Anak Usia 9 Tahun Pun Bisa Menolong

11 Agustus 2009 Artikel Kesehatan


Siapa dapat menduga kapan terjadinya kecelakaan atau bencana? Untuk itu,bekal pengetahuan dan keterampilan menolong orang dalam kondisi darurat hendaknya diajarkan sejak dini.

Penyebab pasti kematian sang raja pop Michael Jackson hingga kini masih menjadi misteri yang terus diselidiki.Kendati tidak sesanter isu pembunuhan, salah satu kabar yang sempat mengemuka perihal penyebab kematian sang pelantun Heal The World itu adalah kesalahan dokter dalam melakukan cardiopulmonary resuscitation (CPR).

CPR merupakan salah satu prosedur bantuan hidup dasar (BHD) yang vital bagi orang yang mengalami henti napas atau detak jantung. Kecelakaan bisa datang kapan pun tanpa terduga.Bayangkan, suatu ketika Anda mendapati anak Anda tenggelam di kolam renang di rumah misalnya. Panik itu sudah pasti, tapi apa yang harus dilakukan setelah si anak diangkat ke permukaan?

Jika Anda tidak tahu apa-apa, mungkin hanya bisa kebingungan dan teriak minta tolong.Padahal,si kecil harus segera ditolong,karena jika tidak sadar dan lewat tiga menit tidak mendapat oksigen bisa menyebabkan kerusakan otak atau berujung kematian. Dalam dunia medis atau kasus kedaruratan, ada istilah rules of 3.

Artinya, kemungkinan kematian akan terjadi ketika seseorang tiga menit kehabisan oksigen, tiga jam kehilangan darah dari pembuluh darah besar, tiga hari kekurangan cairan,atau tiga pekan kekurangan makanan, kata staf manajemen risiko Rumah Sakit Pusat Pertamina (RSPP) Jakarta,Yayat Supriyatna SKp Mkes.

Pernyataan Yayat menyiratkan pentingnya setiap orang untuk memiliki pengetahuan dan keterampilan penanganan kedaruratan.Pasalnya, nasib penderita gawat darurat ditentukan tiga hal, yaitu kecepatan ditemukan; kecepatan minta dan diberi pertolongan; serta kecepatan kualitas dan kuantitas si penolong.

Adapun keadaan darurat atau sakit yang dapat mengakibatkan kematian di antaranya kegagalan sistem otak, napas dan jantung (menyebabkan kematian dalam 46 menit), serta kegagalan sistem hati, ginjal, dan pankreas (mengakibatkan kematian beberapa waktu kemudian). Anda mungkin bukan dokter.

Tapi dengan memiliki keterampilan BHD,siapa tahu Anda bisa menjadi perantara tangan Tuhan dalam menyelamatkan nyawa seseorang. Di Austria, anak-anak usia sekolah dasar bahkan sudah mampu melakukan CPR. Peneliti Austria membuktikannya melalui studi yang dilakukan terhadap 147 anak yang telah mengikuti pelatihan bantuan hidup dasar selama enam jam.

Hasilnya, sebanyak 86 dari anak-anak tersebut mampu mempraktikkan prosedur CPR dengan tepat. Pada keterangan pers yang diterbitkan dalam jurnal online Critical Care, Dr Fritz Sterz dari Medical University of Vienna, mengungkapkan bahwa selama ini pemberian pelatihan CPR di sekolahsekolah dipertanyakan efektivitasnya, dengan dalih anak-anak secara fisik dan kognitif belum mampu menerima pembelajaran yang rumit seperti halnya CPR.

Nyatanya, anak usia sembilan tahun pun sudah bisa mempraktikkan CPR dengan sukses dan efektif sesuai keterampilan bantuan hidup dasar yang diajarkan, ujarnya. Pada program pelatihan tersebut, anak-anak diajarkan prosedur CPR, bagaimana menggunakan alat kejut jantung (defibrillator) otomatis, bagaimana posisi yang tepat, serta bagaimana prosedur untuk menelepon petugas layanan kedaruratan sesegera mungkin.

Anak-anak usia SD sudah mampu membayangkan dan mempelajari prosedur CPR, sehingga program pelatihan CPR dapat diterapkan secara efektif kepada anak-anak SD pada semua level kelas,tandas Sterz.

Cepat, Tepat dan Akurat

Apa yang harus dilakukan saat menemukan kedaruratan? Utamanya ada keinginan untuk membantu korban, baik dengan cara mencari pertolongan atau bantuan, memberikan BHD, maupun menghubungi sentra telepon darurat.

Di samping itu, diperlukan pengelolaan keadaan darurat yang baik guna mencegah kerugian lebih besar, misalnya dengan berpikir kritis. Berpikir kritis merupakan keterampilan dasar setiap manusia dalam mempraktikkan cara berpikirnya. Dalam hal ini,yang diharapkan adalah berpikir preventif dan progresif untuk mencegah kejadian lebih buruk,kata Yayat.

Penanggulangan kedaruratan yang cepat,tepat,dan akurat merupakan hak hidup setiap orang,dan ini memerlukan pemikiran kritis. Berpikir kritis adalah berpikir rasional, masuk akal, dan terfokus. Ini diperlukan dalam kehidupan sehari-hari, termasuk saat terjadi kedaruratan atau bencana yang memerlukan putusan cepat.

Hal lain yang juga harus diperhatikan adalah keselamatan si penolong itu sendiri. Lakukan penilaian awal apakah kondisi sudah cukup aman bagi penolong? Jangan sampai si penolong ikut menjadi korban.Kendati niatnya mulia, keselamatan penolong tetap yang utama.

Sebagai contoh, pada kasus menolong korban kebakaran,lakukan penilaian awal dengan cepat. Kalau kebakaran disebabkan listrik, terlebih dulu putuskan aliran listriknya. Begitu pun saat ada orang yang pingsan akibat kejatuhan dahan pohon. Sebelum menolong, amati dulu siapa tahu masih ada dahan lain yang akan jatuh lagi.

Lantas, apa yang dimaksud dengan BHD? Konsepnya sederhana dan tidak memerlukan peralatan khusus.Melalui latihan bersama instruktur yang berkompeten, semua orang pasti bisa melakukannya. Intinya adalah teknik sederhana yang dilakukan ketika mendapati korban kecelakaan atau kondisi kedaruratan, baik kedaruratan napas, kedaruratan jantung, maupun kedaruratan shock, perdarahan dan fraktur (keretakan tulang).

BHD untuk berbagai kasus kedaruratan tersebut secara teknis mungkin berbeda-beda,tapi mekanisme urutannya sama, yaitu dirumuskan dengan ABC yang meliputi: airway (jalan napas), breathing (bantuan napas),dan circulation (bantuan sirkulasi). Bila Anda menemukan korban yang tampaknya tidak dasar, pastikan apakah korban betul-betul tidak sadar.

Caranya adalah dengan mencoba membangunkannya seperti bila kita membangunkan orang yang sedang tidur (panggil, tepuk atau guncang perlahan) untuk menilai ada respons atau tidak. Amati juga apakah ada tanda-tanda korban bernapas.Bila korban ternyata sadar dan ada respons, jangan lakukan BHD karena akan menyakiti.

Namun jika tidak ada respons, mintalah pertolongan orang lain untuk menghubungi rumah sakit atau pertolongan medis segera. Sebab,si penolong tidak bisa hanya sendirian melakukan pertolongan. Kendati kondisi fisik penolong masih kuat, setelah lebih dari 10 menit, umumnya kualitas pertolongan menurun. (inda s/healthday)

Sumber: Seputar-indonesia.Com