Awas! Alergi Si Kecil Bisa Meningkat Tiga Kali Lipat!

29 Februari 2012 Artikel Kesehatan


Resiko alergi pada si kecil meningkat tiga kali lipat dari sebelumnya. Alergi merupakan reaksi tubuh yang berlebihan terhadap benda asing di sekitarnya. Faktor penyebab alergi antara lain lingkungan, genetik, dan imunolosi (reaksi akibat kekebalan). Anak yang memiliki orangtua penderita alergi memiliki peluang lebih besar terkena hal yang yang sama. "Bakat alergi bisa diturunkan dari salah satu atau kedua orangtuanya," kata pakar alergi - imunologi anak Fakultas Kedokterab Universitas Indonesia - RSCM, DR. Dr. Zakiudin Munasir, SpA (k).

Ada beberapa tahapan yang perlu dilakukan untuk memastikan apakah si kecil terkena alergi. Pertama, periksa gejala yang timbul akibat kemungkinan alergi. Beberapa makanan berpotensi menimbulkan alergi, contohnya keju, susu, telur, kacang-kacangan dan makanan laut. Makanan ini tidak disarankan untuk si kecil yang berusia di bawah dua tahun.

Obat-obatan bayi yang mengandung antibiotik juga harus diwaspadai. "Kalau anak sering mendapat antibiotik, maka bisa memicu sensitifitas," ujar Dr. Zaki. Jika anak sudah menunjukkan gejala alergi, sebaiknya segera diberikan penanganan. Gejala fisik yang antara lain ditandai dengan gangguan pada hidung, tenggorokan, telinga, mata, saluran pencernaan, hingga kulit. Dampaknya anak akan terganggu kenyamanannya dan tidak bebas beraktifitas.

Selain makanan, binatang tertentu juga bisa menyebabkan munculnya alergi pada anak. Tawon, ngengat, dan kucing adalah contoh binatang penyebab alergi. Pada kucing, bulu dan air liurnyalah yang dapat memicu alergi. Anak kecil yang terkena sengat lebah kalau dibiarkan bisa menyebabkan penyakit ginjal.

Sebagai langkah pencegahan, bayi perlu diberikan nutrisi yang tepat. Ahli nutrisi, DR. Dr Luciana B Sutanto MS SpGK mengatakan ASI ekslusif sudah mecukupi kebutuhan bayi selama enam bulan. Kandungan lemak, protein, kalori, dan mineral dalam ASI sudah sesuai dengan kebutuhan bayi. Lepas enam bulan, mulailah bayi diberikan makanan pendamping (MPASI), sambil ibu tetap memberikan ASI. "Banyak yang salah kaprah mengartikannya menjadi makanan pengganti ASI. Sebaliknya, pada tahap ini ASI susah tidak mencukupi kebutuhan bayi," ujar Dr. Luciana.

Keluhan alergi terbanyak karena konsumsi susu sapi, baik yang terkandung pada susu formula ataupun susu segar. Gejala alergi muncul beberapa menit-jam usai minum susu sapi seperti mual, kulit gatal, bintik merah, bahkan muntah. Solusinya, anak bisa diberikan susu formula yang sudah terhidrolisasi yang sudah teruji. Susu dengan protein whey yang terhidrolisasi secara parsial terbukti mengurangi sifat alergenik pada susu sapi.

Sumber: kompas.com