Anemia pada Ibu Hamil

3 Mei 2016 Ibu dan Anak   |    dr. Ivander Utama, F.MAS, SpOG.


Ibu hamil seringkali mengalami kurang darah (anemia) selama hamil. Sayangnya hal ini sering dianggap remeh, padahal dampaknya untuk bayi sangat signifikan. Mengapa demikian?

Pemeriksaan darah saat hamil harus dilakukan sejak awal kehamilan. Hal ini bertujuan untuk menyingkirkan berbagai penyakit dan gangguan kesehatan yang dapat mengganggu bayi dalam kandungan. Namun hal ini seringkali diabaikan bahkan baru dilakukan saat menjelang persalinan.

Salah satu hal mendasar yang penting diperiksa adalah apakah seorang ibu hamil kurang darah atau tidak. Sayang sekali banyak ibu hamil yang masih menyamakan kurang darah (anemia) dengan tekanan darah rendah (hipotensi atau tensi rendah). Hal ini sering terjadi karena ibu hamil tidak mendapatkan informasi yang baik dari petugas kesehatan.

Anemia adalah kurangnya kadar Hb (hemoglobin) dalam darah. Anemia dialami oleh 40% wanita di Indonesia dan 30% wanita hamil di Indonesia mengalami anemia. Penyebab tersering adalah kekurangan zat besi, diikuti dengan anemia karena kekurangan asam folat dan kekurangan vitamin B12.

Anemia dalam kehamilan meningkatkan resiko:

  1. Bayi kurang gizi (IUGR)
  2. Persalinan premature
  3. Gangguan pematangan organ tubuh terutama paru janin
  4. Bayi lahir dengan anemia
  5. Gangguan kontraksi rahim yg dapat berakibat macetnya persalinan hingga perdarahan pasca persalinan
  6. Gangguan tumbuh kembang ringan sampai berat.


Khusus untuk anemia karena kekurangan asam folat, maka resiko cacat pada tempurung kepala dan tulang punggung akan meningkat.

Gejala anemia pada ibu hamil:

  • Lemas, letih, lesu
  • Lekas lelah
  • Pusing kepala
  • Gangguan mood
  • Depresi
  • Perasaan seperti melayang (gleyengan).


Pemberian suplemen zat besi dapat menurunkan resiko anemia, namun pemberian zat besi pada ibu hamil dapat meningkatkan resiko susah buang air besar. Oleh karena itu pemberian zat besi harus diberikan atas dasar bukti adanya resiko atau keadaan anemia.

Pada kasus anemia yg berat, maka bayi tidak akan tumbuh secara optimal bahkan cenderung kurang gizi. Pada kasus seperti ini, pemberian zat besi tidak lagi mencukupi. Transfusi darah dikombinasi dengan infus zat besi menjadi pilihan terakhir.

Semoga bermanfaat...

(Penulis adalah seorang Obstetrician-Gynecologist @RSIA Bunda Menteng, @RSB Citra Ananda & @RSU Gandaria)
IG: ivanderutama / @ivanderutama / www.youtube.com/user/drivanderutama