Dampak Polusi Bising Sejak Masa Kanak-Kanak

29 September 2015 Artikel Kesehatan   |    Okty Budiati


Tentunya kita sering mendapati para orangtua yang berteriak saat memanggil anak-anak mereka. Bahkan tidak jarang saat orangtua berkomunikasi dengan mereka dalam intonasi dan vokal yang dapat terdengar hingga beberapa blok, sedang suara anaknya hilang dan atau berakhir pada jerit tangisan.

Namun sadarkah para orangtua, jika suara yang mereka lontarkan mampu merusak saraf anak mereka sendiri? Serta, tahukah orangtua bahwa kerusakan saraf dapat melemahkan kinerja otak yang berakibat pada ketulian hingga depresi pada anak?

Menurut studi sebuah penelitian tentang kesehatan telinga dalam "Ancaman Ketulian Pada Balita & Remaja", oleh dr. Damayanti Soetjipto Sp. THT-KL menerangkan bahwa gangguan pendengaran terhadap anak-anak akan memberikan dampak kesehatan fisik seperti ketulian hingga pada kesehatan psikologi anak seperti gangguan komunikasi, gangguan bersosialisasi dan melemahnya produktivitas anak itu sendiri.

Bermacam bunyi yang mampu membuat kesehatan anak ini menjadi menurun drastis adalah suara bising (volume yang berlebihan) hingga suara orangtua yang cenderung berteriak saat berkomunikasi dengan anak.

Adapun beberapa lokasi yang mampu memberikan polusi bising pada anak adalah mall, lokasi yang terdapat dan menggunakan speaker aktif (toak), serta bunyi-bunyian dari elektronik seperti televisi, gadget maupun music player, hingga earphone untuk mendengarkan musik yang digunakan secara berlebihan.

Sedang suara-suara alam yang mampu memberi dampak secara langsung baik secara fisik dan psikis adalah suara kilat, gemuruh angin kencang maupun gempa, suara kedalaman lautan, dan suara yang berteriak atau cenderung dengan ontonasi tinggi.

Pada efek suara yang paling berdekatan di keseharian kita adalah vokal suara dalam berkomunikasi. Selain memberi dampak kerusakan hingga mematikan sel-sel saraf pada otak, efek teriakan yang terespon dengan tekanan akan sangat mampu menghambat laju gerakan oksigen dalam aliran darah dan memberi efek kejut, yang tentu sangat riskan terhadap jantung.

Nah, bagi para orangtua serta orang dewasa, dan pengajar, semoga dengan sedikit teks yang saya tulis di atas dapat melatih kita semua untuk lebih peduli kesehatan pada anak-anak kita, anak-anak didik serta anak-anak di lingkungan kita bermukim.

Anak adalah harapan masa depan, bersama anak-anak sebenarnya kita belajar untuk kembali melatih diri dalam perilaku di keseharian kita. Semua dimulai dari hal-hal yang paling sederhana, seperti komunikasi yang baik. Melalui komunikasi yang baik, kita bersama anak-anak akan saling menjaga kesehatan fisik, psikis dan bathin secara seimbang. Selain itu, rutinlah kita mengajak anak-anak serta keluarga untuk kontrol seputar kesehatan THT ke dokter spesialis agar kita mendapatkan informasi lebih seputar kesehatan THT. Selamat mencoba!

(Tulisan dari Okty Budiati bisa dilihat disini)