Awasi Dampak Buruk Stres yang Berlebihan

8 Februari 2013 Artikel Kesehatan


Kita sudah tidak asing lagi mendengar yang namanya stres. Stres kerap kali terjadi dalam suatu kegiatan seperti bekerja, belajar dan kegiatan lain. Rasa stres terjadi karena suatu keinginan yang tidak terpenuhi atau suatu keinginan khawatir apabila tidak terpenuhi.

Pada jumlah tertentu stres bisa memberikan manfaat bagi tubuh. Tapi jika terjadi secara terus menerus merasa berada di bawah tekanan, cemas, tidak berdaya bisa membuat seseorang merasa letih dan berujung pada efek yang bisa membahayakan tubuh dan juga kesehatan seseorang.

Jika kita sering stres, maka harus menerima kenyataan yang buruk seperti dibawah ini:

1. Otak jadi menyusut

Penelitian menunjukkan stres seperti akibat kerjaan atau perceraian benar-benar bisa mengecilkan otak dengan mengurangi materi abu-abu di daerah yang terkait dengan emosi dan fungsi fisiologis. Hal ini penting karena perubahan pada daerah abu-abu di otak dapat menjadi sinyal masalah kejiwaan di masa depan.

2. Anak mengalami penuaan dini

Tekanan ekstrem yang dialami anak misalnya akibat kekerasan atau pelecehan sejak dini bisa menyebabkan sel-sel di tubuhnya mengalami penuaan dini.
Anak yang terintimidasi dan menjadi saksi atau korban kekerasan saat kecil memiliki telomere yang lebih pendek. Telomere pendek menjadi tanda terjadinya penuaan yang lebih cepat.

3. Membantu sel kanker bertahan hidup

Stres dapat membantu sel-sel kanker bertahan terhadap obat anti-kanker. Ketika mengalami stres, obat anti-kanker yang diberikan jadi kurang efektif dalam membunuh sel-sel kanker, dan sel ini tetap bisa bertahan hidup. Untuk itu manajemen stres penting bagi pasien kanker untuk meningkatkan hasil pengobatan.

4. Picu gejala depresi

Stres berperan dalam perkembangan depresi dan mempengaruhi perilaku, seperti mudah menyerah dan merasa sedih setiap waktu. Jika sudah terjadi depresi, maka perlu bantuan dokter dalam menanganinya.

5. Dapat mengancam kesehatan jantung

Merasa cemas dan stres dihubungkan dengan risiko 27 persen lebih tinggi terkena serangan jantung. Stres ini tidak hanya tingkatkan risiko serangan jantung, tapi juga mempengaruhi seberapa baik seseorang bisa bertahan setelah kena serangan jantung.
Jika seseorang stres maka risikonya 42 persen lebih tinggi untuk meninggal dalam waktu 2 tahun setelah dirawat akibat serangan jantung. Untuk itu apapun yang dilakukan usahakan agar bisa mengurangi stres karena stres dapat mengganggu kesehatan jantung di masa depan

6. Beresiko tinggi terkena stroke

Orang yang stres lebih mungkin memiliki risiko stroke lebih tinggi. Orang yang sering stres dan memiliki tipe perilaku A (sering merasa tegang, tidak sabaran dan agresif) berhubungan dengan risiko tinggi stroke, dan hal ini bisa terjadi pada pria atau wanita

7. Meningkatkan risiko penyakit kronis

Orang yang lebih tertekan dan cemas mengenai tekanan kehidupan sehari-hari cenderung lebih berisiko memiliki kondisi kesehatan kronis (gangguan jantung atau arthritis) dalam waktu 10 tahun mendatang, dibanding dengan orang yang menjalani hidup lebih santai.

8. Pilek makin memburuk

Stres memiliki dampak bagi sistem kekebalan tubuh yang membuat pilek jadi makin memburuk. Ini karena ketika seseorang stres, tubuh memproduksi hormon kortisol lebih banyak yang justru menjadi bencana bagi proses inflamasi di tubuh.
Ketika stres maka sistem kekebalan tubuh menurun, pada saat yang sama terkena tubuh terkena virus yang memicu respons inflamasi. Tapi sayangnya tubuh tidak memiliki mekanisme yang cukup untuk melawan sehingga terkena flu, pilek atau memperburuk kondisi.

9. Efek stres bisa diturunkan ke generasi berikutnya

Efek stres yang ada dalam gen seseorang bisa diwariskan dari generasi ke generasi, jadi tidak hanya berdampak pada orang itu sendiri tapi juga keturunannya. Sebelumnya efek gen ini dianggap terhapus pada generasi sebelumnya, tapi ternyata tidak, karena bisa menurun ke generasi berikutnya

Adalah hal yang menakutkan jika stres berlebihan seperti diatas. Untuk itu latihlah sifat sabar agar Anda tidak mudah emosi dan menyebabkan tercipyanya stres. Jika memang sulit untuk diredam, cobalah konsultasi dengan psikiater dalam mengurangi bahkan menghilangkan rasa stres tersebut.

(Dikutip dari berbagai sumber)