Dosis Obat Hendaknya Disesuaikan Bobot Tubuh

25 Januari 2010 Artikel Kesehatan


Dosis obat untuk anak-anak selalu disesuaikan dengan berat badan dan usia sehingga anak akan mendapat takaran obat yang pas. Namun tidak demikian halnya dengan orang dewasa, semua dosis berlaku rata untuk setiap pasien tak peduli apakah pasien itu kurus atau gemuk.

Sejumlah pakar menilai hal itu keliru. Dalam jurnal kesehatan The Lancet, mereka berpendapat dosis antibiotik seharusnya disesuaikan dengan berat badan pasien. Dosis obat yang tinggi diberikan untuk pasien yang gemuk.

Dr.Matthew E. Falagas, direktur Alfa Institute of Biomedical Science, Yunani dan profesor ilmu kedokteran dari Tufts University School of Medicine, Boston, Amerika Serikat adalah salah satu penggagas dosis obat itu. Dr.Falagas yang memiliki berat badan 89,8 kg dan tinggi 182 cm menggunakan dirinya sendiri bersama mahasiswinya yang memiliki berat 54,4 kg dan tinggi 152 cm sebagai contoh.

"Bila kita didiagnosis radang paru atau bronkhitis di rumah sakit New York setiap pasien akan mendapat dosis antiobiotik yang sama. Padahal seharusnya saya menerima dosis dua kali lebih besar daripada mahasiswi saya," kata Dr.Falagas.

Meskipun dosis berbagai obat kanker dihitung berdasarkan berat badan karena sifat racunnya, namun menurut Dr.Falagas tidak ada pedoman bagi para dokter dalam membuat resep obat berdasarkan bobot tubuh pasien.

Resep obat yang tidak pas dengan berat badan tersebut diyakini Dr.Falagas sebagai penyebab banyaknya pasien yang terkena infeksi pasca operasi, meskipun dokter sudah memberi antibiotik pencegah infeksi.

Perubahan takaran antibiotik akan meningkatkan efektivitas dan keamanan obat, sekaligus mengurangi faktor resistensi bakteri. Selain itu, hal ini akan membuat perusahaan farmasi membuat obat dalam berbagai bentuk, mulai dari yang cair hingga tablet dalam berbagai ukuran.

Penulis: AN/Editor: acandra

Sumber: New York Times (kompas.com)