Emosi Juga Perlu Didetoks

24 Mei 2011 Artikel Kesehatan


Pengalaman dalam hidup datang silih berganti. Ada yang menyenangkan, banyak pula yang menyedihkan karena berupa musibah. Bila tidak ditangani secara tepat, pengalaman buruk akan tersimpan di dalam bawah sadar dan hidup akan terus dihantui trauma.

Sedih, marah, dendam, kehilangan dan dikhianati adalah contoh emosi-emosi negatif. Bila emosi ini terus ditekan atau disembunyikan justru akan menimbulkan banyak masalah, salah satunya penyakit. "Jika ada yang mengganggu perasaan, itu juga akan mengganggu kondisi fisik," kata Tom Suhalim, pakar aura dan penyembuhan. Tom bahkan yakin 95 persen penyakit disebabkan karena stres.

Kini ada beragam cara untuk mengatasi trauma, salah satunya dengan detoksifikasi emosi. Detoksifikasi emosi, menurut Tom adalah metode pembuangan stres dari tubuh.

"Emosi negatif yang terus menerus ditekan akan disimpan dalam memori bawah sadar kita dan menyumbat aliran enerti di tubuh. Karenanya harus dibersihkan," katanya di sela acara Healing Festival yang diadakan di Tirtayu Jakarta beberapa waktu lalu.

Metode pembuangan "racun" mental dan emosional itu disebut dengan metode Energy Activator Therapy (EAT). "Pembuangannya bisa melalui prinsip hipnosis, akupuntur, energi penyembuhan bumi, afirmasi, palmistry, juga eye movement densentisation response," papar pria yang berpraktik di Pro-V Clinic Holistik Jakarta ini.

Terapi EAT pada dasarnya akan memengaruhi sistem meridian tubuh yang dikenal dalam ilmu akupuntur. Dengan terapi ini sistem aura dan cakra tubuh juga akan diperbaiki. Aura orang yang menyimpan masalah biasanya tidak seimbang.

Metode EAT yang diberikan akan disesuaikan dengan kebutuhan klien. Lama sebentarnya sesi terapi juga tergantung pada berat ringannya masalah yang dihadapi.

Sumber: kompas.com