Wapres Minta Pembangunan Karakter Dimulai dari SD dan SMP

22 Juni 2010 Berita Pendidikan


Jakarta -Wakil Presiden Boediono meminta pembangunan karakter bangsa difokuskan pada anak usia Sekolah Dasar dan Sekolah Menengah Pertama (SMP). Boedion. Dia juga meminta alat mencapai sasaran kebudayaan dan kesenian dilakukan secara cermat. "Akhirnya demi mudahnya operasional kami fokuskan ke SD dan SMP," kata Boediono dalam Seminar Peran Kebudayaan dalam Membangun Karakter Bangsa di gedung Sapta Pesona, Senin (21/6).

Dalam acara ini, hadir Menteri Koordinator Kesejahteraan Rakyat Agung Laksono dan Menteri Kebudayaan dan Pariwisata Jero Wacik. Boediono berharap acara ini dapat menampung masukan, saran dan pandangan dari ahli pendidikan dan kebudayaan.
"Acara ini dapat menyampaikan dan merumuskan dialog dalam langkah-langkah yang operasional," kata Boediono. "Saya yakin para tokoh bidang kebudayaan yang hadir ini akan berikan saran dan pandangan terbaik." Sehingga nantinya, dapat dirumuskan dalam program yang konkret.

Menurut Boediono, masalah karakter bangsa merupakan hal yang penting dan menjadi salah satu konsentrasi pemerintah. Dia melanjutkan hal itu didasari sejumlah alasan, yaitu beberapa tahun terakhir ini perlu adanya pemantapan nilai-nilai moral dan adanya nilai dan semangat patriotisme yang semakin memudar. Globalisasi telah mengakibatkan jati diri bangsa mulai pupus.

Fokus pembangunan karakter ini akan melibatkan seluruh aspek tidak hanya kebudayaan dan kesenian. "Tentu tidak hanya difokuskan ke satu sisi saja, ada pendidikan, agama bahkan pembangunan kemampuan," katanya. Namun, dia meminta dalam diskusi ini tidak dibenturkan dengan modernitas. "Budaya bukan suatu hal yang tidak berubah, tapi prinsip-prinsip dasar, nilai dasar yang kita punya." Boediono berharap dialog tidak selesai pada seminar ini.

Boediono juga berkomentar budaya pop dan budaya tinggi. Tujuan pemerintah, kata dia, mengembangkan kebudayaan untuk dinikmati oleh semua pihak termasuk anak muda kita. Jadi tidak mungkin konfrontasikan budaya nilai tinggi yang ekslusif dengan budaya yang menyangkut banyak orang. "Kita tidak bisa konfrontasikan budaya tinggi dengan budaya pop. Budaya tinggi juga harus disebarkan dan dirasakan masyarakat luas," ujarnya. Sehingga, perlu adanya dicari cara-cara terbaik. "Jadi jangan dengan cara-cara yang mereka tidak mengerti."

EKO ARI WIBOWO

Sumber: tempointeraktif.com