Benarkah Zat dalam Kecap Dapat Mengobati HIV?

15 Mei 2014 Artikel Kesehatan


Kecap, satu menu makanan sehari hari tentu tidak terlepas dari kehidupan kita. Tentu jadi hambar rasanya bila mengonsumsi sate, ayam kecap atau kambing guling tanpa kecap. Menu yang tersaji dengan dibumbui kecap, terasa lebih mantap serta buat ketagihan. Bahan dasar pembuatan kecap biasanya kedelai atau kedelai hitam, serta perasa asin dari garam serta manisnya dari gula-gula pilihan.

Kecap termasuk dalam penambah rasa yang sudah akrab dengan dunia kuliner kita. Siapa sangka jika cairan kental berwarna hitam ini ternyata juga berpotensi untuk mengobati HIV. Yamasa Corp, perusahaan Jepang yang sudah memproduksi kecap sejak tahun 1645 pada tahun 1988 mendirikan divisi penelitian pangan.

Salah satu risetnya adalah mengetahui bagaimana sistem imun tubuh merespon berbagai zat kimia dalam makanan. Kemudian pada tahun 2001 mereka mengumumkan sebuah penemuan besar, yakni EFdA, molekul dalam kecap yang bisa membuat rasa kecap lebih baik, berpotensi besar digunakan dalam pengobatan HIV.

EFdA (4'-etunil-2-fluoro-2'-deoxyadenosine), mirip dengan 8 jenis obat HIV yang sekarang ada di pasaran, yang bisa mencegah replikasi HIV.

Bahkan, EFdA mungkin bekerja lebih baik dibandingkan dengan tenofovir, antivirus yang bisa mengurangi jumlah HIV dalam darah. Orang dengan HIV yang mengonsumsi tenofovir seringkali mengalami kebal terhadap obat ini sehingga mereka perlu menggantinya dengan obat yang lebih kuat. Ini merupakan kekurangan tenofovir.

Baik tenofovir dan EFdA masuk dalam kelompok obat yang disebut NRTIs (nucleoside reverse transcriptase inhibitor). Obat jenis ini akan mencegah virus HIV memperbanyak diri. Salah satu keunggulan EFdA yang sudah diteliti adalah tidak gampang dipecah oleh hati dan ginjal seperti halnya tenofovir. Zat ini juga gampang diaktifkan oleh sel, sehingga lebih manjur.

"Dua alasan ini menjadikan EFdA lebih berkhasiat dibanding obat lain. Tugas kami saat ini adalah mengetahui fitur struktural sehingga bisa segera dibuat menjadi obat," kata Stefan Sarafianos, ahli virus dari Universitas Missouri, AS.

Oleh: Indra K
(Dikutip dari berbagai sumber)