Artikel Kesehatan
4 September 2009

Bullying

Bullying merupakan aksi mengganggu atau menindas orang lain yang lebih lemah.Bullying dapat berupa tindakan diolok-olok, dikucilkan, dipukul,didorong, dan lain sebagainya.Bullying banyak terjadi di sekolah-sekolah. Studi menunjukkan dampak bullying bisa sangat serius bagi perkembangan pra-remaja.Bullying bahkan dapat menimbulkan kerusakan serius pada hidup anak. Tidak kurang dari dua puluh selapan studi di Eropa dan Amerika menunjukkan anak korban bullying beresiko lebih tinggi mengalami berbagai gejala gangguan kesehatan.

Bullyingdalam berbagai tingkat keparahan dapat terjadi sejak usia dini, contohnya sekolah dasar. Dr. Thomas P. Tarshis dari Amerika Serikat bersama rekannya membuat suatu pertanyaan sederhana yang dapat diisi dalam waktu 5 menit oleh murid Sekolah dasar (mulai dari kelas 3 SD) dan meminta 270 anak mengisinya. Hasilnya, hampir 90 anak kelas 3 sampai 6 SD mengaku pernah menjadi korban bullying. Sedangkan 59 mengaku upernah mengganggu temannya. Menurut Dr. Thomas P. Tarshis, bullying pada sebagian anak dapat berdampak serius terhadap kesehatan mental mereka.

Studi lainnya di Denmark menunjukkan bullying berdampak serius terhadap kesehatan. Separuh dari 5200 murid sekolah usia 11 hingga 16 tahun mengaku pernah mengalami bullying pada tahun ajaran yang sama. Di samping itu, mereka juga mengalami berbagai keluhan kesehatan. Bullying tidak hanya dihubungkan pada peningkatan keluhan sakit kepala, sakit perut, gelisah, san sulit tidur. Dr. Pernille Due dari Denmark mengatakan bahwa korban bullying cenderung lebih anyak menggunakan obat-obatan untuk mengatasi keluhan kesehatan yang mereka alami (60 anak pra-remaja korban bullying sering mengkonsumsi obat sakit kepala).

Dr. Minne Fekkes dari Belanda mengatakan bahwa kesemasan dan depresi dapat membuat anak terlihat lemah dan tidak mampu membela dirinya sendiri, sehingga mereka dijadikan target bullying. Hal ini diperoleh dari hasil pengamatan yang dilakukan pada 1118 murid di 18 Sekolah Dasar Belanda, yang berusia 9 hingga 11 tahun. Dari studi ini juga diketahui anak yang mengalami bullying pada tahun ajaran empat kali lipat cenderung mengopol, sakit perut, dan cemas yang berlebihan di sepanjang tahun ajaran.

Anak pelaku maupun korban bullying, khususnya laki-laki, beresiko lebih tinggi mengalami gangguan kesehatan mental saat ia beranjak menjadi pria muda. Hal ini berdasarkan studi yang dilakukan terhadap 2540 anak di Finlandia.Informasi tersebut kemudian dibandingkan dengan diagnosa psikiatri saat mereka menginjak dewasa (usia 18 hingga 23 tahun). Mereka yang sering menjadi pelaku bullying cenderung menunjukkan kelainan kepribadian antisosial dibandingkan dengan anak-anak lain yang seumur dengan mereka. Mereka juga tampak mengabaikan hukum dan hak-hak orang lain, berperilaku agresi, kejam. Anak laki-laki yang sering menjadi korban bullyingcenderung mengalami peningkatan resiko gangguan kecemasan. Namun kelompok yang paling parah adalah mereka yang pernah menjadi pelaku sekaligus korban dari tindakan ini. Kelompok ini dapat menunjukkan antisosial sekaligus mengalami gangguan kecemasan.

Oleh karena itu asngat penting bagi orangtua untuk menjalin kerjasama yang baik dengan para guru dan staf kesehatan sekolah untuk membantu anak-anak mereka. Dr. Thomas P. Tarshis menekankan bahwa jalan terbaik untuk memberantas bullying adalah melalui langkah yang komprehensif. Langkah-langkah ini tidak hanya ditargetkan kepada para murid, namun juga kepada para guru, pengelola sekolah, penjaga sekolah, dan orangtua sendiri. Program yang hanya ditargetkan kepada anak-anak saja, justru akan memperparah bullying.

Tanamkan pemahaman kepada semua pihak bahwa bullying adalah perilakuyang tidak dapat diterima.

Sumber: Info-Sehat.Com

Artikel Kesehatan Lainnya...

Direktori Sekolah Info Beasiswa Solusi Pendidikan Promo Tahukah Kamu? Hiburan Tutorial Lowongan Iklan Baris