Diabetes: Antara Mitos, Salah Paham dan Kebenaran - Bagian II

19 Juni 2014 Artikel Kesehatan   |    dr. Kosasi


Mitos Nomor 11: Kalau kencing saya tidak terasa manis, berarti saya tidak kena kencing manis?
Untuk memastikan diabetes, bukan dari rasa air kencing atau urin, tapi dari kadar gula darah. Lagipula, kandungan gula yang tinggi di dalam urin belum tentu memberikan rasa manis di lidah.

Mitos Nomor 12: Kalau kencing saya tidak disemutin, berarti saya tidak kena kencing manis?
Jika air kencing atau urin seseorang sampai disemutin, maka ia harus sangat waspada dan patut curiga kemungkinan diabetes, karena pada saat itu kemungkinan kadar gula darahnya tinggi. Ada tidaknya gula dalam urin sangat tergantung dari kadar gula darah dan fungi ginjal. Jika kadar gula darah terlalu tinggi dan/atau fungi ginjal menurun, maka gula akan bocor ke dalam urin. Jadi urin yang tidak disemutin bukan jaminan tidak menderita diabetes. Lagipula jika urinnya sudah tensiram bersih dari toilet atau tidak ada sarang semut di sekitar toilet, bagaimana bisa disemutin?

Mitos Nomor 13: Kalau kena diabetes, makan saja kentang atau ubi / keladi / ketela, bisa menurunkan gula darah?
Tidak benar. Baik nasi, kentang, keladi, dan segala jenis umbi-umbian (termasuk bengkuang), sagu, roti, mie, bihun, kwetiau, adalah sumber karbohidrat. Dalam hal ini, yang terpenting adalah membatasi jumlahnya, bukan jenisnya. Kalau kita terbiasa dengan nasi sebagai makanan pokok, tetap boleh makan nasi asalkan jumlahnya dibatasi. Kalau kita terbiasa dengan ubi atau keladi sebagai makanan pokok, tetap boleh makan ubi atau keladi asalkan jumlahnya dibatasi. Jadi, bagi orang yang terbiasa makan nasi, tidak boleh makan kentang atau keladi sebagai tambahan/cemilan, boleh sebagai pengganti. Hal terpenting yang harus diperhatikan adalah jumlahnya.

Mitos Nomor 14: Kalau kena diabetes, jangan makan nasi/beras biasa, makan saja beras merah atau beras jatah/raskin (beras miskin)?
Bukan jenis beras yang paling menentukan kadar gula darah, tapi jumlah / porsi nasi yang dimakan itulah yang paling menentukan kadar gula darah.

Mitos Nomor 15: Penderita diabetes boleh minum madu?
Jelas tidak boleh, karena kandungan gula dalam madu sangat tinggi. Begitu juga dengan sirup-sirup, air tebu, minuman kaleng, semua yang manis-manis otomatis menjadi pantangan bagi penderita diabetes.

Mitos Nomor 16: Diabetes dapat ditularkan melalui hubungan suami-isteri atau transfusi darah?
Tidak. Diabetes bukan penyakit menular.

Mitos Nomor 17: Ramuan pahit-pahit bisa menurunkan gula darah?
Tidak benar. Mitos ini lahir dari pemikiran sederhana bahwa rasa manis di dalam darah dapat dilawan oleh ramuan pahit-pahit. Kadar gula dalam darah tidak ditentukan oleh rasa darah kita, tapi oleh jumlah miligram glukosa yang terdapat di dalam darah. Tanpa obat apa pun, jika belum ada komplikasi yang berat, gula darah bisa menurun jika asupan karbohidrat dikurangi secara drastis, dan pemakaian serta pembakaran gula darah diperbanyak melalui aktivitas fisik dan olahraga.

Mitos Nomor 18: Obat-obat diabetes bisa menimbulkan telinga pekak?
Telinga pekak atau berdengung / berdenging bisa disebabkan oleh beberapa kemungkinan, seperti kelebihan kolesterol, kelebihan trigliserid (lemak darah), gangguan saraf pendengaran, gangguan tulang-tulang pendengaran, gangguan selaput pendengaran, atau karena kotoran yang penuh menyumbat liang telinga. Kadar gula darah yang terlalu tinggi juga dapat menimbulkan keluhan telinga berdengung.

