Bahaya Penyedap Rasa Buatan (MSG)

7 Februari 2014 Artikel Kesehatan


Makan tanpa penyedap? Hmm rasanya kurang pas. Tapi tahukah Anda, penggunaan penyedap berlebihan justru menghambat pertumbuhan anak.

MSG, di masyarakat kita sering disebut Vetsin, atau orang lebih kenal dengan "Micin". Penyedap rasa buatan yang sudah sangat lazim digunakan sebagai bumbu masakan. Bahkan tak sedikit yang menganggap tak akan sedap masakan itu tanpa micin.

Di Indonesia sudah beredar bermacam-macam merek "penyedap masakan". Kesemuanya mempunyai komposisi yang sama yaitu: Mono Sodium Glutamat (MSG) yang rumus kimianya HCOCCH (NH2) 2 COO-NA hasil campuran asam glutamat dan natrium Hidruksid (yang saterusnya penyedap makanan itu istilahnya disebut MSG).

Bahan yang paling penting untuk membuat MSG yaitu asam glutamat yang berupa asam amino yang ada pada tumbuhan, hewan, minyak bumi dan pada tubuh manusia. Pernah diberitakan bahwa asam glutamat itu dibuatnya dari otak babi. Hal ini sukar untuk dipercaya sebab tidak ekonomis, susah untuk membuatnya dan lagi asam asam glutamate yang ada di dalam otak babi itu hanya berkadar 0.01 %.

Di sini pabrik MSG membuat asam glutamat itu dari Melase (gula tetes), sisa gula tebu yang sudah tidak bisa menjadi kristal. Di negara yang tidak mempunyai tebu, asam glutamat itu dibuatnya dari ganggang, gulabit, gandum, kedelai, tapioka, minyak bumi atau sengaja membuatnya secara sintetis.

Selama empat dekade terakhir banyak penelitian telah dilakukan untuk menguji gagasan bahwa beberapa orang mungkin sensitif terhadap MSG. Namun, saat ini kebanyakan ilmuwan berpendapat bahwa jika terdapat reaksi seperti itu, sangatlah jarang hal itu sebagai akibat dari sensitivitas atau alergi terhadap MSG. Sementara itu, penelitian juga tidak menemukan pola gejala yang teratur yang merupakan reaksi khas terhadap MSG. Penelitian menemukan bahwa orang lebih cenderung memiliki gejala jika mereka mengkonsumsi kristal MSG dibandingkan jika mereka makan dalam jumlah yang sama dimana MSG bercampur dengan makanan.

Pada beberapa orang mengkonsumsi MSG dapat menimbulkan reaksi seperti berikut:

  • Sakit kepala
  • Flushing
  • Berkeringat
  • Wajah terasa tertekan dan sesak
  • Mati rasa, kesemutan atau terbakar di daerah wajah, leher dan daerah lain
  • Jantung berdebar-debar
  • Nyeri dada
  • Mual
  • Kelemahan


Selain itu, dilaporkan pula bahwa monosodium glutamat sering dikaitkan dengan masalah berat badan. Sebuah studi dilakukan pada lebih dari 750 pria dan wanita Cina yang berusia 40-59 tahun. Studi tersebut dilakukan untuk menentukan apakah terdapat hubungan sebab akibat antara makanan yang kaya MSG dan obesitas. Studi ini menemukan bahwa sepertiga dari mereka yang menggunakan MSG hampir tiga kali lebih berisiko mengalami kelebihan berat badan daripada mereka yang tidak menggunakan MSG.

Lalu, bagaimana mengatasi reaksi yang timbul akibat mengkonsumsi MSG?

Pengobatan terhadap reaksi akibat menggunakan MSG tergantung pada gejalanya. Namun, sebagian besar adalah kasus ringan dan tidak memerlukan pengobatan maupun menimbulkan masalah lebih lanjut.

Akan tetapi, jika terdapat gejala yang mengancam nyawa seperti nyeri dada, jantung berdebar-debar, sesak napas, pembengkakan tenggorokan, hal ini memerlukan perhatian medis segera. Gejala-gejala ini mungkin mirip dengan reaksi alergi berat lainnya dan memerlukan penanganan khusus.

Satu hal yang sudah nyata, MSG itu bisa menimbulkan gejala alergi atau keracunan yang disebut Chinese Restaurant Syndrome, pusing, mual, muntah-muntah, dan menimbulkan sakit pada daerah dada seperti yang terserang jantug.

Untuk itu, jangan terlalu mudah mencampurkan MSG kepada makanan, karena makanan kita, memakai bumbu tradisional pun sudah terasa enak. Mesti berhati-hati menggunakan MSG. Tidak boleh melebihi takaran yang sudah ditentukan yaitu 6 mg/kg berat badan manusia/sehari buat manusia dewasa. Anak kecil atau Ibu yang sedang mengandung, harus hati-hati supaya jauh dari pengaruh negatif. Dan hindari makanan/minuman yang mengandung pengawet, pewarna, esen, dan pemanis buatan.

Semoga bermanfaat!

Oleh: Ariyanti S
(Dikutip dari berbagai sumber)