Banyak Perusahaan Abaikan Kesehatan

2 Maret 2011 Artikel Kesehatan


JAKARTA - Target Indonesia untuk menurunkan angka kematian ibu dan angka kematian bayi tampaknya masih sulit dicapai. Penyebabnya, masih banyak perusahaan belum memenuhi hak kesehatan reproduksi di tempat kerja.

Dari 200.000 perusahaan di Indonesia, hanya 20 perusahaan yang menyelenggarakan pelayanan kesehatan reproduksi dengan baik, kata Menteri Kesehatan Endang Rahayu Sedyaningsih, Selasa (1/3), selesai menutup acara seminar bertema Kesehatan Reproduksi di Tempat Kerja.

Menteri Kesehatan mendesak para pengusaha agar segera memenuhi kewajiban sesuai Undang-Undang Nomor 36 Tahun 2009 tentang Kesehatan yang antara lain mengamanatkan pelaksanaan kesehatan reproduksi.

Seminar dihadiri oleh wakil pemerintah pusat dan daerah, wakil perusahaan, serikat pekerja, serta petugas dinas kesehatan dan puskesmas.

Kesehatan reproduksi menjadi isu penting karena angka kematian ibu (AKI) dan angka kematian bayi (AKB) di Indonesia masih tinggi. Dengan AKI 228 per 100.000 kelahiran hidup dan AKB 34 per 1.000 kelahiran hidup, Indonesia tertinggi di antara negara-negara anggota ASEAN. Dalam Tujuan Pembangunan Milenium (MDGs) ditargetkan, AKI 118 per 100.000 kelahiran dan AKB 24 per 1.000 kelahiran hidup.

Seiring dengan kebutuhan hidup yang semakin meningkat, jumlah perempuan yang masuk dunia kerja semakin banyak. Dari 105 juta pekerja di Indonesia, sebanyak 42 juta adalah perempuan. Lebih dari separuhnya, yaitu 25 juta, termasuk usia reproduktif, yaitu umur 15-45 tahun. Sebagian besar perempuan ini bekerja di sektor informal.

Dengan jumlah pekerja perempuan yang cukup besar itu, pengusaha harus segera menyediakan jaminan kesehatan bagi pekerja dengan manfaat menyeluruh, termasuk pelayanan kesehatan reproduksi. Kalau tidak mampu menyediakan sendiri, bisa bekerja sama dengan pihak ketiga, kata Endang.

Perusahaan juga harus memberi kemudahan kepada pekerja perempuan untuk mendatangi fasilitas pelayanan kesehatan, menyediakan tempat menyusui bayi atau tempat bagi pekerja perempuan untuk memerah air susu ibu (ASI) di tempat kerja.

Dampak negatif
Pengajar dari Departemen Ilmu Kedokteran Komunitas, Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia, Astrid Sulistomo, mengatakan, dampak industrialisasi membawa dampak negatif bagi perempuan, yaitu meningkatnya masalah kesehatan reproduksi.

Beberapa penelitian di Indonesia menunjukkan adanya peningkatan prevalensi gangguan daur haid pada pramugari dan siswa polisi perempuan setelah latihan fisik berat selama tiga bulan. Selain itu, ditemukan prevalensi anemia pada pekerja perempuan di sektor industri yang mencapai 60-77 persen.

Hasil penelitian salah satu mahasiswa pascasarjana UI bahkan menemukan tingginya angka keguguran spontan di sebuah perusahaan sepatu yang mencapai 14,67 persen-20,33 persen dari kehamilan di perusahaan itu per tahun. Penelitian dilakukan sepanjang tahun 2000-2003.

Penyebab keguguran, salah satunya adalah paparan bahan kimia yang digunakan di pabrik sepatu tersebut. Selain itu, posisi tubuh saat bekerja yang tidak nyaman bisa menjadi penyebab keguguran.
Banyak pengelola perusahaan kurang menyadari bahwa angka keguguran bukan hanya faktor ibu, tetapi juga karena faktor eksternal, termasuk kondisi tempat bekerja, kata Astrid.

Sumber: kompas.com