Diabetes: Antara Mitos, Salah Paham dan Kebenaran - Bagian I

13 Juni 2014 Artikel Kesehatan   |    dr. Kosasi


"Diabetes itu penyakit keturunan", "Diabetes itu ada jenis kering dan basah", "Kalau kena diabetes, bagus makan kentang atau keladi / ketela / ubi, nggak boleh makan nasi". Itulah sebagian mitos dan salah paham yang hidup dalam masyarakat Indonesia.

Penyakit kencing manis atau Diabetes Mellitus (DM) sudah sangat dikenal oleh masyarakat kita. Banyak di antara kita atau anggota keluarga besar kita yang mengidap penyakit ini. Menurut data yang dikeluarkan oleh IDF (International Diabetes Federation) tahun 2012, jumlah penderita diabetes di Indonesia menduduki rangking ke-7 dunia.

Sepuluh negara terbanyak jumlah penderita diabetes (umur 20-79 tahun), tahun 2012:

  1. China 92,3 jt
  2. India 63 jt
  3. USA 24,1 jt
  4. Brazil 13,4 jt
  5. Federasi Rusia 12,7 jt
  6. Meksiko 10,6 jt
  7. Indonesia 7,6 jt
  8. Mesir 7,5 jt
  9. Jepang 7,1 jt
  10. Pakistan 6,6 jt


Jumlah penderita diabetes yang terus meningkat di semua negara (termasuk Indonesia) menjadikan penyakit ini sebagai ancaman global, sehingga Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) pada tahun 2007 mengeluarkan resolusi yang menetapkan tanggal 14 November sebagai Hari Diabetes Sedunia, untuk meningkatkan kewaspadaan dan kesadaran masyarakat Internasional terhadap diabetes. Data dari IDF juga mengungkapkan, pada tahun 2012 diperkirakan ada lebih dari 371 juta penderita diabetes di seluruh dunia. Itupun dengan kenyataan bahwa sekitar 50% dari seluruh penderita diabetes tidak terdeteksi atau tidak mengetahui bahwa mereka menderita diabetes.

Sayangnya, walaupun penyakit ini sudah tidak asing bagi masyarakat kita, sampai sekarang masih ada begitu banyak kesalah pahaman dan mitos tentang diabetes yang diwariskan turun-temurun dan hidup dalam masyarakat kita. Mitos dan kesalah pahaman itu sungguh sangat merugikan kita, karena membuat masyarakat kita menjadi lalai dan salah dalam hal pencegahan, perawatan dan pengobatan diabetes.

Berikut ini adalah bermacam-macam mitos dan salah paham tentang diabetes yang berkembang dalam masyarakat kita, dan penjelasan atau "klarifikasi" dunia medis terhadap salah paham yang ada.

Mitos Nomor 1: Diabetes adalah penyakit keturunan?
Bukan. Lebih dari 95% kasus diabetes bukan penyakit keturunan, tapi disebabkan oleh kelebihan konsumsi atau asupan karbohidrat, lalu terjadi kekurangan atau kejenuhan insulin, dan akibatnya timbul kelebihan kadar gula darah. Diabetes yang kita kenal atau jumpai sehari-hari adalah Diabetes Tipe II yang disebabkan oleh kekurangan insulin atau kejenuhan insulin ("resistensi insulin"). Hanya sebagian kecil (kurang dari 5%) kasus diabetes disebabkan kelainan genetik (DM Tipe I).

Dalam kenyataannya, banyak penderita diabetes yang memiliki orangtua diabetes. Bukankah ini adalah bukti bahwa diabetes adalah penyakit keturunan? Bukan, lebih dari 95% penderita diabetes tidak mewarisi penyakit ini dari orangtuanya, tapi mewarisi atau meniru kebiasaan makan orangtua yang salah, yang berlebihan manis dan karbohidrat. Kebiasaan ini berlangsung bertahun-tahun atau berpuluh-puluh tahun, menguras habis cadangan insulinnya, kemudian menimbulkan diabetes. Memang benar jika orangtua diabetes, resiko anak menderita diabetes menjadi tinggi tetapi bukan karena penyakitnya diturunkan, tapi karena pola dan kebiasaan makan yang salah itu yang ditiru oleh anak.

Mitos nomor 2: Ayah mewariskan diabetes kepada anak perempuan, ibu mewariskan kepada anak laki-laki?
Tidak benar. Jika salah satu ataupun kedua orangtua menderita diabetes, tidak berarti anak-anaknya harus ikut menderita diabetes. Seperti telah dijelaskan di atas, >95% penderita diabetes mendapat penyakit ini karena kelebihan asupan (intake) gula dan karbohidrat. Jadi tidak benar ada pewarisan silang seperti mitos selama ini.

Mitos Nomor 3: Diabetes ada 2 jenis: kering dan basah?
Entah siapa yang memulai, entah provinsi mana yang memulai, tapi di negara kita dari Sabang sampai Merauke, sangat banyak orang terlanjur mempercayai "teori" ini. Menurut mitos ini, ada dua jenis diabetes yaitu gula kering dan gula basah. Masih menurut teori ini, "Jenis yang basah akan mengalami infeksi, luka dan pembusukan di kaki, dan akan berakhir dengan amputasi (pemotongan) kaki. Jenis yang kering lebih aman, tidak akan mengalami pembusukan kaki".

