Arsenik Berpotensi Menjadi Obat Leukemia

12 April 2010 Artikel Kesehatan


Arsenik, racun favorit sejak zaman Romawi, ternyata bisa bekerja mengahancurkan protein spesifik dalam sel kanker darah atau leukemia. Para ilmuwan dari Cina merasa yakin, arsenik memliki potensi besar menjadi obat kanker di masa depan.

"Hasil penelitian kami menunjukan bagaimana arsenik langsung menuju protein target dan membunuhnya," kata ketua peneliti Zhang Xiaowei dari State Key Laboratory of Medical Genomics, Shanghai, China.

Kelebihan lain dari arsenik, tambah Zhang, adalah tidak menimbulkan efek samping seperti halnya kemoterapi. "Tidak ada efek rambut rontok atau gangguan fungsi tulang. Karena itu kami tertarik untuk mendalami apakah arsenik juga bisa dipakai pada jenis kanker lain," katanya.

Senyawa arsenik merupakan racun yang mematikan karena tidak berbau, tidak berasa dan larut dalam air sehingga sulit dideteksi. Apalagi, gejala keracunannya mirip orang yang mengalami gangguan pencernaan biasa, yaitu muntah-muntah, diare dan keringat berlebih.

Di Cina, arsenik memiliki dua fungsi, selain sebagai zat racun, sejak ribuan tahun lalu arsenik juga dimanfaatkan sebagai bagian dari pengobatan tradisional Cina.
Pada tahun 1992, sejumlah dokter di Cina melaporkan arsenik mampu menyembuhkan 90 persen penyakit leukimia akut. Akan tetapi saat itu belum bisa dijelaskan bagaimana cara kerja arsenik sampai kemudian Zhang dan timnya menggunakan teknologi modern untuk mengetahuinya.

Dalam laporan yang dipublikasikan dalam jurnal Science, Zhang dan timnya, termasuk Menteri Kesehatan Cina Chen Zhu, menjelaskan bagaimana peralatan modern yang canggih mampu melihat cara kerja arsenik dalam mencari sel kanker.

"Hal ini menunjukkan bagaimana teknologi Barat bisa dipakai membuka misteri pengobatan tradisional Cina," kata Zhang.

Kendati belum semua dokter di dunia merekomendasikan penggunaan arsenik untuk mengobati leukimia akut, namun menurut Zhang di Cina tingkat harapan hidup pasien leukimia sangat tinggi, yakni mencapai lima tahun.

Penulis: AN/Editor: acandra

Sumber: Reuters (kompas.com)