Gizi Ibu Pengaruhi Kecerdasan Anak

19 Agustus 2009 Artikel Kesehatan


PADA saat bayi dilahirkan, 66 persen dari jumlah sel otak dan 25 persen dari berat otak orang dewasa telah tercapai. Sisanya akan ditentukan oleh keadaan gizi setelah lahir.

Pertumbuhan otak yang sangat cepat tercapai pada dua fase, yaitu fase minggu ke 15-20 dan minggu ke 30 masa kehamilan, serta bulan ke 18 setelah kelahiran.

Keadaan gizi yang buruk sewaktu bayi di dalam kandungan maupun setelah dilahirkan mempunyai pengaruh sangat besar terhadap perkembangan otaknya. Hal tersebut harus benar-benar dimengerti oleh seorang ibu. Karena, para ibulah yang hamil dan menyusui serta berperan dalam memilih bahan pangan dan menyajikannya untuk kepentingan keluarga.

Penelitian yang dilakukan Chase (1971) pada anak marmot yang dilahirkan dari induk yang menderita KEP selama kehamilannya, mengakibatkan terjadinya penurunan berat total otak sebanyak 15 persen, penurunan berat otak kecil sebesar 15 persen, dan penurunan otak besar sebanyak delapan persen.

Sedangkan penelitiannya pada manusia menunjukkan bahwa pada bayi BBLR (berat bayi lahir rendah) terjadi penurunan berat total otak sebanyak 13 persen, penurunan otak kecil sebesar 30 persen, dan penurunan otak besar 12 persen.

Selain berat otak, jumlah sel otak juga mengalami penurunan. Bayi marmot yang lahir dari induk yang menderita KEP akan mengalami penurunan jumlah sel otak sebesar 19 persen. Sedangkan pada bayi manusia dengan kondisi BBLR, terjadi penurunan jumlah sel otak kecil sebanyak 31 persen dan jumlah sel otak besar sebanyak lima persen.

Berat otak manusia waktu lahir adalah sekitar 350 gram, kemudian berkembang menjadi 1.000 gram pada saat umur satu tahun. Menjadi 1.300-1.400 gram pada masa pubertas.

Pada saat seseorang berumur 7 tahun, berat dan volume otak anak relatif sama dengan yang dimiliki oleh orang dewasa (95 persen perkembangan otak telah selesai). Meski demikian, tidak selalu sama antara satu orang dan orang lain. Hal tersebut dipengaruhi oleh status gizi, umur, bentuk tubuh, berat badan, jenis kelamin, dan ras.

Suatu penelitian yang cukup menarik dilakukan terhadap 141 anak perempuan Korea yang terdiri atas 42 anak penderita KEP berat, 52 anak penderita KEP ringan dan sedang, serta 47 anak bergizi baik. Seluruh anak tersebut kemudian diadopsi oleh keluarga Amerika sebelum mereka berumur dua tahun. Mereka selanjutnya dibesarkan di Amerika.

Hasil pengukuran tingkat kecerdasan pada umur 7 tahun menunjukkan rata-rata IQ anak yang dulu menderita KEP berat adalah 102, KEP ringan dan sedang adalah 106, dan yang bergizi baik adalah 112. Penelitian tersebut menunjukkan bahwa keadaan gizi di masa lalu dapat memengaruhi kecerdasan anak di masa mendatang.

Di atas usia 7 tahun hingga usia dewasa, perkembangan otak berjalan sangat lamban dan mencapai puncaknya pada usia 20-21 tahun pada pria dan lebih awal pada wanita. Berat otak rata-rata pada pria dewasa normal adalah 1.424 g, sedangkan pada wanitanya adalah 1.265 g.

Sejak usia 21 tahun berangsur-angsur mengalami penyusutan berat rata-rata 1 gram per tahun, yang disebabkan oleh rusaknya sel-sel syaraf otak rata-rata 50 ribu per hari (jumlah sel otak normal adalah sekitar 10 miliar). Hal inilah yang mengakibatkan kenapa orang yang sudah lanjut usia mulai menurun ingatannya dan menjadi pikun.

Penurunan daya ingat tersebut tentu saja berbeda-beda tiap orang. Salah satu di antaranya adalah dipengaruhi oleh gizi dalam makanan sehari-hari yang dikonsumsi orang tersebut.

Dengan demikian, betapa pentingnya gizi yang baik dalam rangka untuk meningkatkan kualitas hidup dan mencerdaskan kehidupan bangsa. Sudah selayaknya setiap ibu memiliki pengetahuan gizi yang memadai.

Terutama dalam hal memilih dan memanfaatkan bahan-bahan pangan untuk kebutuhan diri sendiri dan keluarganya sehari-hari. Seperti di saat hamil, menyusui, dan merawat serta membesarkan anak-anaknya sebagai aset dan investasi bangsa di kemudian hari. n WWW.GIZI.NET

Sumber: Lampungpost.Com