ADHD pada anak terjadi lantaran si anak telah terpapar rokok sejak di dalam kandungan sementara 25 persen lainnya karena terpapar rokok ketika sudah lahir.

Froehlich dan rekan-rekannya menggunakan data 2.588 anak usia 8 hingga 15 tahun dari seluruh penjuru Amerika yang ikut dalam Survei Kajian Nutrisi dan Kesehatan Nasional 2001-2004. Paparan rokok diukur dengan menanyai ibu apakah mereka merokok selama mengandung. Adapun konsentrasi paparan rokok diukur menggunakan tes darah. Hasilnya, sekitar 8,7 persen anak masuk dalam kriteria ADHD.

Termasuk di dalamnya adalah 16,8 persen anak yang ibunya merokok selama mengandung dan 6,6 persen anak yang ibunya tidak merokok. Anak-anak yang terpapar rokok dibagi menjadi tiga kelompok: rendah, sedang, dan tinggi.

Mereka yang memiliki kadar rokok dalam darah paling rendah yang menderita ADHD hanya 5,2 persen. Adapun pada mereka yang kadar rokok dalam darahnya masuk kategori sedang dan tinggi, yang menderita ADHD masing-masing sekitar 9,1 dan 13,6 persen.

Bagaimana yang terpapar rokok baik ketika masih di dalam kandungan maupun setelah lahir? Sekitar 28,6 persen dari mereka menderita ADHD, kata Froehlich sebagaimana dirilis laman Pediatrics. Para peneliti tidak menemukan kaitan kuat antara paparan asap rokok dari pihak kedua selama masa kanak-kanak dan ADHD.

Penelitian sebelumnya membuktikan asap rokok adalah racun bagi otak anak dan berhubungan dengan IQ rendah serta hiperaktivitas pada anak. (Nur Hidayatullah-13)

Tahan Amarah Picu Serangan Jantung

JIKA ada masalah, bicarakanlah. Jangan dipendam dalam hati karena dapat mengundang penyakit. Sekilas tampaknya nasihat itu hanya untuk menghibur orang, padahal kenyataannya memang benar.

Hasil studi ilmuwan Stress Research Institute di Stockholm, Swedia membuktikan, laki-laki yang tidak mengekspresikan kemarahannya saat diperlakukan secara tidak adil di tempat kerja, berisiko menderita serangan jantung dua kali lipat lebih tinggi.

Peneliti melibatkan 2.755 karyawan laki-laki di Stockholm yang menderita serangan jantung ketika studi ini dimulai. Mereka ditanya bagaimana cara mereka menyikapi konflik di tempat kerja, baik dengan atasan maupun rekan sekantor. Ternyata ada kaitan yang kuat antara memendan amarah dan penyakit jantung, kata peneliti sebagaimana dirilis Journal of Epidemiology and Community Health.

Para partisipan ditanya metode apa yang digunakan: apakah mereka menghiraukan masalah yang ada, mengabaikannya begitu saja tanpa mengatakan sesuatu, lari dari masalah, mengalami gejala pusing atau sakit perut atau bahkan marah-marah di rumah.

Mereka juga dicek apakah merokok, mengonsumsi minuman beralkohol, beraktivitas fisik, belajar, menderita diabetes, memiliki tuntutan pekerjaan dan kewenangan membuat keputusan di tempat kerja. Selain itu tekanan darah, berat badan, dan kadar kolesterolnya juga diukur. Saat studi tersebut dimulai antara tahun 1992 dan 1995, para partisipan rata-rata berusia 41 tahun.

Para peneliti kemudian membandingkan data itu dengan data kematian akibat serangan jantung dalam periode di atas tahun 2003 dari data nasional perawatan dan kematian di rumah sakit. Setelah tahun 2003, ternyata 47 dari 2.755 partisipan menderita serangan jantung atau meninggal karena penyakit jantung.

Dibanding mereka yang tertantang menghadapi masalah, mereka yang sering lari dari masalah atau mengabaikan masalah memiliki risiko dua kali lipat menderita serangan jantung atau meninggal dunia karena penyakit jantung serius. Gejala seperti pusing, sakit perut, atau marah-marah di rumah yang dialami sebagian partisipan saat menghadapi masalah terbukti tidak meningkatkan risiko penyakit jantung .

Para peneliti yakin, kemarahan yang tidak disalurkan dapat memproduksi tekanan psikologis sehingga meningkatkan tekanan darah yang pada akhirnya berakibat pada kerusakan sistem kardiovaskuler. (Nur Hidayatullah-13)

Sumber: Suaramerdeka.Com