Artikel Kesehatan
18 Agustus 2009

Diare Mulai Merebak

PARA orang tua harus mulai mewaspadai terjangkitnya diare pada anak-anak. Biasanya, pada musim pancaroba (Juli-Agustus), penderita diare meningkat tajam.

Dalam bulan ini, sebanyak 320 pasien diare dirawat (baik rawat inap maupun rawat jalan) di lima Rumah Sakit (RS) di Bandar Lampung. Yaitu, RS Immanuel (138 orang), RS Bumi Waras (37 orang), RS Abdul Moeloek (92 orang), RS Urip Sumoharjo (22 orang) dan RS Advent (31 orang).

Dokter Umum RS Sakit Advent, dr. Efin mengatakan penyakit diare bisa disebabkan oleh virus atau bakteri yang mengganggu proses pencernaan sehingga penderita lebih sering buang air besar dan BAB-nya cair. Pada orang dewasa, diare biasanya ditularkan oleh lalat yang sebelumnya hinggap di kotoran kemudian hinggap pada makanan.

"Bisa juga karena tidak bersih mencuci tangan setelah buang besar, sisa kotoran yang ada ditangan bisa menyebabkan diare," kata Efin. Menurut dia, biasanya diare lebih banyak menyerang anak-anak, terutama balita karena daya tahan tubuhnya masih lemah.

Dokter spesialis anak RSUAM, dr. Murdoyo, mengatakan pasien penderita diare yang ia tangani berusia di bawah dua tahun. Penyebab diare pada anak-anak bawah tiga tahun (batita) ini adalah rotavirus. Rotavirus sangat mudah menyebar melalui udara. Apalagi di musim pancaroba sekarang ini.

"Biasanya Juli-Agustus adalah puncak diare, karena pada bulan ini terjadi perubahan musim dari dari kemarau ke hujan," ujarnya. Penularan penyakit diare bisa melalui makanan, minuman ataupun tangan Ibu yang tidak dibasuh ketika akan menyusukan anaknya. Selain itu, kebiasaan anak memasukkan mainan ke dalam mulut juga bisa menyebabkan virus diare masuk ke saluran pencernaan anak.

Hal penting yang harus diwaspadai pada penderita diare adalah kemungkinan terjadinya dehidrasi (kekurangan cairan tubuh). Cairan dan elektrolit tubuh akan banyak keluar bersama tinja sehingga tubuh kesulitan menjalankan fungsinya.

Penanganan diare pun tidak semudah membalikan telapak tangan. Pemberian cairan yang mengandung elektrolit memang baik untuk mencegah dehidrasi penderita, tetapi pemberian obat antidiare yang tidak pada tempatnya bisa berbahaya.

Ketika anak mengalami diare, orang tua jangan panik. Sebaiknya orang tua bersabar dan lebih tenang menilai kondisi anaknya. Pada dasarnya diare merupakan penyakit yang sembuh sendiri (self limiting disease), yang dikhawatirkan dari diare adalah terjadinya dehidrasi. Kerena itu orang tua harus tahu tentang pencegahan dehidrasi dan tanda-tanda dehidrasi pada anak yang diare.

Anak dinyatakan diare apabila mengalami mencret berupa tinja yang encer dengan frekuensi empat kali atau lebih dalam sehari, yang kadang disertai muntah, badan lesu atau lemah, panas, tidak nafsu makan dan terdapat lendir atau darah dalam kotoran.

Rasa mual dan muntah-muntah dapat mendahului diare yang disebabkan oleh infeksi virus.

Diare seringkali disertai oleh dehidrasi (kekurangan cairan). Dehidrasi ringan hanya menyebabkan bibir kering. Dehidrasi sedang menyebabkan kulit keriput, mata dan ubun-ubun menjadi cekung (pada bayi yang berumur kurang dari 18 bulan). Dehidrasi berat bisa berakibat fatal, biasanya menyebabkan shock.

Oralit merupakan salah satu cairan pilihan untuk mencegah dan mengatasi dehidrasi. Oralit sudah dilengkapi dengan elektrolit, sehingga dapat mengganti elektrolit yang ikut hilang bersama cairan.

