Unas Gelar Tes Narkoba Lewat Sampel Rambut

17 April 2012 Berita Pendidikan


JAKARTA - Tak ada tempat untuk narkoba di kampus. Semangat inilah yang digenggam oleh 200 orang yang tergabung dalam sivitas akademika Universitas Nasional (Unas) untuk mengikuti tes uji narkoba oleh Badan Narkotika Nasional (BNN).

Rektor Unas El Amry Bermawi Putera mengatakan, pelaksanaan uji narkoba ini merupakan implementasi kerja sama antara Unas dan BNN yang sudah terjalin sekian lama. Kegiatan ini dilakukan juga dalam rangka menciptakan generasi muda bebas narkoba, serta pelaksanaan kebijakan Kemendikbud melalui Kopertis untuk memberantas narkoba sesuai dengan program pemerintah.

"Karena hingga saat ini baru ada tiga PTN dan PTS yang melaksanakan kebijakan tersebut dari 385 PT yang ada di wilayah III Jakarta, yaitu UPH, Trisakti, dan Unas," ujar El Amry kepada Kompas.com di Jakarta, Senin (16/4/2012).

Tes yang dilaksanakan di kampus Unas, Pejaten, Pasar Minggu, Kamis (12/4/2012) lalu itu diawali dengan pengambilan sampel rambut ketua yayasan, rektor, para wakil rektor, serta karyawan hingga mahasiswa yang dipilih secara acak.

"Kami punya memiliki komitmen bersama untuk berperang melawan narkoba. Narkoba tidak boleh dibiarkan merajalela, dan kami sangat mendukung program pemerintah, khususnya BNN untuk memberantas narkoba di berbagai tempat, mulai dari kantor pemerintah, penjara, hingga perguruan tinggi," ungkapnya.

Untuk itu, Unas juga melakukan beberapa langkah konkret, antara lain melakukan seleksi ketat kepada calon mahasiswa yang akan menjadi mahasiswa dengan melakukan tes kesehatan, termasuk di dalamnya tes narkoba. Peraturan ketat dan konsekuensi tegas itu juga diberikan bagi mahasiswa yang terbukti mengonsumsi narkoba.

"Kami sudah membentuk tim antinarkoba dan minuman keras atau Anarmuna Universitas Nasional sejak tahun 2009 lalu. Kami tak punya ruang bagi narkoba di lingkungan kampus. Tutup semua akses masuk untuk narkoba di perguruan tinggi," tegas El Amry.

Pada tes uji narkoba kali ini, BNN memperkenalkan metode baru berupa pengambilan sampel rambut. Metode baru ini diklaim bisa mengetes konsumsi narkoba hingga minuman keras dari penggunanya sehingga BNN tengah gencar mempromosikan metode ini kepada masyarakat, termasuk pihak perguruan tinggi. Dibandingkan dengan tes uji narkoba menggunakan urine yang hanya mampu bertahan 12 jam setelah pelaku menggunakan obat terlarang, pengambilan sampel rambut dapat mendeteksi penggunaan narkoba dan konsumsi minuman keras hingga tiga bulan ke belakang.

"Artinya, pengguna yang mengonsumsi narkoba ataupun minuman terlarang tiga bulan sebelum tes masih bisa terdeteksi dengan penggunaan sampel rambut ini," ujarnya.

Sumber: mediaindonesia.com