Alasan Kenapa Anak Butuh Seorang Sahabat

14 Januari 2017 Artikel Kesehatan


Sebuah riset terbaru menunjukkan, kehadiran seorang sahabat ternyata dapat membantu setiap individu melupakan setiap pengalaman buruk yang pernah dialami, khususnya pada anak-anak.

Dalam sebuah riset yang dipublikasikan jurnal Developmental Psychology, peneliti melibatkan sebanyak 55 anak laki-laki dan 48 perempuan dari kelas 5 dan 6 di Montreal Kanada. Para peneliti merekam perasaan dan pengalaman mereka dalam sebuah jurnal selama empat hari. Peneliti juga tidak lupa mengukur tingkat hormon kortisol (hormon stres) pada anak-anak yang dipantau melalui tes air liur secara teratur.

"Mempunyai seorang sahabat di saat mengalami masa-masa yang tidak menyenangkan dapat berdampak langsung pada tubuh dan pikiran anak," kata William Bukowski, seorang profesor psikologi dan direktur di Pusat Penelitian Perkembangan Manusia di Concordia University, Montreal.

"Jika seorang anak sendirian ketika mendapatkan masalah dengan guru atau berselisih paham dengan teman sekelas, kami melihat adanya peningkatan yang terukur terkait tingkat hormon kortisol dan penurunan rasa harga diri," tambahnya

Peneliti menemukan bahwa kortisol akan meningkat dan harga diri cenderung menurun ketika seorang anak mengalami pengalaman negatif. Namun, dengan kehadiran sahabat di masa sulit, kadar kortisol dan perasaan rendah diri mengalami penurunan.

Para peneliti mencatat bahwa apa yang terjadi selama masa kanak-kanak dapat mempengaruhi ketika seseorang memasuki usia dewasa, termasuk dalam kaitannya dengan perasaan rendah diri.

"Reaksi fisiologis dan psikologis akan memberikan pengalaman negatif kepada anak-anak di kemudian hari," jelas Bukowski dalam rilis berita.

"Sekresi kortisol yang berlebihan dapat menyebabkan perubahan fisiologis yang signifikan, termasuk penurunan kekebalan dan pembentukan tulang. Stres yang tinggi benar-benar dapat memperlambat perkembangan anak," jelasnya.

Riset sebelumnya juga menunjukkan bahwa memiliki persahabatan dapat membantu melindungi orang dari intimidasi, pengucilan dan berbagai bentuk agresi.

Sumber: healthdaynews, kompas.com