Mitos ini sangat menyesatkan. Penderita diabetes yang kadar gula darahnya terlalu tinggi untuk jangka waktu tertentu, bisa mengalami infeksi dan pembusukan spontan di kaki atau bahkan di bagian lain tubuh. Jadi, luka dan pembusukan kaki pada penderita diabetes disebabkan oleh kadar gula darah yang terus-menerus tinggi, dan hal ini bisa terjadi pada semua penderita diabetes. Jadi, tidak ada penggolongan diabetes kering atau diabetes basah.

Mitos Nomor 4: Diabetes hanya diderita oleh orang berusia 40 tahun ke atas?
Tidak benar. Diabetes bisa diderita mulai dari usia remaja sampai usia lanjut. Memang sebagian besar kasus diabetes terdeteksi di usia 40an ke atas, tapi tidak berarti diabetes hanya bisa terjadi di usia lanjut. Seperti telah dijelaskan di atas, diabetes (DM Tipe II) terjadi jika insulin seseorang sudah habis atau hampir habis, atau sudah resisten (jenuh) terhadap gula darah.

Mitos Nomor 5: "Saya tidak suka minum atau makan manis, mengapa bisa kena diabetes?"
Banyak sekali penderita yang ketika terdeteksi / terdiagnosa menderita diabetes, mengajukan keberatan melalui pertanyaan ini. Dan banyak sekali orang sehat yang berpikiran sama. "Kalau tidak sering minum gula, tidak mungkin kena diabetes". Gula darah adalah hasil akhir dari segala jenis karbohidrat yang kita terima. Jadi bukan hanya makanan atau minuman manis yang diolah menjadi gula darah, tapi semua makanan yang berbahan dasar karbohidrat juga diolah menjadi gula darah. Makanan pokok yang kita makan setiap hari adalah sumber utama gula darah kita. Buah-buahan dan makanan serta jajanan yang dalam proses pembuatannya menggunakan tepung apapun, otomatis ikut menyumbang gula darah.


Mitos Nomor 6: Manisnya buah-buahan tidak apa-apa?
Mitos ini membuat banyak orang sehat dan penderita diabetes merasa tidak perlu membatasi jumlah buah-buahan yang dimakan. Semua buah-buahan mengandung gula, oleh karena itu konsumsi buah-buahan harus dibatasi, baik oleh orang non-diabetes, apalagi oleh penderita diabetes. Buah-buahan yang terasa kuat manisnya, otomatis harus dipantang bagi penderita diabetes, misalnya: durian, rambutan, lengkeng, nangka, cempedak, manggis, sirsak, nenas, duku, langsat, anggur, kurma dan sawo.

Mitos Nomor 7: Gula merah aman, tidak menaikkan gula darah?
Tidak benar. Baik gula merah ataupun gula pasir (gula dapur) adalah gula. Perbedaannya, kandungan air dalam gula merah lebih banyak daripada gula pasir. Jadi gula merah maupun gula pasir sama kekuatannya dalam menyumbang gula darah. Penderita diabetes harus berpantang gula dapur maupun gula merah.

Mitos nomor 8: "Setiap hari saya harus minum manis, kalau tidak minum manis, kepala saya pusing. Katanya minum manis supaya tidak kena sakit kuning atau sakit liver?"
Bagi sebagian masyarakat kita, minum teh manis dan atau kopi manis sudah menjadi kebiasaan yang mendarah daging, tidak bisa dihapus lagi. Yang menjadi masalah adalah gula pasir (gula dapur) yang ditambahkan ke dalam teh/kopi. Nasi yang kita makan walaupun tidak terasa manis di mulut, sudah cukup menjadi sumber gula untuk memenuhi kebutuhan tubuh kita. Apapun jenis makanan yang mengandung karbohidrat, termasuk makanan pokok, buah-buahan, kue-kue ataupun jajanan yang mengandung tepung, permen dan cokelat, otomatis menjadi gula di dalam darah kita. Jadi, tanpa minum manis pun kita sudah pasti tetap mendapat gula melalui makanan sehari-hari.

Tidak ada kaitan sakit kepala dengan tidak minum manis. Tidak ada kaitan sakit liver dengan kurang minum manis. Sakit liver atau kuning disebabkan oleh virus hepatitis.

Mitos Nomor 9: Kalau saya rajin olahraga, tidak mungkin kena diabetes?
Seperti telah dijelaskan di atas, diabetes timbul karena asupan karbohidrat yang berlebihan. Olahraga sampai berkeringat memang akan segera menurunkan kadar gula darah, tetapi bukan jaminan bahwa rajin olahraga pasti tidak menderita diabetes. Apalagi jika malas/jarang berolahraga, lebih tidak menjamin seseorang bebas dari kemungkinan menderita diabetes.

Mitos Nomor 10: Kalau luka saya cepat kering atau cepat sembuh, berarti tidak kena diabetes?
Salah satu komplikasi yang bisa dialami oleh penderita diabetes adalah luka yang sukar sembuh atau lama mengeringnya. Tapi tidak berarti semua penderita diabetes lukanya sukar sembuh. Luka menjadi susah sembuh karena kadar gula darah terlalu tinggi. Jika kadar gula darah penderita diabetes terkontrol, lukanya bisa saja cepat sembuh. Jadi prinsip yang benar adalah: Jika luka susah sembuh, sangat mungkin diabetes, tapi luka yang cepat sembuh bukan jaminan sesorang tidak diabetes.

Bersambung ke artikel selanjutnya di http://www.kesekolah.com/artikel-dan-berita/kesehatan/diabetes-antara-mitos-salah-paham-dan-kebenaran-bagian-ii.html

(Penulis adalah dokter umum, tulisan lainnya dapat dilihat di kompasiana.com/dr.Kosasi)