Cacingan Bikin Anak Jadi Bodoh

5 Oktober 2010 Artikel Kesehatan


Ukurannya renik, tetapi mereka bisa merampas masa depan anak-anak. Karena cacingan, otak dan otot anak tidak tumbuh sempurna sehingga mereka kurang gizi dan bodoh. Tangkal dengan gaya hidup sehat.

Lewat berbagai cara, telur cacing bisa masuk dan tinggal dalam tubuh manusia. Ia bisa masuk lewat makanan atau minuman yang dimasak menggunakan air yang tercemar. Jika air yang telah tercemar itu dipakai untuk menyirami tanaman, telur-telur itu naik ke darat. Begitu air mengering, mereka menempel pada butiran debu. Saking reniknya, telur-telur itu tidak akan pecah meski telah digilas ban kendaraan bermotor.

Telur yang menumpang pada debu itu bisa menempel pada makanan dan minuman yang dijajakan di pinggir jalan atau terbang ke tempat-tempat yang sering dipegang manusia. Mereka juga bisa berpindah dari satu tangan ke tangan lain.

Setelah masuk ke dalam usus manusia, cacing akan berkembang biak, membentuk koloni dan menyerap habis sari-sari makanan. "Cacing mencuri zat gizi, termasuk protein untuk membangun otak," kata dr Handrawan Nadesul, pengamat masalah kesehatan, yang ditemui di Jakarta beberapa waktu lalu.

Setiap satu cacing gelang memakan 0,14 gram karbohidrat dan 0,035 protein per hari. Cacing cambuk menghabiskan 0,005 milimeter darah per hari dan cacing tambang minum 0,2 milimeter darah per hari. "Kalau jumlahnya ratusan, berapa besar kehilangan zat gizi dan darah yang harus dipikul?" kata dokter yang mengasuh rubrik kesehatan di berbagai media ini.

Sebagai gambaran, seekor cacing gelang betina dewasa bisa menghasilkan 200.000 telur setiap hari. Bila di dalam perut ada tiga ekor saja, dalam sehari mereka sanggup memproduksi 600.000 telur!

Baik berkurangnya zat gizi maupun darah, keduanya berdampak pada tingkat kecerdasan, selain berujung anemia. "Anemia akan menurunkan prestasi belajar dan produktivitas. Menurut penelitian, anak yang kehilangan protein akibat cacing tingkat kecerdasannya bisa menurun hingga 2 digit," imbuh Handrawan.

Tak kurang gawat, anemia kronis bisa mengganggu daya tahan tubuh anak usia di bawah lima tahun (balita) sehingga cacingan bisa menyebabkan penyakit lain yang akan mengganggu tumbuh kembangnya. Bisa jadi nyawa taruhannya.

Kenali gejalanya
Diperkirakan, 60 persen orang Indonesia mengidap cacingan, terbanyak pada usia 5-14 tahun. Kecacingan tersebar luas, baik di pedesaan maupun perkotaan. Karena itu, cacingan masih menjadi masalah kesehatan mendasar di negeri ini.

Curigai anak Anda cacingan jika ia sering lesu, tak bergairah, suka mengantuk, badan kurus meski porsi makan melimpah, serta suka menggaruk-garuk anusnya saat tidur karena bisa jadi itu pertanda cacing kremi sedang beraksi. Untuk memastikan, tinja sebaiknya diperiksa dengan mikroskop.

Menurut Handrawan, kunci pencegahan penyakit cacingan adalah memperbaiki gaya hidup bersih dan sanitasi lingkungan. Misalnya, membiasakan cuci tangan setelah menyentuh sesuatu yang kotor sebelum masak atau makan dengan air bersih menggunakan sabun. Tentu saja dengan menerapkan cuci tangan yang betul-betul bersih, mulai dari jari-jari sampai kuku-kuku jari.

Karena cacing bisa menular lewat makanan, selalu cuci bahan makanan yang akan dimasak di bawah air mengalir. Hindari pula menggunakan air yang sudah tercemar. Dengan begitu, rantai penularan cacing bisa diputus.

"Ongkos ekonomi yang ditimbulkan akibat penyakit cacing mencapai Rp 33 miliar setiap tahun. Cuci tangan sebetulnya cost-effective bagi negara," kata Handrawan. Dana yang dihemat itu bisa dipakai untuk memperbaiki infrastruktur saluran air bersih dan sanitasi.

Yang sudah telanjur cacingan tentu harus diobati dengan obat cacing. Namun, meski semua anak sudah minum obat cacing, tak berarti masalah cacingan akan selesai saat itu juga. Pemberantasan cacingan adalah pekerjaan panjang yang memakan waktu bertahun-tahun. Itu sebabnya mencegah lebih baik daripada mengobati.

Sumber: health.kompas.com