Dokter dan Anak Gizi Buruk

25 Juni 2009 Artikel Kesehatan


Saya (15) sekarang duduk di kelas II SMU. Sebagai siswi, saya telah berkali-kali berganti cita cita. Mula-mula ingin jadi diplomat, kemudian ingin jadi peneliti, tetapi setelah sering menonton TV dan membaca surat kabar mengenai keadaan kesehatan di Indonesia, saya sekarang bertekad ingin menjadi dokter.

Menurut Ibu, beliau juga dulu bercita-cita ingin menjadi dokter, tetapi akhirnya menjadi perawat karena dukungan dana yang kurang. Meski kami bukan keluarga kaya, namun orangtua saya memprioritaskan pendidikan sehingga mereka mendukung cita-cita saya.

Saya sering menyaksikan berita tentang anak yang keadaan gizinya buruk. Kurus kering dan amat lemah. Dulu foto-foto seperti itu hanya saya lihat pada anak-anak di Afrika, tetapi sekarang ternyata juga ada di Indonesia. Sungguh menyedihkan menyaksikan anak bergizi buruk. Badannya hanya tinggal kulit pembungkus tulang. Menangis pun kelihatannya tidak bisa lantang. Bagaimana mereka dapat diharapkan kelak akan menjadi harapan bangsa ini?

Keinginan saya menjadi dokter adalah ingin meningkatkan kesehatan anak agar tidak ada lagi anak Indonesia bergizi buruk. Saya sudah tentu juga ingin Indonesia bebas dari demam berdarah, flu burung, dan sebagainya. Saya juga memimpikan masyarakat Indonesia pada masa depan bebas rokok, alkohol, dan narkoba. Masyarakat dapat menikmati lingkungan hidup yang bersih sehingga mendukung peningkatan kesehatan.

Pertanyaan saya, apakah dalam pendidikan dokter diajarkan cara meningkatkan kesehatan anak atau mencegah penyakit menular? Menurut teman saya, jika bercita-cita meningkatkan kesehatan masyarakat, lebih baik masuk fakultas kesehatan masyarakat karena jika masuk fakultas kedokteran, yang diajarkan adalah cara mendiagnosis penyakit dan mengobatinya. Dokter itu tugasnya berpraktik, bukan meningkatkan kesehatan masyarakat. Benarkah demikian?

M di J

Saya merasa senang sekali dengan minat dan kepedulian Anda terhadap kesehatan. Masalah gizi buruk dan banyak masalah kesehatan lain hanya dapat kita selesaikan bersama jika kita peduli dan mau berperan serta menyelesaikan.

Saya juga merasa prihatin seperti Anda bahwa di negara kita masih terdapat banyak anak bergizi buruk. Mudah-mudahan dengan tekad kita semua masalah ini akan dapat diselesaikan dan anak Indonesia mempunyai kesempatan tumbuh kembang optimal. Dalam persaingan antarbangsa, unsur mutu sumber daya manusia akan menjadi modal utama. Seperti mungkin juga Anda ketahui, membangun sumber daya manusia yang bermutu diperlukan pendidikan dan kesehatan.

Niat Anda menjadi dokter amatlah luhur dan saya doakan mudah-mudahan berhasil. Dalam pendidikan kedokteran tidak hanya diajarkan kemampuan mendiagnosis penyakit serta mengobatinya, tetapi juga kemampuan meningkatkan derajat kesehatan masyarakat, sudah tentu termasuk kesehatan anak. Karena itulah dokter diharapkan bukan hanya mampu mengobati orang sakit, tetapi mampu memimpin, berkomunikasi, dan mendidik masyarakat untuk hidup sehat.

Memang faktor utama anak gizi buruk adalah kemiskinan, tetapi faktor ini akan bertambah rumit dengan pendidikan orangtua yang rendah, kesempatan berobat kurang, serta lingkungan hidup anak yang berisiko penularan penyakit. Fakultas kesehatan masyarakat juga menghasilkan sarjana yang diharapkan mampu meningkatkan kesejahteraan masyarakat, utamanya kesehatan masyarakat. Di fakultas ini Anda dapat belajar antara lain membuat kebijakan kesehatan, penyuluhan kesehatan masyarakat, manajemen pelayanan kesehatan, kesehatan lingkungan, dan pembiayaan kesehatan. Di fakultas ini memang kurang didalami diagnosis dan pengobatan penyakit perorangan. Karena itulah sarjana fakultas kesehatan masyarakat tidak melakukan praktik seperti dokter.

Meski begitu, cukup banyak dokter tertarik dan mendalami ilmu kesehatan masyarakat dengan mengambil pendidikan pascasarjana tingkat master ataupun doktor di fakultas kesehatan masyarakat.

Nah, banyak cara agar Anda nanti dapat berperan dalam meningkatkan derajat kesehatan masyarakat kita. Anda mungkin pernah membaca riwayat dr Cipto Mangunkusumo yang dalam usia masih amat muda (belum 19 tahun) bersama teman-temannya telah berpikir jauh ke depan untuk kemerdekaan bangsanya dengan mendirikan Budi Utomo? Jangan lupa dr Cipto Mangunkusumo adalah dokter yang berhasil mengendalikan wabah pes di Jawa Tengah dan Jawa Timur.

Ketika dokter-dokter Belanda enggan turun ke daerah wabah pes, dia dengan penuh keberanian dan keterampilan mampu mengajak masyarakat memberantas tikus yang menjadi pembawa penyakit pes. Keberhasilannya diakui tidak hanya di Indonesia, tetapi juga di masyarakat internasional.

Anda juga mungkin pernah mendengar nama dr Kodiyat, dokter Indonesia yang berhasil memberantas penyakit frambusia (patek)? Jadi, sebenarnya cukup banyak dokter kita yang prestasinya menonjol dalam memberantas penyakit menular dan dalam meningkatkan derajat kesehatan bangsa kita. Semoga semangat tersebut akan dapat diteruskan generasi muda.

Khusus untuk Anda, sekali lagi saya mendoakan agar cita-cita Anda menjadi dokter untuk meningkatkan derajat kesehatan masyarakat kita terwujud.

dr Samsuridjal Djauzi

sumber: Kompas.com