Traveling Aman untuk Ibu Hamil

9 Mei 2014 Ibu dan Anak   |    dr. Ivander Utama, F.MAS, SpOG.


Traveling telah menjadi tradisi setiap wanita, baik itu wanita karier maupun ibu rumah tangga. Berkumpul dengan keluarga besar dan teman-teman, menjadi kesenangan tersendiri yang direncanakan sejak lama dengan tujuan untuk menyegarkan diri dari kesuntukkan pekerjaan sehari-hari. Kehamilan terutama yang sudah besar menjadi bahan pertimbangan bagi para ibu hamil untuk menempuh perjalanan jauh. Hamil besar memang memiliki resiko tertentu namun, hal ini bukan menjadi halangan bagi ibu hamil untuk menempuh perjalanan jauh asal mengenal kiat-kiat agar melindungi diri dan kehamilan.

Berikut adalah kiat dan tips yang dapat bermanfaat.

Sebelum menempuh perjalanan, pastikan ibu mengetahui usia kehamilan dan perkiraan akan tanggal persalinan. Diharapkan sebelum pergi untuk memeriksakan diri dan memastikan kehamilan serta janin tidak bermasalah dan siap untuk bepergian. Beberapa kehamilan beresiko yang membutuhkan perhatian khusus sebaiknya menghindari berpergian jauh karena dapat membahayakan ibu dan janin. Ibu hamil dan rekan pendamping atau pasangan Anda juga harus paham tanda-tanda akan dimulainya persalinan dan kegawat daruratan dalam kehamilan, seperti keluar cairan dari jalan lahir yang tiba-tiba maupun bersifat merembes dalam waktu lama, rasa nyeri yang menjalar dari punggung ke perut bagian atas lalu ke bagian bawah, keluarnya lendir yang bercampur sedikit darah dari jalan lahir, perdarahan, gerakan anak berkurang, dan pecah ketuban. Bila salah satu tanda di atas muncul, segeralah mencari pertolongan di pusat kesehatan terdekat. Pastikan persediaan suplemen untuk kehamilan selama Anda pergi cukup. Busana yang sesuai dengan iklim di tempat tujuan juga akan membantu, mengingat selama hamil ibu akan mudah berkeringat. Bepergian jauh tidak disarankan bila telah mendekati perkiraan persalinan (kecuali bila memang Anda merencanakan persalinan di tempat tujuan Anda atau hari menjelang perkiraan persalinan). Keputusan ini diambil mengingat perkiraan tanggal persalinan dapat menjadi lebih cepat. Bila tanggal persalinan maju, Anda akan kesulitan untuk mencari tenaga medis yang dapat membantu persalinan, selain itu bagi tenaga medis yang menolong juga akan mengalami kesulitan karena tidak mengenal riwayat kehamilan Anda. Terakhir adalah jangan habiskan seluruh tabungan Anda pada liburan ini. Ingat bahwa persalinan (dan komplikasinya) dapat terjadi kapan saja, pastikan Anda telah mempersiapkan dana yang cukup untuk membiayai persalinan.

Kelelahan adalah hal yang harus dihindari selama hamil. Kelelahan secara fisik dan emosional memacu timbulnya keguguran pada kehamilan muda dan persalinan prematur pada kehamilan yang lebih tua. Kadangkala karena rasa senang, Anda dapat tidak atau terlambat merasakan lelah, hal ini tentunya harus dihindari. Istirahatlah yang cukup mengingat seorang ibu hamil membutuhkan 8 jam tidur sehari untuk kesejahteraan janin yang dikandungnya. Bila Anda menggunakan transportasi publik dimana kesulitan untuk menemukan tempat makan yang bersih, membawa bekal adalah hal yang bijaksana. Selain itu, selama kehamilan metabolisme tubuh menjadi lebih aktif sehingga terjadi penguapan lebih banyak. Oleh karena itu, disarankan agar Anda membawa bekal air minum secukupnya.

Menggunakan kapal terbang pada kehamilan besar tidak menjadi masalah. Tekanan udara di dalam kabin telah disesuaikan sehingga tidak mengganggu kehamilan. Setiap maskapai penerbangan memiliki kebijaksanaan tersendiri demi keamanan penumpangnya. Pastikan Anda mengetahui persyaratan dan kebijaksanaan maskapai tersebut sebelum Anda memesan tiket. Mintalah surat keteragan hamil dan surat keterangan layak menempuh peralanan dari dokter spesialis tempat Anda melakukan kontrol kehamilan. Bawalah juga ringkasan riwayat kontrol kehamilan Anda untuk diserahkan pada dokter bila terjadi hal-hal darurat.

