Artikel Kesehatan
1 Oktober 2010

Detoksifikasi dengan Sayuran dan Buah

JAKARTA - Puasa dan Lebaran telah berlalu. Saat berpuasa biasanya kita tidak banyak makan karena waktunya terbatas. Namun, ketika Lebaran nafsu makan justru bertambah apalagi ketika melihat hidangan khas lebaran, seperti sayur pepaya bersantan, rendang daging, semur daging, sambal goreng kentang dan lainnya.

Makanan itu tampaknya menggiurkan namun belum tentu sehat dan bisa saja memicu timbulnya penyakit. Penyakit tak selalu disebabkan faktor luar tubuh. Bisa juga dari dalam tubuh.
Misalnya, akibat racun atau toksin di dalam darah. Toksin bisa muncul karena konsumsi makanan yang tidak sehat. Bila dibiarkan dan terus menumpuk, racunracun tersebut bisa menimbulkan gangguan kesehatan.

Salah satu cara menjaga kesehatan adalah dengan detoksifikasi. Staf Pengajar FK Universitas Mataram, NTB, dr E Hagni Wardoyo mengatakan, detoksifikasi adalah suatu proses untuk menghilangkan substansi racun.

Dokter Gizi Medik dari Departemen Ilmu Gizi FKUI, DR Dr Saptawati Bardosono, MSc menjelaskan detoksifikasi sebetulnya merupakan proses alamiah tubuh untuk menetralkan atau mengeluarkan racun dari mengeluarkan racun d dalam tubuh. Ini dilakukan dengan cara mengubah racun amonia dari hasil pemecahan protein, pestisida dan zat kimia lainnya, zat tambahan makanan, obat, polusi, asap rokok, dan logam berat secara proses kimiawi sehingga menjadi senyawa yang kurang berbahaya. Dan, dikeluarkan melalui feses atau urin.

Detoksifikasi dalam tubuh ditangani oleh organ hati dan ginjal. Menurut Tati, panggilan untuk Saptawati Bardosono, dari luar tubuh detoksifikasi bisa dilakukan dengan cara melakukan diet khusus, menggunakan herbal atau cara lain.

"Selain itu fungsi detoksifikasi bisa membantu menurunkan berat badan sebagai efek samping dari diet detoks," kata Tati, alumnus FKUI ini, kepada Republika. Diet khusus untuk detoksifikasi, yang biasa disingkat detoks, pada umumnya merupakan diet jangka pendek dengan tujuan memi nimalkan asupan zat kimia dari makanan. Misalnya dengan menggunakan pangan organik dan memperbanyak asup an makanan yang kaya vitamin, zat gizi, dan antioksi dan yang dibutuhkan tubuh untuk proses detoksifikasi.

"Asupan tinggi serat dan air minum sangat dibutuhkan untuk menarik dan mengeluarkan racun dengan cara meningkatkan gerakan usus dan frekuensi kencing," jelas wanita yang menjabat sekjen Persatuan Dokter Gizi Medik Indonesia (PDGMI) itu Baik Tati maupun Hagni mengatakan, detoks dapat dilakukan melalui buah, sayuran, dan air putih. "Buah dan sayuran mengandung zat-zat kimia detoksifikan seperti vitamin C, mineral, alkaloida, dan vitamin E. Zat-zat ini terbukti mampu mengurangi efek buruk dari makanan yang mengandung racun meski dalam jumlah terbatas," jelas Hagni.

Sayuran untuk detoks, Hagni menyarankan, sebaiknya yang berwarna hijau, merah, kuning. Jumlahnya cukup satu jenis sehari dan secara bergantian. Lalu untuk buah-buahan pilih buah berwarna merah dan kuning. Setiap hari konsumsi sebanyak satu porsi, atau kurang lebih 200gram. Air putih, yang bersifat melarutkan kandungan racun dalam tubuh sehingga memberikan pengurangan efek toksin yang signifikan, diminum minimal delapan gelas atau dua liter per hari.

Menurut Tati, air putih dikonsumsi sedikitnya 10-12 gelas karena jumlah ini secara alamiah akan membersihkan racun dari tubuh. Untuk sayuran, menurutnya, yang pahit seperti brokoli atau lainnya akan merangsang keluarnya enzim detoksi fikasi dan keluarnya cairan empedu untuk mencerna lemak, dan juga membersihkan organ hati terhadap racun dan zat kimia yang membahayakan tubuh.

Untuk buah, Tati menyarankan, konsumsi minuman campuran jeruk lemon dengan air hangat. Diminum setiap bangun tidur pagi akan membantu membuang racun dan kelebihan lemak. Proses detoks juga bisa dibantu dengan mengonsumsi teh herbal dan jus buah.

Ketika menjalankan diet detoksifikasi juga harus memperhatikan cara memasak. Pilih cara masak dengan dikukus, dipanggang, atau tumis dengan sangat sedikit menggunakan minyak goreng. Namun, yang juga perlu diingat, seperti disampaikan Tati, ada jenis makanan yang harus dihindari, yaitu produk susu sapi (kecuali keju dan yoghurt), dan produk gandum.

Sumber: republika.co.id

Artikel Kesehatan Lainnya...

Direktori Sekolah Info Beasiswa Solusi Pendidikan Promo Tahukah Kamu? Hiburan Tutorial Karir Iklan Baris