Baca aturan penggunaan oralit dengan baik, berapa jumlah air yang harus disiapkan untuk membuat larutan oralit, sehingga takaran oralit dapat tepat diberikan. Larutan sup maupun air biasa cukup praktis dan hampir efektif sebagai upaya rehidrasi oral untuk mencegah dehidrasi.

Cairan yang biasa disebut sebagai cairan rumah tangga ini harus segera diberikan pada saat anak mulai diare. Berikan cairan dengan sendok, sesendok tiap 1-2 menit. Untuk anak yang lebih besar dapat diberikan minum langsung dari gelas/cangkir dengan tegukan yang sering. Jika terjadi muntah, ibu dapat menghentikan pemberian cairan selama kurang lebih 10 menit, selanjutnya cairan diberikan perlahan-lahan (misalnya 1 sendok setiap 2-3 menit).

Selain pemberian cairan, pemberian ASI maupun makanan pendamping ASI harus tetap dilanjutkan agar anak tidak jatuh dalam keadaan kurang gizi dan pertumbuhannya tidak terganggu. Sebaliknya, larutan-larutan yang hiperosmoler karena kandungan gulanya tinggi tidak boleh diberikan, contohnya adalah teh yang sangat manis, soft drink, dan minuman buah komersial yang manis.

Apabila kondisi anak tidak membaik dalam 3 hari, buang air besar cair bertambah sering, muntah berulang-ulang, makan atau minum sangat sedikit, terdapat demam dan tinja anak berdarah, segera bawa anak ke dokter.

Jangan tunggu lebih lama jika anak menunjukkan tanda-tanda dehidrasi, anak bersikap sangat rewel atau justru apatis dan lesu pada dehidrasi yang lanjut. Untuk anak-anak yang kurang dari satu tahun, dapat dilihat atau diraba ubun-ubunnya cekung. Pada dehidrasi yang ringan dan sedang, anak tampak sangat kehausan, tapi bila dehidrasinya berat, anak justru tidak merasa haus lagi.

Biasanya dokter akan memberikan probiotik yang bisa dicampurkan ke dalam minuman atau makanan anak. Tujuan pemberian probiotik adalah memperbanyak "kuman baik" sehingga dapat mempersingkat episode diare. Antibiotik tidak rutin diberikan, hanya pada kasus-kasus tertentu saja dokter akan meresepkan antibiotik.

Jangan berikan obat antidiare secara sembarangan kepada anak. Pemberian obat antidiare pada anak dapat berisiko menimbulkan efek samping yang cukup berbahaya. Risiko tersebut dapat berupa mual, muntah bahkan yang cukup berat, timbulnya ileus paralitik (gangguan pada usus) yang dapat berakibat sangat fatal, bahkan tidak jarang membutuhkan pembedahan.

Cegah Diare

Faktor kebersihan ternyata ikut andil dalam menyebabkan anak diare. Mulai dari kebersihan alat makan anak sampai kebersihan setelah buang air kecil/buang air besar. Semua yang dapat mengenai tangan anak atau langsung masuk ke dalam mulut anak harus diawasi.

Ada cara yang mudah untuk mencegah terkena diare yaitu mencuci tangan dengan sabun. Kebiasaan sederhana mencuci tangan dengan sabun, jika diterapkan secara luas, akan menyelamatkan lebih dari satu juta orang di seluruh dunia, khususnya balita.

Tak kalah penting adalah pemberian ASI minimal 6 bulan. Sebab, di dalam ASI terdapat antirotavirus yaitu imunoglobulin. Makanya, anak-anak yang minum ASI eksklusif jarang menderita diare.

Sementara, penyebab utama diare pada orang dewasa adalah bakteri yang mengkontaminasi makan dan minuman, sehingga mencegah diare pada orang dewasa adalah dengan memperhatikan kebersihan makanan dan minuman. Jadi pilihlah makanan yang masih dalam keadaan baik, bersih dan terlindungi dari hinggapan lalat atau kecoa. n /MG9/RIN/DBS/M-1
Sumber: Lampungpost.Com

Artikel Kesehatan Lainnya...

Direktori Sekolah Info Beasiswa Solusi Pendidikan Promo Tahukah Kamu? Hiburan Tutorial Lowongan Iklan Baris