1/5 Kematian Balita Akibat Pneumonia

5 November 2009 Artikel Kesehatan


Kepala Divisi Respirologi Bagian Ilmu Kesehatan Anak Fakultas Kedokteran Universitas Padjadjaran Bandung Profesor Cissy Kartasasmita mengatakan pneumonia berisiko tinggi pada anak-anak dibawah lima tahun atau balita terutama yang dibawah usia dua tahun.

"Pneumonia berisiko tinggi pada anak balita terutama anak dibawah dua tahun, tidak mendapat ASI eksklusif, anak dengan gizi buruk, yang biasanya memiliki sistem imun yang lemah, serta anak terkena asap rokok serta polusi di dalam ruangan ,kata Profe Cissy Kartasasmita dalam keterangannya kepada pers di Jakarta, Kamis (5/11).

Cissy mengatakan pula bahwa pneumonia berpeluang terjadi pada anak dengan penyakit kronik tertentu seperti asma, bronkitis, diabetes melitus hingga HIV-AIDS.

Ia menjelaskan masalah penyakit pneumonia ini sehubungan dengan peringatan ' Hari Pneumonia Dunia" atau "World Pneumonia Day(WPD) yang berlangsung pada tanggal 2 November.

Tumbuhkan Kesadaran

Sementara itu Ketua Umum Pengurus Pusat Ikatan Dokter Anak Indonesia(IDAI) dr Badriul Hegar mengemukakan pencanangan Hari Pneumonia Dunia bertujuan untuk menumbuhkan kesadaran semua pihak, baik pemerintah maupun masyarakat tentang pneumonia .

"Penyakit pneumonia merupakan masalah kesehatan masyarakat khususnya balita yang memerlukan perhatian bersama agar angka kesakitan dan kematiannya dapat diturunkan," kata dokter Hegar.

Pneumonia adalah penyakit radang infeksi akut yang mengenai paru-paru. Pneumonia disebabkan oleh kuman(mikroba, jasad renik) yang masuk ke dalam paru, kemudian berbiak sehingga menimbulkan kerusakan pada jaringan paru. Banyak kuman yang dapat mengakibatkan pneumonia. Selain itu, virus dan jamur juga dapat mengakibatkn munculnya pneumonia.

Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) menyebutkan bahwa seperlima dari kematian bayi terutama di negara-negara berkembang disebabkan oleh pneumonia. WHO menjelaskan bahwa upaya mengatasi penyakit ini belum maksimal , sehingga menyebutnya sebagai "pembunuh anak-anak yang terlupakan atau forgotten killer of children".

Cissy Kartassamita menjelaskan bahwa penyakit ini biasanya diawali oleh gejala infeksi saluran pernapasan atas akut berupa demam, yang disertai batuk. "Bila sakit berlanjut , maka akan timbul napas cepat yang menandakan anak kemungkinan besar mengalami pneumonia. Gejala yang lebih berat berupa sesak napas.

Jika menjumpai anak yang batuk dan kemudian napasnya menjadi cepat apalagi sesak napas maka harus segera mencari pertolongan medis," kata Cissy Kartasamita.

Imunisasi yang merupakan cara penanggulangan yang paling efektif, namun ternyata cakupannya masih terbatas atau kecil, seperti DPT dan Campak. ant/rin

Sumber: Republika Online