Selama perjalanan, sebisa mungkin seorang ibu berjalan-jalan setiap 2 jam. Hal ini penting karena pada kehamilan besar, rahim ibu dapat menekan pembuluh darah besar di panggul sehingga sirkulasi darah menjadi tidak lancar. Hal ini meningkatkan resiko terbentuknya bekuan darah (venous thromboembolism) yang bila bekuan tersebut terlepas, maka dapat sangat berbahaya. Selain itu dengan berjalan-jalan, bumil dapat mengurangi bengkak pada kaki yang sering dialami ibu hamil.

Sarana transportasi darat publik memiliki permasalahan dalam hal keamanan dan kenyamanan. Kereta api kelas ekonomi cenderung untuk ditumpangi secara berlebihan sehingga dapat meningkatkan resiko cedera kepada ibu hamil. Misalnya kekurangan oksigen akibat berdesakan, trauma tumpul akibat perubahan kecepatan secara mendadak, dan lain-lain. Transportasi publik lainnya adalah bus. Perlu menjadi perhatian penting adalah sabuk pengaman yang cenderung "asal ada" serta mayoritas pengemudi yang ugal-ugalan membuat keamanan ibu hamil terancam. Pilihlah bus dengan reputasi kendaraan dan pengemudi yang baik. Jangan ragu untuk menegur pengemudi bus bila ternyata mengemudi dengan ugal-ugalan, ingatlah bahwa nyawa penumpang berada di tangan pengemudi tersebut.

Pada mobil pribadi, Tyroch, dkk (1999) menyatakan hampir 50% ibu hamil tidak menggunakan sabuk kendaraan dengan benar. Sabuk kendaraan yang disarankan bagi ibu hamil adalah sabuk kendaraan 3 titik. Sabuk ini adalah sabuk standar pada kendaraan Anda, penggunaan sabuk tambahan dengan hanya 2 titik diragukan keamanannya. Penggunaan sabuk yang benar adalah sabuk terbawah diletakkan melintang dibawah perut (rahim), diatas paha. Bagian bahu harus benar-benar terletak di antara payudara. Aturlah suhu AC mobil Anda agar nyaman dan tidak mudah berkeringat. Penggunaan pewangi mobil juga jangan terlalu menyengat mengingat ibu hamil sangat sensitif terhadap bau-bauan terutama pada kehamilan muda. Airbag yang telah menjadi standar keamanan sebuah kendaraan belum teruji keamanannya terhadap ibu hamil karena ditemukan kasus-kasus kecelakaan dimana ibu selamat namun janin yang dikandung meninggal.

Kendaraan roda dua relatif dapat menghemat waktu di jalan, namun sebagian besar pengguna sepeda motor cenderung mengabaikan peraturan lalu lintas sehingga statistik menunjukkan angka kecelakaan yang sangat tinggi bagi pengguna sepeda motor lebih daripada kendaraan lain di jalan raya. Selain itu kendaraan roda dua kurang memberikan perlindungan bagi penggunanya, hal ini meningkatkan resiko cedera pada janin dan ibu hamil bila terjadi kecelakaan.

Trauma tumpul selama kehamilan di negara maju sebagian besar diakibatkan oleh kecelakaan lalu lintas. Angka kematian ibu dan janin terbilang tinggi dalam kecelakaan kendaraan bermotor, namun hal ini berkurang dengan penggunaan sabuk kendaraan 3 titik. Lokasi trauma tumpul pada perut atau pinggang dapat membahayakan janin dan ibu. Beberapa kasus seperti perdarahan, pecah ketuban, kerusakan plasenta, patah tulang panggul, cedera lecut pada kepala janin, cedera pada tengkorak dan otak janin, kematian janin saat persalinan, kematian janin dalam kandungan, dan lain-lain dapat terjadi akibat kecelakaan lalu lintas. Kecepatan saat terjadinya kecelakaan sangat mempengaruhi besar cedera yang terjadi. Trauma fisik yang dianggap ringan dan tidak memberikan jejas pada ibu ternyata dapat pula menyebabkan komplikasi dalam kehamilan.

Trauma fisik bisa mematikan namun bahkan pada trauma fisik minimal, seorang ibu dapat menerima trauma psikis yang juga memberikan dampak buruk pada kehamilan. Trauma psikis dapat mengakibatkan terjadinya persalinan prematur, kematian janin dan komplikasi lain dalam persalinan.

Peraturan lalu lintas saja belum dapat memberi perlindungan bagi pengguna jalan raya. Sisanya adalah doa, ketaatan terhadap peraturan dan persiapan anda dalam menghadapi perjalanan.

Semoga bermanfaat.

(Penulis adalah Dokter Spesialis Obstetri dan Kandungan di RSIA Bunda Menteng dan RSB Citra Ananda)
Artikel dan tulisan lainnya dapat dilihat di www.kompasiana.com/ivanderutama