Anda Termasuk Penikmat Makanan yang Emosional?

15 Oktober 2010 Artikel Kesehatan


Gaya hidup cenderung tak sehat pada masa ini turut membuat gaya kita dalam mengonsumsi makanan pun berubah. Kini, semakin banyak saja orang yang cenderung makan bukan karena merasa lapar, melainkan hanya karena ingin menuruti emosinya.

Dengan bantuan ahli kesehatan Nimisha Tiwari, kita akan mengetahui cara mengenal, mengecek, dan mengatasi gaya makan yang semakin ngetren ini sehingga kita juga dapat mengintrospeksi diri, apakah kita termasuk golongan pemakan yang emosional.

Sama halnya seperti obesitas, pemakan emosional (emotional eater/EE) merupakan penanda adanya kelainan pada kesehatan kita. Baik pria maupun perempuan bisa mengalami hal ini. Bila tak disadari, dalam jangka panjang, makan dengan emosi dapat menyebabkan gangguan kesehatan dengan memengaruhi tekanan darah, kadar gula dalam darah, dan berat badan yang naik-turun.

Menurut para ahli, cara paling ideal untuk mengenali gejala ini yakni kita harus sadar apakah kita makan untuk merespons perasaan sendiri. Biasanya itu terjadi saat kita sebenarnya tidak merasa lapar, tapi hanya ingin memakan sesuatu. Itu berarti kita telah tergolong EE.

Biasanya pula, EE akan lebih memilih makanan yang kurang bergizi, sayuran merupakan pilihan terakhir. Padahal, makan untuk merespons perasaan, tak akan mengurangi atau meredakan perasaan tersebut seperti stres. Adapun kegiatan yang seharusnya dilakukan untuk menghilangkan perasaan tersebut adalah dengan banyak beraktivitas seperti berolahraga atau bisa juga dengan mengobrol. Kecenderungan menjadi EE bahkan bisa lebih besar pada masyarakat perkotaan karena akses yang terbilang cepat dan mudah dalam mendapatkan makanan.

Mari kita introspeksi diri sendiri. Perhatikanlah ketika Anda merasa marah, stres, depresi atau bahkan sedang senang, apakah Anda langsung mencari makanan? Bila tak tahu, coba tanya orang disekitar Anda, merekalah yang tentu mengetahui kebiasaan Anda sehari-hari. Makanan yang disukai EE memang tak melulu yang terbilang kurang sehat seperti gorengan atau cokelat. Makanan apa pun yang tergeletak di meja makan juga menjadi sasaran EE. Faktanya, sebagian besar orang bahkan berupaya mengusir kebosanan dengan memeriksa isi kulkas.

Bila telah menyadari bahwa Anda termasuk pemakan yang emosional, tenang ada cara untuk mengubahnya. Hal pertama yang mesti dilakukan adalah menemukan pengganti. Singkirkan semua makanan tak sehat dari meja makan dan meja kerja Anda. Ganti dengan yang bergizi seperti buah, kacang, dan jus. Penuhi pula perut Anda dengan air sehingga tak cepat merasa lapar. Bila hal itu, tetap tak berhasil, coba telepon sahabat Anda untuk sekadar berbincang-bincang. Dengan begitu, emosi dan perhatian Anda terhadap makanan akan teralihkan. Bila memungkinkan ajak teman untuk mengikuti kegiatan di luar seperti ke gym.

Sumber: mediaindonesia.com