UN sebagai Pemetaan, Mana Buktinya?

30 April 2010 Berita Pendidikan


Selama ini pemerintah selalu mengatakan bahwa ujian nasional sebagai alat pemetaan, terutama terhadap daerah-daerah yang dianggap prestasinya kurang. Nyatanya, banyak daerah yang tidak lulus dan sangat parah angka kelulusannya. Lalu, di mana hasil pemetaannya selama ini?

Demikian ditegaskan oleh aktivis pendidikan dari Education Forum (EF) Suparman kepada Kompas.com di Jakarta, Kamis (29/4/2010). Menurut dia, jika dilihat dari konsistensi dibuatnya kebijakan UN itu sendiri, merosotnya kelulusan siswa pada UN tahun ini menunjukkan inkonsistensi pemerintah dalam memperbaiki kebijakan pendidikan itu sendiri.

"Karena, selama ini pemerintah selalu bilang UN sebagai alat pemetaan, bukan kelulusan. Nyatanya, intervensi pemerintah untuk perbaikan tidak membuktikan apa-apa, terbukti banyak daerah yang nilainya merosot. Jadi, di mana hasil pemetaannya selama beberapa tahun digelarnya UN?" kata Suparman.

Untuk itu, lanjut Suparman, sebaiknya persoalan kelulusan disederhanakan, yaitu diserahkan kepada sekolah melalui nilai-nilai semester atau rapor. UN, lanjut Suparman, cukup dijadikan sebagai pemetaan yang terintegrasi karena hal itu sekaligus juga memudahkan perguruan tinggi negeri (PTN) mendapatkan mahasiswa tanpa harus mengait-ngaitkan dengan UN.

"Katanya UN hanya sebagai salah satu dari empat syarat kelulusan. Nyatanya, melihat ada siswa yang diterima di PTN, tetapi gagal akibat tidak lulus UN, rasanya makin rancu tujuan adanya UN ini," kata Suparman.

"UN telah memveto ketiga syarat lainnya, yaitu proses belajar sudah bagus, nilai akhlak baik, ujian sekolah lulus semua. Tapi, hanya lantaran salah satu mata pelajaran di UN saja siswa gagal, siswa itu dianggap tidak lulus sekolah. Lho, jadi buat apa ada syarat lainnya?" tambahnya.

Penulis: LTF/Editor: latiefSumber: Kompas.Com