Mitos Nomor 19: Obat-obat diabetes bisa merusak ginjal?
Gangguan ginjal yang terjadi pada penderita diabetes adalah salah satu komplikasi terberat dari diabetes, akibat dari kadar gula darah yang terus-menerus tinggi untuk jangka waktu yang lama.

Mitos Nomor 20: Diabetes bisa disembuhkan?
Tidak bisa. Jika berobat ke Malaysia atau Singapore, diabetes bisa disembuhkan? Tidak bisa. Berobat alternatif? Tidak bisa.

Pada saat kadar gula darah terkendali dengan baik, keluhan-keluhan yang dialami oleh penderita umumnya akan berkurang atau bahkan hilang, tapi tidak berarti diabetesnya sudah sembuh. Tidak ada istilah "sembuh" untuk diabetes, yang ada hanya "terkontrol". Sampai saat ini, belum ada obat yang diakui dapat menyembuhkan diabetes. Semua obat diabetes yang ada bertujuan untuk menurunkan kadar gula darah. Berarti, diabetes bisa dikendalikan atau dinormalkan gula darahnya, tetapi tidak dapat disembuhkan. Jika ada kemasan obat ataupun iklan obat yang mengklaim dapat memnyembuhkan diabetes, itu adalah penipuan. Sampai saat ini (November 2013), WHO dan Departemen Kesehatan RI tidak pernah mengakui adanya obat yang bisa menyembuhkan diabetes.

Walaupun diabetes tidak bisa disembuhkan, penderita diabetes bisa hidup normal tanpa keluhan jika:

  • Kadar gula darah selalu terkontrol.
  • Rajin dan rutin berolahraga.
  • Belum mengalami komplikasi.


Jika mitos dan salah paham terus berlanjut mitos-mitos ini, bagi sebagian masyarakat kita yang tinggal di kota-kota besar apalagi yang tinggal di luar negeri, mungkin terdengar aneh, lucu bahkan menggelikan. Tapi coba kita bertanya pada orang-orang di sekitar kita, anggota keluarga besar kita, tetangga kita, teman kuliah atau teman kerja kita atau bahkan mungkin diri kita sendiri pasti masih sangat banyak di antara kita yang salah mengerti dan meyakini mitos-mitos sesat di atas.

Salah paham dan mitos-mitos inilah yang sering membuat penderita diabetes tidak berhasil mengendalikan kadar gula darahnya walaupun sudah mendapat pengobatan. Mitos-mitos ini pula yang menuntun banyak penderita diabetes mencari pengobatan-pengobatan alternatif yang tidak dapat dipertanggung-jawabkan kebenarannya, yang pada akhirnya berujung pada komplikasi diabetes. Kesalahpahaman dan keyakinan akan mitos-mitos ini menjadi salah satu faktor penting yang membuat jumlah penderita diabetes terus bertambah dari tahun ke tahun, menghambat upaya-upaya pencegahan diabetes, dan membuat banyak penderita terjerumus ke dalam komplikasi-komplikasi diabetes.

Jika kita tidak mengerti dengan benar inti dan penyebab diabetes,

  • bagaimana kita bisa mencegahnya ?
  • bagaimana kita bisa menekan laju pertambahan jumlah penderita diabetes di Indonesia ?
  • bagaimana kita bisa membuat saudara-saudara kita yang sudah menderita diabetes menjalani hidup yang lebih baik ?


Sebarluaskan informasi yang benar dan lengkap, hapuskan kesalahpahaman.

Bagi penderita diabetes, informasi awal yang benar dan lengkap tentang diabetes menjadi hal yang sangat menentukan. Pemahaman penderita diabetes terhadap penyakit ini dan perjalanan penyakit selanjutnya, sangat dipengaruhi oleh informasi awal yang diterima dari tenaga kesehatan atau dokter pertama yang mendeteksi diabetesnya. Jika informasi dan nasehat medis yang diterima lengkap, tegas dan benar, penderita bisa menjalani hidup yang lebih berkualitas. Jika informasi dan nasehat medis yang diterima lengkap, tegas dan benar, anggota keluarga dan masyarakat yang tidak atau belum menderita diabetes bisa berupaya mencegah diabetes.

Semoga bermanfaat!

Bersambung dari artikel sebelumnya http://www.kesekolah.com/artikel-dan-berita/kesehatan/diabetes-antara-mitos-salah-paham-dan-kebenaran-bagian-i.html

(Penulis adalah dokter umum, tulisan lainnya dapat dilihat di kompasiana.com/dr.Kosasi)