Ahli Mikrobiologi, Detektifnya Sumber Penyakit

20 Desember 2011 Artikel Kesehatan


Pada tahun 1943, para dokter dan staf di laboratorium mikrobiologi Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia (FKUI) dipenjara oleh pemerintah kolonial Belanda. Mereka dicurigai menyebarkan virus kolera sehingga menyebabkan kejadian luar biasa dan juga membunuh ratusan tentara Belanda.

"Waktu itu ada satu stok bakteri yang hilang dari laboratorium ini. Semua dokter dan staf di sini langsung ditangkap karena yang punya contoh bakteri ini cuma laboratorium ini," papar Prof.Usman Chatib Warsa, Sp.MK, pakar mikrobiologi dari FKUI dalam acara media edukasi di Jakarta, Senin (19/12/2011), mengenai peran ilmu mikrobiologi.

Ia menjelaskan, pada awalnya pemerintah Belanda membangun laboratorium mikrobiologi ini untuk melengkapi Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia, Rumah Sakit Cipto Mangunkusumo (RSCM), serta lembaga penelitian Eijkman. "Awalnya ini dibangun untuk pemberantasan penyakit menular di masa itu, yakni cacar dan diare," katanya.

Peran laboratorium mikrobiologi, menurut Usman, sangat penting dalam penatalaksanaan penyakit infeksi, termasuk pencegahan dan pengendalian resistensi mikroba terhadap antibiotik.

"Mikrobiologi dulu identik dengan mencari penyebab infeksi. Makanya, kami ini seperti Sherlock Holmes, seperti detektifnya penyakit," kata mantan Rektor Universitas Indonesia periode tahun 2002-2007 ini.

Ilmu mikrobiologi, lanjut Usman, bukan hanya mencari mikroba dari spesimen manusia tapi juga dari lingkungan. "Kami sering melakukan pencarian sumber infeksi yang terjadi di rumah sakit terutama ruang ICU," katanya.

Laboratorium mikrobiologi yang dimiliki fakultas kedokteran, menurut dia bukan hanya bertugas melakukan pencarian sumber infeksi tapi juga melakukan riset-riset. "Yang membedakan dengan laboratorium lain adalah kami selalu melakukan riset," katanya.

Menurut dr.Anis Kurniawati, Sp.MK, ketua departemen Laboratorium Mikrobiologi FKUI, dalam sejarahnya laboratorium mikrobiologi ini pernah menjadi pusat rujuan nasional oleh WHO untuk kasus influenza di tahun 1960-an.

"Ketika merebak kasus flu burung, laboratorium ini juga menjadi rujukan untuk pengujian spesimen. Selain itu, kini kami juga bekerjasama dengan pemerintah Jepang dan Bio Farma untuk mengembangkan vaksin dengue," katanya.

Selain itu, saat ini WHO juga telah menetapkan 5 laboratorium sebagai layanan standar pemeriksaan tuberkulosis di Indonesia, yakni di FKUI, RS.Persahabatan, laboratorium mikrobiologi di Bandung, Surabaya, serta Universitas Hasanuddin, Makassar.

Interpretasi seorang pakar mikrobiologi dalam menilai proses dan penilaian hasil pemeriksaaan merupakan hal yang penting dalam membuat diagnosis akurat terutama pada kasus-kasus yang berkomplikasi dan sudah lanjut.

Sumber: kompas.com